Mempelajari Ilmu Laduni dengan Mukasyafah dan Musyahadah

Ilmu kasyaf atau yang lebih dikenal dengan ilmu laduni (ilmu batin) tidaklah asing ditelinga kita, lebih – lebih lagi bagi siapa saja yang sangat erat hubungannya dengan tasawuf beserta tarekat-tarekatnya. Kata sebagian orang: “Ilmu ini sangat langka dan sakral. Tak sembarang orang bisa meraihnya, kecuali para wali yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat. Sehingga jangan sembrono untuk buruk sangka, apalagi mengkritik wali-wali yang tingkah lakunya secara dhahir menyelisihi syariat. Wali-wali atau gus-gus itu beda tingkatan dengan kita, mereka sudah sampai tingkatan ma’rifat yang tidak boleh ditimbang dengan timbangan syari’at lagi”. Benarkah demikian? Inilah topik yang kita kupas pada kajian kali ini.

Hakikat Ilmu Laduni

Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.

Ini bukan suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.

Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin 1/11-12 berkata: “Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “. Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”. (Jamharatul Auliya’: 155)

Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28)

Ibnu Arabi berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kimat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” (Rasa’il Ibnu Arabi hal. 4)

Dedengkot wihdatul wujud ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.


Ilmu Laduni Dan Dampak Negatifnya Terhadap Umat

Kaum sufi dengan ilmu laduninya memiliki peran sangat besar dalam merusak agama Islam yang mulia ini. Dengannya bermunculan akidah-akidah kufur -seperti diatas – dan juga amalan-amalan bid’ah. Selain dari itu, mereka secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam kasus pembodohan umat. Karena menuntut ilmu syar’i merupakan pantangan besar bagi kaum sufi. Berkata Al Junaidi: “Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, karena dengan begitu ia bisa lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3/135)

Abu Sulaiman Ad Daraani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits atau bersafar mencari nafkah atau menikah berarti ia telah condong kepada dunia”. (Al Futuhaat Al Makiyah 1/37)

Berkata Ibnul Jauzi: “Seorang guru sufi ketika melihat muridnya memegang pena. Ia berkata: “Engkau telah merusak kehormatanmu.” (Tablis Iblis hal. 370)

Oleh karena itu Al Imam Asy Syafi’i berkata: “Ajaran tasawuf itu dibangun atas dasar rasa malas.” (Tablis Iblis:309)

Tak sekedar melakukan tindakan pembodahan umat, merekapun telah jatuh dalam pengkebirian umat. Dengan membagi umat manusia menjadi tiga kasta yaitu: syariat, hakekat, dan ma’rifat, seperti Sidarta Budha Gautama membagi manusia menjadi empat kasta. Sehingga seseorang yang masih pada tingkatan syari’at tidak boleh baginya menilai atau mengkritik seseorang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat atau hakekat.

Syubhat-Syubhat Kaum Sufi Dan Bantahannya

1. Kata laduni mereka petik dari ayat Allah yang berbunyi:

وَعَلَمَّنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65)

Mereka memahami dari ayat ini adanya ilmu laduni sebagaimana yang Allah anugerahkan ilmu tersebut kepada Nabi Khidhir. Lebih anehnya mereka meyakini pula bahwa Nabi Khidhir hidup sampai sekarang dan membuka majlis-majlis ta’lim bagi orang-orang khusus (ma’rifat).

Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum muslimin, wajibnya beriman kepada nabi-nabi Allah tanpa membedakan satu dengan yang lainnya dan mereka diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Nabi Khidhir diutus untuk kaumnya dan syari’at Nabi Khidhir bukanlah syari’at bagi umat Muhammad. Rasulullah bersabda:

كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Nabi yang terdahulu diutus khusus kepada kaumnya sendiri dan aku diutus kepada seluruh umat manusia” (Muttafaqun ‘alaihi)

Allah berfirman (artinya):

“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan”. (As Saba’: 28)

Adapun keyakinan bahwa Nabi Khidhir masih hidup dan terus memberikan ta’lim kepada orang-orang khusus, maka bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman (artinya): “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). (Al Anbiya’: 34)

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَنْفُوْسَةٍ اليَوْمَ تَأْتِيْ عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ يَوْمَئِذٍ حَيَّةٌ

“Tidak satu jiwapun hari ini yang akan bertahan hidup setelah seratus tahun kedepan”. (H.R At Tirmidzi dan Ahmad)

Adapun keyakinan kaum sufi bahwa seseorang yang sudah mencapai ilmu kasyaf, akan tersingkap baginya rahasia-rahasia alam ghaib. Dengan cahaya hatinya, ia bisa berkomunikasi dengan Allah, para Rasul, malaikat, ataupun wali-wali Allah. Pada tingkatan musyahadah, ia dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas apapun.

Cukup dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, sudah bisa dikatakan ia sebagai seorang pendusta. Rasul shalallallahu’alaihi wasallam adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun e tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya.

“Dia (Allah) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan seseorangpun tentang yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya”. (Al Jin: 25-26)

Apalagi mengaku dapat berkomunikasi dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik lewat suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas adalah kedustaan yang paling dusta. Akal sehat dan fitrah suci pasti menolaknya sambil berkata: “Tidaklah muncul omongan seperti itu kecuali dari orang stres saja”. Kalau ada yang bertanya, lalu suara dari mana itu? Dan siapa yang diajak bicara? Kita jawab, maha benar Allah dari segala firman-Nya: “Apakah akan Aku beritakan, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (Asy Syu’ara: 221-223)

2. Sebagian kaum sufi berkilah dengan pernyataannya bahwa ilmu laduni (Al Kasyaf) merupakan ilham dari Allah (yang diistilahkan wangsit). Dengan dalih hadits Nabi Muhammad:

إِنَّهُ قَدْ كَانَ قَبْلَكُمْ فِيْ الأَمَمِ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكَنْ فِيْ أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَر

“Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah bagi mereka. Makna dhohir hadits ini, menunjukkan keberadaan ilham itu dibatasi dengan huruf syarat (kalaulah ada). Maksudnya, kalaupun ada di umat ini, pastilah orang yang mendapatkan ilham adalah Umar Ibnul Khathab. Sehingga beliau digelari al mulham (orang yang mendapatkan ilham). Dan bukan menunjukkan dianjurkannya cari wangsit, seperti petuah tokoh-tokoh tua kaum sufi. Bagaimana mereka bisa memastikan bisikan-bisikan dalam hati itu adalah ilham? Sementara mereka menjauhkan dari majlis-majlis ilmu yang dengan ilmu syar’i inilah sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.

Mereka berkilah lagi: “Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah e: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi)

Hadits ini dho’if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Karena ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho’if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits).

Singkatnya, ilham tidaklah bisa mengganti ilmu naqli (Al Qur’an dan As Sunnah), lebih lagi sekedar firasat. Ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan batil yang ada pada mereka seperti mengaku mengetahui alam ghaib, merupakan bukti kedustaan diatas kedustaan. Berarti, yang ada pada kaum sufi dengan ilmu laduninya, bukanlah suatu ilham melainkan bisikan-bisikan syaithan atau firasat rusak yang bersumber dari hawa nafsu semata. Disana masih banyak syubhat-syubhat mereka, tapi laksana sarang laba-laba, dengan fitrah sucipun bisa meruntuhkan dan membantahnya.

HADITS-HADITS DHO’IF DAN PALSU YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT

Hadits Ali bin Abi Thalib:

عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ اللهِ ، يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ عِبَادِهِ

“Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

Keterangan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 1/74, beliau berkata: “Hadits ini tidak shahih dan secara mayoritas para perawinya tidak dikenal”. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “Ini adalah hadits batil”. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa hadits ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no 1227)

SUMBER :

http://kaahil.wordpress.com/2010/06/20/mengenal-ilmu-kasyafilmu-laduni-rijalul-ghaib-ilmu-batin-wali-wali-atau-gus-gus-itu-beda-tingkatan-dengan-kita-mereka-sudah-sampai-tingkatan-ma%E2%80%99rifat-yang-tidak-boleh-ditimbang-dengan/

http://www.assalafy.org/mahad/?p=96

Menyingkap Keajaiban Ponari

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa ikhwan (teman) terlibat pembicaraan. Sampai pada sebuah informasi tentang Ponari yang terlontar dari salah satu ikhwan,  setelah beberapa hari dari pembicaraan tersebut saya baru mempunyai kesempatan untuk mencari tahu lebih dalam informasi tentang Ponari, ternyata kenyataan fenomena Ponari ini membuat saya kaget sekaligus menyapa keimanan didalam hati, sayapun yakin seperti itu juga ikhwan – ikhwan yang lain, keimanan siapa yang tidak  tersentuh perbuatan syirik dilakukan didepan mata, keimanan siapa yang tidak tersentuh kesesatan dikampanyekan dihadapan kita, keimanan siapa yang tidak tersentuh melihat kaum muslimin tersesat dikelamnya kebodohan, keimanan siapa tidak tersentuh ditengah keterprosokkan kaum muslimin kepada kesyirikan ada pihak yang malah mencari keuntungan. Lahaula wala Quwata illa Billah, kemudian terbetiklah untuk menulis tulisan sederhana ini dengan harapan semoga bermanfaat.

Pertama : Ponari dan kebenaran ceritanya

Ada satu hal yang ingin saya tekankan disini yaitu untuk tidak terlalu mudah menerima atau mempercayai berita yang seperti ini, apalagi hanya dari mulut kemulut. Wahai saudaraku…., marilah kita berpikir sejenak, apakah orang yang menceritakan kejadian Ponari orang yang terpercaya agamanya sehingga timbul rasa takut untuk berbohong dalam bercerita atau menambah – nambahin dalam cerita tersebut ….??!! atau apakah mereka orang yang paham terhadap Aqidah yang benar atau paham ini perkara tauhid dan ini perkara syirik sehingga bisa menyaring kabar yang masuk ke dirinya….??!! Jawablah wahai saudaraku….

Atau apakah media masa yang memberitakan Ponari media masa yang para wartawannya bertaqwa kepada Allah sehingga menahan penanya untuk menulis sesuatu yang tidak ada pada kenyataannya atau menghiasi ceritanya agar lebih seru dan menarik pembaca…??!! atau media masa yang para wartawannya perduli terhadap agama, memberikan perhatian terhadap aqidah yang benar didalam ilmu dan amal mereka, sehingga dapat menyaring berita yang masuk yang dapat membahayakan aqidah umat… ??!! atau media masa yang fulus menjadi orientasinya, ngga perduli walaupun membahayakan aqidah umat, jawablah wahai saudaraku…..

Kalau pada kenyataannya yang memberitakan apa yang terjadi pada Ponari adalah orang yang tidak perduli atau melalaikan agamanya, tidak tahu perkara tauhid, tidak tahu perkara syirik, meninggalkan sholat, atau melakukan dosa besar jika kondisinya seperti ini penting bagi saya untuk menghadirkan sebuah ayat semoga menjadi renungan untuk kita semua.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu “ ( QS: Al Hujuraat: 6 )

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : “ Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengecek berita yang bersumber dari orang yang fasiq agar berhati-hati dengannya “ ( Tafsir Ibnu Katsier pada ayat ini )

Lalu bagaimana jika sumber beritanya dari orang kafir….!!

Kalau seandainya benar cerita yang terjadi pada Ponari tersebut maka ini adalah tipu daya syaithan untuk menyesatkan ummat maka tidak boleh menyebarkan sebuah berita yang dapat menjerumuskan ummat kepada kesesatan karena itu adalah bentuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan ” ( QS Al Maidah:2 )

Kedua : Ponari dan tipu daya Syaithan.

Sepengetahuan saya dari berita yang saya dapat, bahwa Ponari atau keluarganya tidak pernah belajar sesuatu dari ilmu perdukunan dan sihir, ponari dan keluarganya hanyalah masyarakat biasa, maka apa yang terjadi pada ponari adalah bentuk tipu daya syaithan untuk menyesatkan Ponari, kedua orang tuanya dan ummat.

Untuk menyesatkan Ponari, yaitu menyeretnya untuk menjadi seorang dukun dan tukang sihir. Mungkin pada awalnya Ponari tidak pernah terbetik atau bercita – cita untuk menjadi seorang dukun tapi lambat laun syaithan dengan liciknya menyeretnya untuk menjadi seorang dukun, mengaku mengetahui perkara yang ghaib dan melakukan aktifitas yang mencerminkan perbuatan seorang dukun. Naudzubillah, hal ini atau cara penyesatan syaithan seperti ini bukanlah sesuatu yang baru.

Adapun upaya syaithan untuk menyesatkan ummat adalah dengan menjadikan Ponari sebagai perantara dalam rencana busuknya untuk menyesatkan ummat kelembah najisnya kesyirikan dan kekufuran.

Wahai kaum muslimin, bukankah Iblis berkata sebagaimana yang Allah kabarkan didalam kitab-Nya yang mulia :

إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِين قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ المُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“ Iblis menjawab : “ karena Engkau telah menghukumi saya tersesat maka saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (ta’at).” ( QS Al A’araf: 16 – 17 )

Sudah menjadi profesi syaithan untuk menyesatkan manusia, bisa saja syaithan yang melemparkan batu tersebut kepada Ponari, hal ini pun yang dikatakan Syaikh Yahya tentang batu yang di dapat ponari, lalu bisa jadi syaithan membisiki hatinya, dengan berkata : “ ini adalah sebuah keutamaan dan karomah atau mari kita bekerja sama untuk mengobati manusia ”. Wahai kaum muslimin…, marilah kita berpikir sejenak, apakah masuk diakal seorang musuh (syaithan) datang kepada musuhnya (manusia) lalu berkata : “ saya adalah syaithan untuk menyesatkan kamu wahai ponari, atau berkata : “ saya adalah syaithan, saya akan memanfaatkan kamu untuk menyesatkan ummat dengan label pengobatan…..”

Apakah kita tidak memperhatikan bagaimana syaithan mengeluarkan bapak kita Nabi Adam ‘Alaihi Salaam dari Surga, dikarenakan melanggar perintah Allah. Apakah syaithan berkata ke pada Adam ‘Alaihi Sallaam : “ saya akan menyesatkan kamu wahai Adam.” Bahkan syaithan datang kepada Adam dengan berpenampilan sebagai seorang penasehat bahkan berani bersumpah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengkabarkan tentang hal itu :

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“ Dan dia (Syaithan) bersumpah kepada keduanya : “ saya adalah termasuk orang yang memberikan nasehat kepada kalian berdua.” ( QS Al A’araf: 21 )

Kalau Nabi Adam dan Istrinya saja dibohongi oleh Syaithan dengan berlagak sebagai pemberi nasehat, sehingga dengan sebab itu Nabi Adam dan Hawa memakan buah yang Allah melarang keduanya untuk mendekatinya, lalu apa yang menghalangi Syaithan untuk menyesatkan  kita dengan berkata: “ Mari kita mengobati manusia ” atau berkata “ ini adalah karomah “ atau “ ini adalah mu’jizat ” dengan tujuan menjerumuskan manusia kejurang najis dan kelamnya kesyirikan dan kekufuran. Berfikirlah wahai orang-orang yang berakal….??!!

Bukankah syaithan sendiri yang berkata akan menyesatkan kita, sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan didalam Al –Qur’an

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“ Iblis berkata : Ya Rabbku oleh sebab Engkau memutuskan bahwa aku tersesat pasti aku menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua “ ( Qs. Al Hijr : 39 )

Kalau kita sudah sadar bahwa syaithan akan menyesatkan kita, maka akan saya hadirkan sebuah ayat untuk kita renungkan bersama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ

“ Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah – langkah syaithan, barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar( QS. An Nur : 21 )

Kemungkaran apa yang paling besar, wahai sudaraku…, kalau bukan kemungkaran syirik bukankah Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“  Sesungguhnya perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah kedzaliman yang sangat besar( Qs. Luqman : 13 ) dalam ayat lain Allah juga berfirman :

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 )

Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Didalam ayat ini terdapat penjelasan besarnya bahaya syirik, dikarenakan seseorang apabila mati dalam kaeadaan berbuat syirik maka tidak akan diampuni baginya bahkan dia kekal didalam neraka, berbeda dengan dosa lainnya yaitu dibawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya kemudian masuk surga, dan jika Allah berkehedak maka Allah akan mengampuniannya (tidak mengadzabnya). Adapun dosa syirik maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman :

ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )

(Syarh Kitab Tauhid Syaikh Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz : 37)

Kemungkaran apa yang lebih besar  dari bergantungnya hati kepada selain Allah dengan menyakini kesembuhan dari sebuah batu, padahal Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallaam :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Kemungkaran apa yang lebih besar dari menyakini selain Allah mengetahui perkara yang ghoib, padahal Allah Taala berfirman :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللهُ

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib  kecuali Alloh” (Qs. An-Naml : 65 )

Ketiga : Ponari antara Karomah, Mu’jizat dan tipu daya syaithan

Sangatlah jelas sekali apa yang terjadi pada Ponari bukalah karomah apalagi mu’jizat. Karomah adalah kejadian luar biasa yang diluar kemampuan orang pada umumnya yang Allah berikan kepada orang shaleh, hambanya yang memahami tauhid dan mengamalkannya secara dzohir dan bathin, hambanya yang menjauhi perbuatan syirik, bid’ah dan khurofat, melaksanakan sholat lima waktu dan menjauhi maksiat. Adapun Mu’jizat khusus untuk nabi. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah : “ Al-Imam Haramain menukilkan adanya ijma (kesepakatan) bahwa sihir tampak dari orang fasik adapun karomah tidaklah tampak dari orang fasik (melakukan dosa besar)

Berkata juga Al Hafidz Ibnu Hajar : “ Sudah seharusnya dilihat keadaan  orang yang ada pada dirinya keajaiban, apabila orangnya berpegang teguh dengan syariat  (agama), menjauhi dosa yang membinasakan maka apa yang terlihat darinya  berupa keajaiban adalah karomah, jika tidak seperti itu maka itu adalah sihir. Dikarenakan timbul dari salah satu macamnya dengan pertolongan syaithan. ( Fathul Bari’ Cet. Maktabah As-Shofa, Juz 10 hal : 260 )

Berkata Ibnul Jauzi Rahimahullah : Telah kami jelaskan pada pembahasan yang telah lalu bahwa iblis menebarkan tipu dayanya kepada manusia sesuai kadar keilmuan, maka setiap kali berkurang ilmu yang ada pada diri seseorang tersebut bertambah kuat pula kemampuan iblis dalam memperdaya orang tersebut. Dan semakin dalam kadar keilmuan seseorang maka semakin melemah kemampuan iblis untuk memperdaya orang tersebut, sebuah contoh ada seseorang dari kalangan ahli ibadah melihat sebuah cahaya di langit maka jika hal itu terjadi di bulan ramadhan, niscaya dia akan mengatakan aku telah melihat lailatul Qadar, dan kalau ternyata hal tersebut terjadi di bulan selain Ramadhan dia akan menyatakan telah dibukakan pintu – pintu langit untukku, kemudian dia menyangka hal itu sebagai karomah baginya, yang pada hakikatnya kejadian tersebut terjadi secara kebetulan atau sebuah fitnah atau sebuah tipu daya  dari iblis dan orang yang berakal sangat tidak akan menerima hal-hal yang seperti ini walaupun  disangka hal ini adalah sebuah karomah.” ( Talbis Iblis Ibnul Jauzi, bab Ke 11 Hal : 404 )

Keempat : Ponari dan kesyirikan yang ada atau dikhawatirkan muncul di fenomenanya

Sebelum menjelaskan fenomena kesyirikan yang ada atau dikhawatirkan umat terseret kepada nya, maka penting bagi saya untuk menjelaskan pengertian syirik dan macamnya untuk memudahkan memahami pembahasan selanjutnya.

Pengertian Syirik : Menyamakan selain Allah dengan Allah didalam hal – hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. (Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi Darus Shamiy, hal : 37 )

Syirik dibagi dua :

Pertama : Syirik Akbar (besar) yaitu yang mengeluarkan pelakunya dari islam dan mengekalkan pelakunya didalam neraka jika mati belum bertaubat darinya.

Kedua : Syirik Asghor (kecil) yaitu yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam tetapi mengurangi tauhid dan sarana yang dapat menjerumuskan kesyirik Akbar. (Aqidah Tauhid, Syaikh Sholeh Al Fauzan : 77, dengan diringkas )

Yang pertama : “ Si Anak Ajaib Ponari “

Ada beberapa gambaran dalam masalah ini :

Jika seseorang menyakini bahwa Ponari dapat menyembuhkan penyakit dengan sendirinya, atau berkeyakinan Ponarilah yang dapat menyembuhkan penyakit pasiennya atau berkeyakinan ponari mempunyai kekuatan ghaib untuk menyembuhkan para pasiennya maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang berobat ke Ponari. Kenapa hal ini merupakan termasuk syirik…?? karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Jika seseorang menyakini Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab, Ponari bukanlah sebab kesembuhan berbagai penyakit pasiennya

  • ·Bukankah Ponari tidak mengetahui Tibun Nabawi (pengobatan Nabi), seperti bekam, minum habbatu Sauda dan lain-lain
  • ·Bukankah Ponari bukan seorang dokter
  • ·Bukankah Ponari tidak memiliki sedikitpun dari ilmu kedokteran
  • ·Bukankah Ponari tidak memiliki ilmu pengobatan tradisional, seperti jamu-jamuan, atau refeleksi
  • ·Sudah begitu dengan tidak mengetahui dan mempunyai kemampuan apa-apa dari pengobatan Nabawi, kedokteran dan tradisional lalu mengaku bisa mengobati berbagai penyakit, dari penyakit dalam sampai penyakit luar bahkan penyakit stress dan gila ….!!!
  • ·Ditambah cara pengobatan Ponari terkadang ketika melakukan pengobatan dibarengi sambil bermain dengan teman sebayanya kemudian tangannya digerakkan oleh orang lain untuk menyelupkan batu kedalam air.

Karena alasan inilah tidak ada keterkaitan sama sekali Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit pasiennya, maka yang berkeyakinan Ponari sebagai sebab kesembuhan para pasiennya merupakan bentuk mengambil sebab apa yang Allah tidak jadikan sebagai sebab. Dan ini merupakan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“ Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu Nya dalam menetapkan hukumnya( Qs. Al Kahfi : 26 )

Hukum Allah dibagi dua :

Hukum Syariyah : Yaitu berupa perintah dan larangan Allah

dan hukum kauniyah : Yaitu apa yang Allah taqdirkan, termasuk diantaranya sebab dan akibat. Maka jika menetapkan sebab yang tidak Allah tetapkan sebagai sebab maka ini termasuk syirik.

Syaikh Yahya pernah ditanya : Ya Syaikh berkaitan dengan, soal kemarin (tentang Ponari dan batunya), apa hukum jika seseorang menyakinii Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakinya, apakah termasuk syirik karena menjadikan sebab apa yang bukan sebab, karena Ponari bukan seorang dokter dan tidak mempunyai ilmu tentang kesehatan. Syaikh Menjawab : menjadikan apa yang bukan sebab sebagi sebab merupakan kesyirikan dan sarana mengatarkan kepada syirik (dinukil secara makna).Semoga penjelasan ini menjadi menjadi catatan bagi perkataan Ngawur dari Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi tentang hukum mendatangi Ponari. (Silahkan Lihat bantahan saya kepada mereka berdua)

Yang Kedua : ” Batu Ajaib “

Ada beberapa gambaran dalam masalah ini :

Jika seseorang menyakini bahwa  batu Ponari dapat menyembuhkan penyakit dengan    sendirinya, atau berkeyakinan batu itulah yang dapat menyembuhkan penyakit pasiennya atau berkeyakinan batu tersebut mempunyai kekuatan ghaib untuk menyembuhkan para pasiennya maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang berobat ke Ponari. Kenapa syirik karena menyandarkan ssesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab. Tidak terbukti secara syar’i bahwa batu tersebut sebab kesembuhan begitu juga tidak terbukti secara penelitian, sudah begitu mengklaim Ponari dan batunya dapat menyembuhkan semua penyakit ( Silahkan lihat lebih lanjut penjelasan menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab merupakan kesyirikan, di Kitab Qaulul Mufid Syaikh Ibnu Utsaimin hal 107)

Yang Ketiga : Menyakini barakah batu tersebut

Jika seseorang menyakini bahwa  batu Ponari dapat yang memberikan barakah dengan    sendirinya, maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang mencari barokah ke batu Ponari. Kenapa syirik karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah semata, karena yang dapat memberikan barokah hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ

“ Kami limpahkan keberkahan atasnya dan ishaq “

( QS. Ash-Shaaffat : 113 )

Jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab barokah dan dia menyakini yang memberikan barakah hanyalah Allah semata. maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab.

Berbeda jika ada dalil syar’i yang menyatakan sesuatu tersebut bebarakah, seperi bulan Ramadhan bulan barakah cara mendapatkan barakah di bulan tersebut dengan memperbanyak ibadah karena  doa-doa dikabulkan, pahala amalan ibadah dilipat gandakan dan lain – lain, atau air zam-zam air yang berbarakah caranya dengan meminumnya dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhan penyakit kita misalnya, dengan menyakini yang memberikan barakah dan kesembuhan hanya Allah semata.

Yang Keempat : Ketergantungan hati kepada Ponari dan batunya

Ketergantungan yang luar biasa kepada Ponari dan batunya di antaranya dapat dilihat dari perbuatan para pasiaen Ponari yang ketika ditutup praktek pengobatan Ponari, melakukan tindakan membabi buta seperti mengambil air mandi bekas Ponari atau air comberan, meminum air yang tertampung diatap rumah Ponari dan lain-lain untuk mengobati penyakitnya, dari ketergantungan hati yang luar biasa kepada Ponari dan batunyalah  yang mengakibatkan para pasien tersebut melakukan hal seperti itu, Dimana yach para pasien itu dengan ayat ini..??!!

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Bukankah Allah yang memberi manfaat, baik itu kesembuhan dan yang lainnya bukankah Allah yang menolak mudhorot…..!!!

Lalu dimana mereka dengan ayat  dan hadist ini

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Bukankah Allah memerintahkan kepada kita untuk bertawakal kepada Allah semata, yaitu bergantungnya hati kita kepada Allah dalam meraih apa – apa yang bermanfaat, seperti mencari sebab kesembuhan dan menolak apa – apa yang membahayakan bagi dunia dan akhirat kita. Allah Subhana Wata’ala berfirman :

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ

“ Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. ( Qs. Al – Maaidah : 23 )

Pada ayat ini Allah memerintahkan untuk bertawakal kepada Nya, ini menunjukkan tawakal itu dicintai Allah maka kalau begitu tawakal adalah ibadah. Sebagaimana pengertian Ibadah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taiminyah Rahimahullah, Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup seluruh perkara apa – apa yang dicintai Allah dan diridhainya dari perkataan, perbuatan dzahir dan bathin. ( Ubudiyah Syaikhul Islam, bersama syarh Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihy : 6 )

Maka jika tawakal di palingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik, bisa terjatuh kepada syirik akbar pada suatu keadaan dan syirik asghor pada suatu keadaan lain. Sebagaimana yang akan disebutkan disini :

Tawakal yang merupakan syirik akbar (besar) : Yaitu bergantungnya hati kita kepada selain Allah dalam perkara – perkara yang selain Allah tidak di beri kemampuan.

Tawakal yang merupakan syirik asghar (kecil) : Yaitu bergantungnya hati kita kepada selain Allah dalam perkara – perkara yang selain Allah di beri kemampuan.  ( Silahkan Lihat Al Jamamiul Fariid, li as’ilatil wal ajwibah ala kitab tauhid, Syaikh Abdullah Jarullah : 200 )

Kelima : Ponari dan Julukan ” Si Dukun Cilik dari Jombang “

Julukan dukun bukanlah julukan yang baik apalagi julukan kehormatan yang patut dibanggakan. Karena dukun, paranormal, ahli nujum, tukang ramal dan yang semisalnya adalah nama bagi orang yang mengklaim dirinya mengetahui sesuatu dari ilmu ghaib tetapi cara mereka berbeda. ( Silahkan Lihat Al Jamamiul Fariid, li as’ilatil wal ajwibah ala kitab tauhid, Syaikh Abdullah Jarullah : 200 )

Profesi dukun adalah profesi kekafiran Naudzubillah, dikarenakan dua hal :

1. Mengaku mengetahui perkara yang ghoib

2. Beribadah atau bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada syaitan

(Silahkan lihat Qoulus Syadid Syarh Kitab Tauhid, Syaikh As-Sa’di : 97, lihat juga Al-Jaamiul Fariid li asilati wal ajwibah ‘ala kitab tauhid, Syaikh Abdulloh Bin Jarulloh)

Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahulloh : (Setelah menyebutkan beberapa hadist) “Sebagaimana di dalam hadits ini sebagai dalil atas kafirnya dukun dan tukang shir dikarenakan keduanya mengaku mengetahui perkara yang ghaib, yang demikian itu perbuatan kekafiran dikarenakan keduanya tidak bisa mendapatkan yang mereka inginkan kecuali dengan melayani jin dan beribadah kepadanya dari selain Alloh, yang demikian itu merupakan perbuatan kekufuran dan syirik kepada Alloh Subhanah, dan jika membenarkan mereka mengetahui perkara yang ghaib maka hukumnya seperti mereka (Kafir) “ (Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz : 7- 8 )

Jika julukan si dukun cilik sesuai dengan keadaan si Ponari dengan mengaku mengetahui perkara yang ghoib dan melakukan berbagai aktivitas perdukunan. Maka penting bagi saya untuk membawakan sebuah hadist untuk menjadikan peringatan kita semua, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassallam “ (HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh Syaikh Al-Abany)

sebagaimana dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh sebagian istri Nabi Sholallahu alaihi wassallam , Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda :

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam” (HR Muslim)

Keenam : Ponari dan kesembuahan para pasiennya

Sudah pernah saya singgung diawal tulisan ini, bahwa jangan mudah menerima dan mempercayai sebuah berita dengan model seperti ini apalagi dibawa oleh orang yang tidak jelas agamanya. Sudah begitu kenapa orang yang tidak sembuh setelah datang kepengobatan Ponari kurang disorot kalau tidak mau dikatakan diangkat kepublik.

Adapun jika benar ada yang sembuh setelah datang kepraktek pengobatan Ponari ada dua kemungkinan :

  1. Kesembuhan yang pada hakekatnya tidaklah sembuh

Misalnya datang seorang yang lumpuh tiba – tiba setelah minum air yang telah dicelup batu Ponari langsung bisa jalan atau tidak lama setelah pengobatan tersebut langsung bisa jalan. Bisa saja jin masuk kedalam kakinya kemudian meneggakkannya sehingga tiba-tiba bisa jalan. Suatu saat jika jin nya pergi dia akan lumpuh lagi. Hal ini pernah saya tanyakan oleh salah seorang Syaikh disini (Syaikh Ma’mar), diapun menjawab bisa  kemudian membawakan dalil tentang masuknya jin ketubuh seseorang.

  1. Bisa jadi benar – benar sembuh, dan yang menyembuhkan adalah Allah semata dan bukan karena sebab Ponari dan batunya, ada sebab lain atau Allah menyembuhkannya tanpa sebab. Dan ini bentuk istridraj yaitu menangguhkan hukuman baginya sampai batas waktu yang Allah tentukan sehingga semakin menumpuk dosanya. Naudzubilah

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ

“Kami akan menarik mereka beransur-ansur (kearah kebinasaan) dari arah yang mereka tidak ketahui “ ( Qs. Al Qalam : 44 )

Ketujuh : Ponari dan sebuah nasehat

Wahai Bapak dan Ibu Ponari, yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Sebelumnya saya minta maaf, tidaklah saya tulis nasehat ini, insya Allah kecuali untuk kebaikan bapak dan ibu serta Ponari bahkan untuk yang lainnya. Begitu juga dalam rangka mengamalkan sebuah hadist, dari Abu Ruqayah Tamim Bin Aus Ad Dary Radiyalallahu ‘Anhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda ” Agama itu adalah nasehat “ ( HR. Muslim )

Sebagaimana yang mungkin bapak dan ibu telah ketahui, sebagai orang tua maka mempunyai tanggung jawab  kepada anak – anaknya, dan sebagai pemimpin mempunyai tanggung jawab terhadap yang dipimpin, hal ini sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berasabda : ” Setiap dari kalian akan diminta pertanggung jawaban, dan setiap kalian adalah seorang pemimpin dari yang dipimpin….” (HR. Bukhari dan Muslim )

Maka kita akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang telah kita lakukan, begitu juga kedua orang tua akan dimintai pertanggung jawaban tentang anaknya, apakah seorang bapak dan ibu sudah menunaikan hak anaknya, berupa nafkah, pendidikan agama, mengarahkan kepada apa – apa yang bermanfaat untuk akhirat dan dunianya dan memperingatkan dari hal-hal yang membahayakan anaknya, bukankah Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

” Hai orang-orang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ” ( Qs. Atharim : 6 )

Maka  saya katakan, semoga Allah memberi hidayah kepada bapak dan ibu serta Ponari, bapak dan Ibu harus memberi peringatan kepada Ponari yang saat ini syaithan berusaha menyeret Ponari kepada sesuatu yang membahayakan bagi kehidupan akhirat dan dunianya, yaitu syaithan berusaha menyeret Ponari menjadi seorang dukun, disamping itu Ponaripun dimanfaatkan oleh syaithan untuk menyesatkan umat dengan topeng pengobatan. Apakah bapak dan ibu tega melihat Ponari menjadi seorang dukun, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassallam “ ( HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu )

Diriwayatkan dari sebagian istri Nabi Sholallahu alaihi wassallam , Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : “ Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam ” ( HR Muslim )

Kalau yang mendatangi saja bisa kafir lalu bagaimana hukum yang didatangi.

Wahai bapak dan ibu Ponari yang semoga Allah memberi hidayah kepada bapak dan ibu, saya jadi teringat sebuah hadist yang saya ingin hadirkan disini untuk menjadi renungan kita bersama. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam Bersabda : ” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi ” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh) maka jika Ponari menjadi seorang dukun maka bapak dan ibu mempunyai andil dalam hal itu. Bukankah kedua orang tua yang paling perduli kepada anak-anaknya, bukankah bapak dan ibunyalah yang paling sayang sama anak-anaknya, apakah bapak menyangka perusahaan yang memproduksi Ponari Sweat perduli dengan agama Ponari…??!! maka dengan tegas saya katakan… mereka tidak perduli, apakah bapak dan ibu menyangka para wartawan dan media massa yang memberitakan Ponari dan batunya perduli dengan nasib Ponari diakherat kelak, kalau Ponari mejadi seorang dukun dan mati dalam keadaan seperti itu…??!!, saya tidak ragu untuk mengatakan mereka tidak perduli. Demi Allah, wahai Bapak dan Ibu Ponari yang saya inginkan adalah kebaikan untuk kalian, maka dengarkanlah nasehat saya ini. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh dosa yang pernah kita lakukan, diantaranya pelalaian pendidikan agama terhadap anak sendiri, Bapak dan Ibu serta Ponari harus meningggalkan pengobatan yang dilakukan Ponari karena itu semua merupakan tipu daya syaithan yang mengatarkan kepada dosa kesyirikan, sebuah dosa yang tidak diampuni oleh Allah kalau sebelum matinya seseorang belum bertaubat dari dosa syirik. Serta mulailah membenahi diri kita, begitu juga ajarkan kepada Ponari Aqidah yang benar, tanamkan kepada Ponari bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib  kecuali Allah, tanamkan pada Ponari bahwa syaithan adalah musuh kita, tanamkan kepada Ponari bahwa kesembuhan hanyalah dari Allah semata, serta mulailah menjaga sholat lima waktu, ajak Ponari sholat berjamaah dimasjid, jangan lupa bentengi diri kita, bapak dan ibu serta Ponari  dengan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seperti doa sebelum tidur, dzikir pagi dan sore dan jangan lupa sering baca Al –Qur’an dan baca surat Al Baqarah di rumah, karena yang demikian itu semua dapat membentengi kita dari gangguan syaithan. Bertawakalah kepada Allah dan banyaklah berdoa semoga Allah mengeluarkan kita dari segala masalah yang kita hadapi.

Kemudian utarakanlah kepada pihak yang berwenang (pemerintah) tentang keputusan bapak dan ibu untuk meninggalkan dan menutup praktek pengobatan Ponari, Insya Allah pemerintah akan setuju dan membantu keputusan bapak dan ibu, serta utarakanlah untuk pindah dari tempat yang bapak dan ibu Ponari tinggali sekarang, untuk menutup segala jalan agar orang tidak bisa lagi mendatangi Ponari dan dalam rangka mencari lingkungan yang baik, bisa pindah ke Jakarta Depok, disana ada lingkungan Ahlus Sunnah, lingkungan yang baik akan membuat pengaruh yang baik untuk kehidupan Ponari, disamping itu bisa menuntut ilmu agama disana, belajar aqidah yang lainnya, atau ditempat yang lainnya yang disitu ada lingkungan Ahlu Sunnah. Insya Allah pemerintah akan senang membantu bapak dan ibu.

Ke delapan : Pasien Ponari dan sebuah nasehat

Wahai para pasien Ponari semoga Allah memberikan kesembuhan kepada engkau, mungkin saya tidak tahu sedetail apa rasa sakitmu, sebesar apa perjuangan untuk mengobati penyakitmu dan biaya yang telah di keluarkan untuk mengobati penyakitmu, tapi insya Allah nasehat yang saya tulis ini untuk kebaiakan akhirat dan dunia kalian.

Wahai Engkau yang berusaha untuk mengobati penyakitmu, wahai engkau yang telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun sakit, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat Allah sangatlah luas, bukankah Allah Ta’ala berfirman :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“ Dan Rahmat Ku meliputi segala sesuatu ” (Qs. Al – A’raaf : 156 )

Bukankah Allah Al-Lathif (yang Maha Lembut), sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ العَزِيزُ

“ Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambanya Dia memberi rezeki kepada siapa yang di kekehendaki – Nya “ ( Qs. Asy Syuura : 19 )

Teruslah berusaha untuk berobat mengambil sebab untuk kesembuhan penyakitmu, dengan pengobatan yang dibolehi oleh syariat yang mulia ini, dan perbanyaklah doa, kerena kesembuhan hanyalah dari Allah. Allah sematalah yang mengangkat kesusahan dan penyakitmu

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“ Dan apabila hamba-hamba ku bertanya kepada mu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku ( Qs. Al baqarah : 186 )

أَمَّنْ يُجِيبُ المُضطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“ Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada Nya dan yang menghilangkan kesusahan “ ( Qs. Al-Naml : 62 )

Bukankah Allah mengkabarkan perkataan Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Wahai para pasien Ponari semoga Allah menyembuhkan kalian, tinggalkanlah berobat ke praktek pengobatan Ponari dan yang semisalnya karena berobat kesana mengantarkan kepada keharaman yang sangat besar yaitu kesyirikan dan mengatarkan kepada kerusakan Aqidah seseorang. Berobatlah dengan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah dan banyak berdoalah, semoga Allah menyembuhkan kaum muslimin dari penyakit yang dideritanya.

Kesembilan pihak yang berwenang (pemerintah) dan sebuah nasehat

Wahai Pihak yang berwenang (pemerintah) semoga Allah memberikan dan menolong kita untuk keluar dari segala masalah yang kita hadapi sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Nya. Amin…, Wahai pihak yang berwenang, sebagai warga yang baik saya berusaha untuk ikut andil dalam menyelesaikan sebagian permasalahan bangsa ini. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat ini, yang Insya Allah untuk kebaikan kita semua. Wajib bagi pihak berwenang untuk menutup praktek pengobatan Ponari dan semisalnya karena praktek pengobatan Ponari adalah praktek pengobatan yang menjerumuskan seseorang kedalam kerusakan aqidah dan kesyirikan. Dan mengamankan batu tersebut, kemudian memusnahkannya.

Begitu juga menutup seluruh praktek perdukunan yang ada di Indonesia karena hal itu semua merusak aqidah umat dan sebab yang datangnya adzab Allah, karena perdukunan sebesar-besar maksiat kepada Allah. Dalam hal ini berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : Oleh karena itu kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya. dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar dan tempat-tempat lainnya. Dan secara tegas menolak segala apa yang mereka lakukan” (Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz )

Kesepuluh : Ponari dan sebuah solusi

Wahai pihak yang berwenang (pemerintah) dan para dokter, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan semoga Allah memudahkan untuk menyelesaikan permasalahan  bangsa ini sesuai dengan apa yang di ridhoi Nya.

Kami mengajak kerja sama kepada pihak berwenang dan para dokter untuk melakukan beberapa hal dalam rangka menyelesaikan fenomena Praktek pengobatan Ponari :

Pertama : Umumkan kepada publik bahwasannya Bapak dan Ibu Ponari serta Ponari memutuskan untuk menghentikan dan menutup praktek pengobatan Ponari selama – lamanya dan menyatakan taubat dari praktek pengobatan tersebut setelah mengetahui bahwasannya praktek pengobatan tersebut mengantarkan kepada kesyirikan. Hal ini penting supaya publik tahu bahwa praktek pengobatan Ponari adalah sesuatu yang diharamkan karena mengantarkan kepada kesyirikan begitu juga supaya publik tahu bahwa praktek pengobatan Ponari telah ditutup sehingga tidak ada yang datang lagi.

Kedua : Para dokter dan pihak berwenang memberi pengobatan gratis bagi pasien yang sudah telanjur datang, sebagai bentuk saling membantu dalam kebaikan dan menutup munculnya tindakan anarkis dari sebagian pasien tersebut

Ketiga : membagi – bagikan buku tentang permasalahan Aqidah, seperti buku ” Hukum Sihir dan Perdukunan ” Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah. Hal ini sangatlah penting sebagai upaya pembenahan aqidah mereka.

Nasehat Untuk Kaum Muslimin

Wahai kaum Muslimin…, yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Dari penjelasan diatas tersirat sebuah pelajaran yang sangat penting, yakni akan bahayanya bodoh terhadap ilmu agama terutama aqidah, karena sebab kebodohan dalam permasalahan agama membuat seseorang terjerumus kepada kesesatan bahkan kekafiran Naudzubillah. Wahai kaum muslimin wajib bagi kita untuk mempelajari agama ini terutama permasalahan tauhid supaya kita bisa mengamalkannya secara dzhohir dan bathin dan mempelajari macam-macam dan bentuk-bentuk perbuatan syirik supaya kita dapat menjauhinya. Berkata Syaikh Yahya Bin Ali Al Hajuri Hafidzahullah : ” Jangan pernah meremehkan masalah tauhid, baik itu nasehat, dakwah dan dari merealisasikannya.” (Ta’liq Pelajaran Syaikh Yahya, pada kitab Al Jamius Shahih, Syaikh Muqbil )

Penulis : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al – Jakarty

Alamat Situs : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/02/26/menyapa-fenomena-ponari/#comment-813

Menyingkap alam ghaib

Penglihatan manusia tentu tidak bisa menjangkau benda yang berada di balik tembok. Contoh kecil di atas menunjukkan betapa indera manusia mempunyai keterbatasan. Oleh karena itu, teramat naif jika ada orang-orang yang menolak hal-hal ghaib dengan mendewakan panca inderanya.

Merunut sejarahnya, secara psikologis, umat manusia –sejak dahulu kala– mempunyai keingintahuan yang besar terhadap segala sesuatu yang bersifat ghaib, khususnya bila berkaitan dengan peristiwa dan kejadian di masa datang. Saking penasarannya, terkadang mereka menyempatkan (baca: mengharuskan) diri untuk mendatangi tukang ramal; baik dari kalangan ahli nujum, dukun, ataupun ’orang pintar’. Ada kalanya dengan cara mengait-ngaitkan sesuatu yang dilihat ataupun didengar, dengan kesialan atau keberhasilan nasib yang akan dialaminya (tathayyur). Dan ada kalanya pula dengan meyakini ta’bir (takwil) mimpi yang diramal oleh orang pintar –menurut mereka. Tragisnya, orang yang dianggap mengerti akan hal ini justru mendapatkan posisi kunci di tengah masyarakatnya dan meraih gelar kehormatan semacam orang pintar dan ahli supranatural. Bahkan gelar kebesaran ‘wali’ pun acap kali disematkan untuk mereka. Wallahul musta’an.

Kondisi semacam ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam yang identik dengan buta huruf dan penduduk pedesaan semata. Namun kalangan ‘intelektual’ dan modernis pun ternyata turut terkontaminasi dengan itu semua. Tidaklah mengherankan jika kemudian berbagai macam ‘ilmu’ yang konon dapat menyingkap perkara-perkara ghaib meruak ke permukaan dan banyak dipelajari oleh sebagian masyarakat, meskipun dalam prakteknya kerap kali harus bekerja sama dengan jin (baca: setan).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: “Yang paling banyak terjadi pada umat ini adalah pemberitaan jin kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia tentang berbagai peristiwa ghaib di muka bumi ini1. Orang yang tidak tahu (proses ini, -pen) menyangka bahwa itu adalah kasyaf dan karamah. Bahkan banyak orang yang tertipu dengannya dan beranggapan bahwa pembawa berita ghaib (dukun, paranormal, orang pintar dll, -pen) tersebut sebagai wali Allah, padahal hakekatnya adalah wali setan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا يَامَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ اْلإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ اْلإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِيْنَ فِيْهَا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ

“Dan (ingatlah) akan suatu hari ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan mereka semua, (dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman): ‘Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia’, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, dan kalian kekal abadi di dalamnya, kecuali bila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 128) (Fathul Majid, hal. 353)

Rahasia Alam Ghaib
Alam ghaib menyimpan rahasia tersendiri. Rahasia alam ghaib, ada yang Allah khususkan untuk diri-Nya semata dan tidak diberitakan kepada seorang pun dari hamba-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ

“Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidaklah ada sesuatu yang basah atau pun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

Tentang hal ini, Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata, sebagaimana dalam firman Allah:

وَلاَ أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ

“Dan aku tidak mengatakan kepada kalian (bahwa): ‘Aku mempunyai gudang-gudang rizki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib’.” (Hud: 31)

Demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan Allah untuk mengatakan:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah: ‘Aku tidak mampu menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 188)

Di antara perkara ghaib yang Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan untuk diri-Nya semata adalah apa yang terkandung dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya semata pengetahuan tentang (kapan terjadinya) hari kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia dapatkan di hari esok. Dan tiada seorang pun yang bisa mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya Malaikat Jibril tentang kapan terjadinya hari kiamat:

…فِيْ خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ} الآية

“…termasuk dari lima perkara (ghaib) yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata. Kemudian Nabi membaca ayat (dari surat Luqman tersebut,-pen.).” (HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 50, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Berdasarkan hadits ini, tidak ada celah sedikit pun bagi seorang pun untuk mengetahui (dengan pasti) salah satu dari lima perkara (ghaib) tersebut. Dan Nabi telah menafsirkan firman Allah Al-An’am: 59 (di atas) dengan lima perkara ghaib (yang terdapat dalam Luqman: 34, -pen.) tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam Shahih (Al-Bukhari, -pen.).” (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar 1/150-151)

Di antara perkara ghaib, ada yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para Rasul yang diridhai-Nya, termasuk di antaranya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُوْلٍ

“(Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang perkara ghaib itu, kecuali yang Dia ridhai dari kalangan Rasul.” (Al-Jin: 26-27)

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara-perkara ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para Rasul-Nya.” (Ali Imran: 179)

Maka dari itulah, perkara ghaib tidak mungkin diketahui secara pasti dan benar kecuali dengan bersandar pada keterangan dari Allah dan Rasul-Nya. Lalu bagaimanakah dengan orang-orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari keduanya?

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib tanpa bersandar kepada keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah pendusta dalam pengakuannya tersebut.” (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar, 1/151)

Apakah jin (setan) mengetahui perkara ghaib? Jawabannya adalah: Tidak. Jin tidak mengerti perkara ghaib, sebagaimana yang Allah nyatakan:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ دَابَّةُ اْلأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka (tentang kematiannya) itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui perkara ghaib tentulah mereka tidak akan berada dalam kerja keras (untuk Sulaiman) yang menghinakan.” (Saba`: 14)

Adapun apa yang mereka beritakan kepada kawan-kawannya dari kalangan manusia (dukun, paranormal, orang pintar, dll.) tentang perkara ghaib, maka itu semata-mata dari hasil mencuri pendengaran di langit2. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ. إِلاَّ مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِيْنٌ

“Dan Kami menjaganya (langit) dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (Al-Hijr: 17-18)

Hikmah Tertutupnya Tabir Alam Ghaib bagi Umat Manusia
Para pembaca, tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan dan menentukan suatu perkara kecuali (pasti) selalu ada hikmah di baliknya. Demikian pula halnya dengan alam ghaib, yang tabirnya tertutup bagi umat manusia. Di antara hikmahnya adalah sebagai ujian bagi umat manusia, apakah mereka termasuk orang yang beriman dengan perkara ghaib yang Allah dan Rasul-Nya beritakan tersebut, ataukah justru mengingkarinya?!

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Bahwasanya alam barzah (kubur) termasuk perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera. Jika bisa dijangkau oleh panca indera, niscaya tidak ada lagi fungsi keimanan terhadap perkara ghaib (yang Allah dan Rasul-Nya beritakan, -pen.), dan tidak ada lagi perbedaan antara orang-orang yang mengimaninya dengan yang mengingkarinya.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 109)

Di antara hikmahnya pula adalah untuk keseimbangan hidup umat manusia antara suka dan duka, cemas dan harapan di dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Cobalah anda renungkan, bagaimanakah jika seandainya setiap orang mengetahui semua yang akan terjadi? Tentu kehidupannya akan sangat kacau dan tidak mendapatkan ketentraman. Bagaimana tidak?! Ketika seseorang mengetahui dengan pasti bahwa akhir hidupnya adalah menderita, baik karena ditimpa penyakit kronis, kecelakaan, dibunuh, dan lain sebagainya. Tentu hidupnya akan diselimuti dengan duka dan kecemasan. Si sakit misalnya, ketika mengetahui dengan pasti bahwa dia akan mati karena sakitnya itu (dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan tidak ada lagi harapan untuk hidup, tentunya keputus-asaanlah yang selalu merundungnya. Akan tetapi ketika dia tidak mengetahuinya dengan pasti, maka harapan untuk menikmati hari esok masih terbentang di hadapannya dan proses pengobatan pun akan selalu diupayakannya.

Ketika umat manusia mengetahui segala yang terjadi di alam ghaib, bisa melihat malaikat dan jin (setan) dalam wujud aslinya, bisa mengetahui orang-orang yang diadzab di kubur dan sejenisnya, niscaya ketenangan hidup tidak akan didapatkannya. Demikian pula ketika masing-masing orang mengetahui dengan pasti apa yang tersimpan di hati selainnya, maka kehidupan ini akan terasa sebagai belenggu yang memberatkan. Karena berbagai keburukan yang ada pada hati masing-masing orang dapat dirasakannya.

Di lain kondisi, ketika seseorang mengetahui dengan pasti bahwa dia selalu beruntung, niscaya hal itu bisa menjadikan dia sombong dan bersikap semena-mena terhadap sesamanya. Tidaklah Allah menutup tabir rahasia alam ghaib kepada kita, kecuali karena kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya yang tiada tara. Sehingga sudah seharusnya bagi kita untuk mensyukuri apa yang ditentukan-Nya tersebut.

Fenomena Umat tentang Alam Ghaib
Para pembaca, tentunya anda sering mendengar info seputar alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Lebih-lebih belakangan ini, ketika ‘misteri alam ghaib’ benar-benar dipromosikan dan dijadikan ajang komoditi bisnis yang cukup menjanjikan. Dengan sekian bumbu klenik dan racikan mistiknya, maka tersajilah aneka menu yang kental dengan bau syirik dan khurafat. Tak luput…akhirnya televisi, surat kabar, dan media cetak/elektronik lainnya pun menjadi publik mediator modernnya.

Sementara di lain pihak, ada orang-orang yang mengingkari perkara ghaib. Dasar pemikiran mereka bertumpu pada keilmuan (baca: akal) semata tanpa mempedulikan norma-norma keimanan. Nyaris, sikap mengedepankan akal daripada dalil sam’i baik dari Al-Qur`an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi simbol mereka. Tak pelak, akhirnya terjerumus pula ke dalam jurang kesesatan dikarenakan pengingkaran mereka terhadap perkara-perkara ghaib yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tersebut. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok3:

1. Orang-orang yang mengingkari semua perkara ghaib, termasuk adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta alam semesta ini. Mereka adalah kaum atheis (komunis) dari kalangan Dahriyyah (yang menyatakan bahwa alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, -pen.). Demikian pula orang-orang yang menapak jejak mereka dari kalangan atheis Sufi semacam Ibnu Arabi At-Tha`i penulis kitab Fushusul Hikam dan cs-nya yang mengklaim bahwa wujud ini hanya satu, dan hakekat wujud Allah adalah semua yang ada di alam semesta ini (yakni menyatu dengan makhluk), yang hakekat dari pemikiran tersebut adalah peniadaan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian mereka campakkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang beliau bawa, dengan suatu estimasi bahwa kewalian lebih baik dari kenabian dan khatimul auliya` (penutup para wali) lebih utama dari khatimul anbiya` (penutup para Nabi), bahkan dari semua Nabi.

2. Ahlul wahmi wat takhyil, yaitu orang-orang yang menyatakan bahwasanya para Nabi telah memberitakan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, hari kiamat, surga dan neraka, bahkan malaikat, dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Para Nabi tersebut menggambarkan kepada manusia (tentang semua itu) dari khayalan mereka; bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bertubuh besar, tubuh manusia akan dibangkitkan di hari kiamat, manusia akan mendapat kenikmatan dan merasakan adzab, padahal kenyataannya tidak demikian. Kedustaan ini, mereka (para Nabi) lakukan demi kamashlahatan umat, karena tidak ada cara yang lebih mendatangkan mashlahat dalam mendakwahi mereka kecuali dengan cara tersebut. Inilah pemikiran Ibnu Sina dan yang sejalan dengannya.

3. Ahlut tahrif wat ta`wil, yaitu orang-orang yang menyatakan bahwasanya para Nabi tidaklah memaksudkan (baca: memberitakan) kecuali sesuatu yang memang benar adanya, hanya saja kenyataan yang sebenarnya dari semua itu adalah apa yang bisa dijangkau oleh akal. Inilah pemikiran ahli kalam dan selainnya dari kalangan Mu’tazilah, Kullabiyyah, Salimiyyah, Karramiyyah, Syi’ah dll.

Dari sini, jelaslah bagi kita bahwa sikap mengedepankan akal atas dalil sam’i baik dari Al-Qur`an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam permasalahan semacam ini tidak bisa dibenarkan, bahkan sangat berbahaya. Asy-Syahrastani berkata: “Ketahuilah, bahwasanya syubhat pertama yang menimpa makhluk adalah syubhat iblis -la’natullah-. Pemicunya adalah mengedepankan akal daripada nash, dan mengekor hawa nafsu untuk menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kesombongannya terhadap bahan yang Allah ciptakan darinya (yakni api) atas bahan yang Allah ciptakan darinya Adam ‘alaihissalam (tanah liat).” (Al-Milal wan Nihal, hal. 14)

Bahkan perumpaan akal yang ‘didewakan’ itu; “Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatangi ‘air itu’, dia tidak mendapatinya sedikit pun Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau laksana kegelapan yang gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, dan di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 39 dan 40)

Hal ini sebagaimana pengakuan Abu Abdillah Ar-Razi, salah seorang tokoh mereka (Mu’tazilah):

Kesudahan mengedepankan akal adalah belenggu.4
Dan kebanyakan upaya (hasil pemikiran) para intelek itu adalah kesesatan
Ruh-ruh kami terasa amat liar di dalam tubuh-tubuh kami
Dan hasil dari kehidupan dunia kami adalah gangguan dan siksaan (batin)
Tidaklah didapat dari penelitian yang kami lakukan sepanjang masa
Melainkan kumpulan statemen-statemen (yang tak menentu)

Aku (Ar-Razi) telah memperhatikan dengan seksama berbagai seluk-beluk ilmu kalam dan metodologi filsafat, maka kulihat semua itu tidaklah dapat menyembuhkan orang yang sakit dan tidak pula memuaskan orang yang dahaga, dan (ternyata) metode yang paling tepat adalah metode Al-Qur`an.” (Lihat Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/160)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Engkau akan mendapati kebanyakan para intelek di bidang ilmu kalam, filsafat dan bahkan tasawuf, yang tidak mengindahkan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai orang-orang yang bingung. Sebagaimana yang dikatakan Asy Syahrastani:

“Sungguh aku telah keliling ke ma’had-ma’had (filsafat) tersebut
Dan seluruh pandanganku tertuju kepada mercusuar-mercusuarnya
Namun, tak kulihat padanya kecuali orang yang bingung sambil bertopang dagu
Dan orang yang menyesal sambil menggemertakkan giginya.”
(Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, 1/159)

Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah Terhadap Alam Ghaib
Para pembaca, Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Agama sempurna dan penyempurna bagi ajaran para Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agama yang telah memadukan antara konsep keilmuan yang benar dengan konsep keimanan yang lurus. Keilmuan yang berasaskan keimanan, dan keimanan yang ditunjang oleh keilmuan.

Adapun keilmuan semata tanpa mempedulikan norma-norma keimanan, maka kesudahannya adalah kebinasaan, sebagaimana halnya orang-orang Yahudi dan yang sejenisnya. Demikian pula keimanan (termasuk di dalamnya amalan) semata tanpa mempedulikan keilmuan, kesudahannya adalah kesesatan, sebagaimana halnya orang-orang Nashrani dan yang sejenisnya. Perpaduan antara dua konsep inilah yang menjadikan Islam sebagai agama wasathan (adil dan pilihan) dan bersih dari segala bentuk sikap berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Oleh karena itu, di antara para imam penulis kitab hadits yang menggunakan metode penyusunan berdasarkan babnya, ada yang memulai penyusunannya dengan (menyebutkan hadits-hadits tentang) pokok keilmuan dan keimanan. Sebagaimana yang dilakukan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang mana beliau memulainya dengan Kitab Bad`il Wahyi (awal mula turunnya wahyu); yang merinci tentang kondisi turunnya ilmu dan iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengiringinya dengan Kitabul Iman yang merupakan asas keyakinan terhadap apa yang dibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah itu diiringi dengan Kitabul Ilmi yang merupakan perangkat untuk mengenal apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikianlah tertib penyusunan yang hakiki. Begitu pula Al-Imam Abu Muhammad Ad-Darimi…” (Majmu’ Fatawa 2/4)

Para pembaca, alam ghaib ibarat alam yang gelap gulita, sedangkan Al-Qur`an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat dua cahaya yang terang benderang. Dengan dua cahaya itulah berbagai peristiwa dan kejadian di alam ghaib tersebut menjadi jelas dan terang. Atas dasar itulah, setiap pribadi muslim wajib untuk mengembalikannya kepada firman Allah (Al-Qur`an) dan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Al-Hadits).

Bila demikian, berarti semua perkara ghaib haruslah ditimbang dengan timbangan Islam yaitu; Al-Qur`an dan Al-Hadits dengan pemahaman para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika perkara ghaib (baca: yang dianggap ghaib) ternyata tidak ada keterangannya di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka keberadaannya tidak boleh diimani dan diyakini. Dan jika perkara ghaib tersebut diterangkan di dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, baik berkaitan dengan peristiwa-peristiwa di masa lampau maupun di masa datang, serta berbagai keadaan di akhirat dll, maka keberadaannya harus diimani dan diyakini, walaupun pandangan mata dan akal kita tidak menjangkaunya.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata:
“Iman kepada perkara ghaib ini mencakup keimanan kepada semua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan dari peristiwa-peristiwa ghaib di masa lampau dan di masa yang akan datang, berbagai keadaan di hari kiamat, dan tentang hakekat sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Taisir Al Karimirrahman hal. 24)

Beriman dengan (adanya) perkara ghaib yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa. Sedangkan tidak beriman dengan perkara ghaib tersebut merupakan ciri orang kafir atau ahli bid’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُو;ْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada perkara ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah: 1-3)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:
“Hakekat iman adalah keyakinan yang sempurna terhadap semua yang diberitakan para Rasul, yang mencakup ketundukan anggota tubuh kepadanya. Iman yang dimaksud di sini bukanlah yang berkaitan dengan perkara yang bisa dijangkau panca indra, karena dalam perkara yang seperti ini tidak berbeda antara muslim dengan kafir. Akan tetapi permasalahannya berkaitan dengan perkara ghaib yang tidak bisa kita lihat dan saksikan (saat ini). Kita mengimaninya, karena (adanya) berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah keimanan yang membedakan antara muslim dengan kafir, yang mengandung kemurnian iman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, seorang mukmin (wajib) mengimani semua yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya baik yang dapat disaksikan oleh panca inderanya maupun yang tidak dapat disaksikannya. Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan nalarnya maupun yang tidak dapat dijangkaunya.

Hal ini berbeda dengan kaum zanadiqah (yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, -pen.) dan para pendusta perkara ghaib (yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dikarenakan akalnya yang bodoh lagi dangkal serta jangkauan ilmunya yang pendek, akhirnya mereka dustakan segala apa yang tidak diketahuinya. Maka rusaklah akal-akal (pemikiran) mereka itu, dan bersihlah akal-akal (pemikiran) kaum mukminin yang selalu berpegang dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 23)

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu berkata: “(Setiap muslim, -pen.) wajib beriman kepada semua yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dinukil secara shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perkara tersebut dapat dilihat mata maupun yang bersifat ghaib. Kita mengetahui (baca; meyakini) bahwa semua itu benar, baik yang dapat dijangkau akal maupun yang tidak bisa dijangkau dan tidak dimengerti hakekat maknanya.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 101)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Berbagai macam berita yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka benar keberadaannya dan wajib dipercayai, baik dapat dirasakan oleh panca indera kita maupun yang bersifat ghaib, baik yang dapat dijangkau oleh akal kita maupun yang tidak.” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 101)

Demikianlah manhaj (prinsip) yang benar di dalam menyikapi alam ghaib dan berbagai peristiwanya. Siapa saja yang berprinsip dengannya, maka dia beruntung dan berada di atas jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَالَّذِيْنَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُوْرًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صِرَاطِ اللهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ أَلاَ إِلَى اللهِ تَصِيْرُ اْلأُمُوْرُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman, tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa hanya kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Asy-Syura: 52-53)

Penutup
Para pembaca, dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa:

1. Setiap muslim wajib beriman dengan (adanya) alam ghaib dan semua peristiwanya yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Baik yang dapat dijangkau oleh akal dan panca indra maupun yang tidak.
2. Mengedepankan akal dalam permasalahan semacam ini merupakan pangkal kesesatan.
3. Setiap muslim wajib memahami berita yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tentang alam ghaib dan peristiwanya, dengan pemahaman para shahabat Rasulullah (as-salafush shalih), karena ia merupakan jalan yang lurus. Dan tidak dengan pemahaman ahli kalam, filsafat, atheis sufi, dan bahkan atheis dahriyyah yang menyesatkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Kondisinya, setiap satu berita yang benar diiringi dengan seratus berita dusta. Sebagaimana hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 3210, 3288, 5762, 6213, 7561 dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2228.
2 Sebagaimana diterangkan dalam catatan kaki no. 1, hal. 5
3 Diringkas dari Dar`u Ta’arudhil Aqli Wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 5/3-4, 6/3-4, dan 1/8-13.
4 Yakni tidak menemukan solusi dari masalah yang dibahasnya.

Sumber : http://www.asysyariah.com, Judul Asli : Alam Ghaib dalam Sorotan, Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc

Mendalami karomah para wali

Definisi Karomah

Diantara keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah meyakini adanya Karomah dan ia datang dari sisi Allah Ta’ala. Tahukah, apa yang dimaksud dengan Karomah?

Karamah adalah kejadian di luar kebiasaan (tabiat manusia) yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya Karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari keluarbiasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam- macam keluarbiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh.” (Syarah Aqidah Al Wasithiyah hal.207).

Karomah ini tetap ada sampai akhir zaman dan terjadi pada umat ini lebih banyak daripada umat-umat sebelumnya, yang demikian itu menunjukan keridhoan Allah Ta’ala terhadap hamba-Nya dan sebagai pertolongan baginya dalam urusan dunianya atau agamanya. Namun bukan berarti Allah Ta’ala benci terhadap orang- orang yang tidak nampak karomah padanya.

Perkara “Karomah” ini telah tsabit (tetap) secara nash baik dalam Al Qur’an maupun Sunnah bahkan juga secara kenyataan.

Kepada siapakah Karomah ini diberikan?

Karomah ini Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman serta bertaqwa kepada-Nya, yang disebut dengan wali Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat wali-wali-Nya :

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”. (QS. Yunus: 62-63)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat- sifat mereka, yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat- Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.”

Kemudian mereka merealisasikan keimanan mereka dengan melakukan ketakwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan segala larangan-Nya. (Taisir Karimir Rahman karya As Sa’di hal, 368)

Apakah wali Allah itu memiliki atribut-atribut tertentu?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara dhahir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/194)

Apakah wali Allah itu harus memiliki karamah? Lebih utama manakah antara wali yang memilikinya dengan yang tidak?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan, wali Allah yang tidak memiliki karamah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karamah yang terjadi di kalangan para Tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para Sahabat, padahal para Sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para Tabi’in. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa 11/283)

Apakah setiap yang di luar kebiasaan dinamakan dengan ‘Karamah’?

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Nashir Ar Rasyid rahimahullah memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang di luar kebiasaan itu ada tiga macam:
- Mu’jizat yang terjadi pada para Rasul dan Nabi
- Karamah yang terjadi pada para wali Allah
- Tipuan setan yang terjadi pada wali-wali setan (Disarikan dari At Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313).

Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang mendapatkannya (wali) tersebut. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193)

Beberapa contoh Karamah

1. Allah Ta’ala berfirman:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”. (QS. Al Imran: 37)

Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata: “Ayat ini merupakan dalil akan adanya Karomah para wali yang keluar dari kebiasaan manusia, sebagaimana yang telah mutawatir dari hadits-hadits tentang permasalahan ini. Berbeda dengan orang-orang yang tidak meyakini tentang adanya Karomah ini.” (Taisir Karimur Rahman hal: 129)

2. Apa yang terjadi pada “Ashhabul Kahfi” (penghuni gua). Suatu kisah agung yang terdapat dalam surat Al Kahfi. Allah berfirman :

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13).

Mereka ini (Ashabul Kahfi) sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir (dengan pemerintahan yang kafir) lalu mereka lari dari masyarakat itu. Dalam rangka menyelamatkan agama mereka, kemudian Allah melindungi mereka di dalam Al Kahfi (gua yang luas yang berada di gunung).

Tatkala Allah Ta’ala telah selamatkan mereka di dalam gua tersebut, lalu Allah tidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang, disebutkan dalam ayat:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Al Kahfi:25).

3.Diantara Karomah para wali yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah apa yang terjadi pada Dzul Qarnain yaitu seorang raja yang shalih yang Allah nyatakan:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu”. (Al Kahfi :84)

4. Diantara Karomah para wali juga apa yang terjadi pada kedua orang tua seorang anak yang dibunuh oleh nabi Khidhir yang ketika itu nabi Musa mengatakan:

أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ

”Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih padahal dia tidak membunuh orang lain?“ (Al Kahfi:74), yang kemudian Khidhir menjawabnya:

وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

“Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang yang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan menariknya kepada kesesatan dan kekafiran.” (Al Kahfi:80)

5. Apa yang telah diriwayatkan secara mutawatir tentang berita Salafus Shalih dari para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, Tabi’in, Tabiut Tabi’in dan generasi setelah mereka tentang perkara Karomah yang terjadi pada diri mereka.

Perbedaan Antara Karomah Dan Perbuatan Syaithon

Ada sesuatu yang bukan mu’jizat dan juga bukan Karomah, dia adalah “Al Ahwal As Syaithoniyyah” (perbuatan syaithon). Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa ia Karomah, padahal justru tidak ada kaitannya dengan Karomah, karena:

- Karomah datangnya dari Allah Ta’ala sedangkan ia jelas datangnya dari syaithon. Sebagaimana yang terjadi pada Musailamah Al Kadzdzab dan Al Aswad Al Ansyi (Dua orang pendusta di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam yang mengaku menjadi nabi) dan menyampaikan perkara-perkara yang ghoib, ini jelas merupakan perbuatan syaithon.

- Demikian pula Karomah para wali disebabkan karena kuatnya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ”Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala maka ia pun menjadi wali Allah Ta’ala”. Sedangkan perbuatan syaithon ini dikarenakan kufurnya mereka kepada Allah Ta’ala dengan melakukan kesyirikan-kesyirikan serta kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, dan syarat-syarat tertentu yang harus ia lakukan.

- Karomah merupakan suatu pemberian dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang shalih dengan tanpa susah payah darinya, berbeda dengan perbuatan syaithon, maka ini terjadi dengan susah payah setelah sebelumnya ia berbuat syirik kepada Allah Ta’ala.

- Karomah para wali tidak bisa disanggah atau dibatalkan dengan sesuatupun. Berbeda dengan perbuatan syaithon yang dapat dibatalkan dengan menyebut nama- nama Allah Ta’ala atau dibacakan ayat kursi atau yang semisalnya dari ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan Syaikhul Islam menyebutkan bahwa ada seseorang yang terbang di atas udara kemudian datang seseorang dari Salafushshalih lalu dibacakan ayat kursi kepadanya maka seketika itu dia jatuh dan mati.

- Karomah itu tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri, justru dengan adanya Karomah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin mensyukuri nikmat Allah Ta’ala. Adapun perbuatan syaithon bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah Ta’ala, sehingga jelaslah bagi kita akan hakekat Karomah dan perbuatan syaithon.

Syubhat dan Bantahannya

Ada beberapa kelompok yang mengingkari adanya Karomah, yaitu: Jahmiyah, Mu’tazilah’ dan sebagian dari Asy’ariyah. Mereka berdalil dengan syubhat-syubhat yang dilandasi dengan akal mereka yang rendah. Mereka mengatakan: ”Bahwa terjadinya Karomah itu hanya merupakan perkara yang akan menjadikan kesamaran antara nabi dengan para wali dan antara wali dengan Dajjal.”

Bantahan syubhat ini (secara ringkas) adalah:

Pertama: kita yakin dengan keyakinan yang penuh bahwa Karomah itu benar-benar ada berdasarkan dalil baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah dan kenyataan yang ada.

Kedua: ucapan mereka bahwa Karomah dapat menjadikan kesamaran antara wali dengan seorang Nabi, justru tidaklah demikian karena wali sama sekali tidak berkaitan dengan kenabian, dan apa yang terjadi dari Karomah itu dikarenakan kuatnya keimanan dan ketakwaan dia kepada Allah Ta’ala dan disebabkan waro’nya.

Sedangkan kesamaan antara wali dengan Dajjal, maka sungguh dapat dilihat dari kehidupan seseorang yang terjadi padanya keluarbiasaan itu. Kemudian dilihat dari keadaan orang ini apakah dia seorang yang shalih atau seorang yang fasiq. Demikianlah timbangan yang benar didalam menghukumi seseorang yang terjadi padanya perkara-perkara yang di luar kebiasaan manusia.

Macam-Macam Manusia Dalam Mensikapi Masalah Karomah

Pertama: Orang-orang yang mengingkari adanya Karomah yaitu dari kelompok ahli bid’ah seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan sebagian dari Asy’ariyah. Dengan alasan yang telah disebutkan diatas.

Kedua: Orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan Karomah yaitu dari kalangan orang-orang “Sufi” dan para “Penyembah kubur”, yang menganggap segala keluarbiasaan itu sebagai Karomah, tanpa memperhatikan keadaan pelakunya atau pemiliknya.

Ketiga: Orang-orang yang mengimani serta membenarkan adanya Karomah dan mereka tetapkan Karomah tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
(Lihat syarah Al Aqidah Al Wasithiyah oleh As Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hal: 207-208)

Wallahu A’lam bis Shawab.

[Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 13/II/1425,  Judul asli " Hakekat Karomah". Penulis Amin Albarabisy]

Buletin Islam Al Ilmu Jember

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: