Pertanyaan Munkar dan nakir didalam kubur

Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi

Pertanyaan Mungkar dan Nakir telah disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya hadits Bara’ bin ‘Azib Radhiallahu’anhu, dia berkata,

“Pernah kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melayat jenazah salah satu laki-laki dari kalangan Anshar hingga kami sampai di pekuburan dan liang lahat belum digali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam duduk dan kami pun ikut duduk di sekitar beliau Shallallahu’alaihi wasallam. Seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, sedangkan pada tangan beliau Shallallahu’alaihi wasallam terdapat sebatang tongkat, beliau Shallallahu’alaihi wasallam hentakkan ke tanah sekali hentak kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam mengangkat kepalanya seraya mengatakan, “Mintalah perlindungan kepada Allah Azza wajalla dari adzab kubur!” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam ucapkan dua atau tiga kali. Lantas beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan perkataannnya,

“Sesungguhnya seorang hamba yang beriman tatkala berpisah dari dunia dan menuju alam akhirat maka akan turun kepadanya para malaikat dari langit dengan wajah putih berseri-seri seakan-akan wajah mereka seperti matahari, dan mereka membawa kafan di antara kafan-kafan dari surga dan wewangian dari wewangian- wewangian surga hingga mereka duduk sejauh mata memandang. kemudian setelah itu datanglah malaikat maut Alaihis salam hingga duduk di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, “Wahai jiwa yang baik keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah!” Berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, “Maka nyawanya keluar seperti keluarnya tetesan air dari bejana minum, kemudian malaikat maut mengambil nyawa tersebut dan apabila dia telah memegangnya maka para malaikat itu sama sekali tidak pernah membiarkannya berlama-lama di tangannya meskipun sekejap mata, hingga mereka memegangnya kemudian mengkafaninya dan memberinya wewangian. Lalu keluarlah darinya seperti bau misik paling baik yang dijumpai di muka bumi. Maka para malaikat tadi naik ke langit membawa ruh tersebut, tidaklah mereka melewati kerumunan malaikat dengan membawa nyawa tersebut melainkan para malaikat bertanya kepada mereka, “Ruh siapakah yang bagus ini?” Para malikat yang membawanya menjawab, “Ruh Fulan bin Fulan” dengan menyebutkan namanya yang paling bagus yang dipakai di dunia kemudian mereka minta agar dibukakan pintu baginya maka pintu langitpun dibukakan untuk mereka. Dia diantarkan oleh malaikat-malaikat yang ada di setiap langit sampai langit yang ketujuh. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku di ‘Illiyyin dan kembalikan dia ke bumi sebab darinya aku menciptakan mereka, dan kepadanya mereka akan aku kembalikan, dan darinya mereka akan aku keluarkan untuk kedua kalinya.” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Maka ruhnya dikembalkan ke jasadnya, kemudian datanglah dua malaikat menemuinya. Keduanya mendudukkannya serta bertanya kepadanya, “Siapakah Rabb-mu” Dia akan menjawab, “Rabb-ku adalah Allah.” Keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Agamaku Islam” Keduanya bertanya lagi, ” Siapakah laki-laki ini yang diutus ke tengah-tengah kalian?” Dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah.” Keduanya bertanya lagi, “Apa ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca Al Quran, kemudian aku beriman kepadanya dan aku membenarkannya.” Maka terdengarlah suara memanggil dari langit, “Telah benar hamba-Ku, maka hamparkanlah kepadanya hamparan dari surga, dan berilah ia pakaian dari pakaian surga, dan bukakanlah kepadanya pintu menuju surga.” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Maka datanglah kepadanya bau wangi dan harumnya surga dan dilapangkan baginya dalam kubur sejauh mata memandang. Kemudian setelah itu datanglah kepadanya seorang laki-laki bagus wajahnya, bagus pakaiannnya, dan harum baunya seraya mengatakan, “Berbahagialah dengan apa yang akan membahagiakanmu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu!” Maka dia berktanya kepada laki-laki tersebut, “siapa anda, wajah anda adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan?” Laki-laki tadi menjawab, “aku adalah amalanmu yang shalih.” Maka si hamba tadi mengatakan, “Rabbi, datangkanlah kiamat (secepatnya) hingga aku kembali bertemu dengan keluarga dan hartaku…!”

“Sesungguhnya seorang hamba yang kafir tatkala hendak berpisah dari dunia dan menuju ke alam akhirat maka akan turun kepadanya para malaikat dari langit dengan wajah hitam pekam dan membawa kafan hingga mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian setelah itu datanglah malaikat maut Alaihis salam hingga duduk di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, “Wahai jiwa yang amat buruk keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan Allah!” Berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, “Maka nyawanya terpencar dalam jasadnya, maka malaikat maut mencabuti nyawa tersebut seperti mencabuti besi (yang digunakan untuk memanggang sate) dari kain wool yang basah kemudian menangkapnya dan apabila dia telah memegangnya maka para malaikat itu tidak membiarkannya di tangannya meskipun sekejap mata, lalu mereka meletakkanya di kain kafan tadi. Maka keluarlah darinya bau bangkai paling busuk yang djumpai di muka bumi. Kemudian para malaikat tadi naik ke langit membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati kerumunan malaikat dengan membawa ruh tersebut melainkan para malaikat akan bertanya kepada mereka, “Ruh siapkah yang busuk ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Ruh Fulan bin Fulan” dengan menyebutkan namanya yang paling jelek yang dipakai di dunia. Hingga akhirnya mereka sampai ke langit dunia kemudian mereka minta agar dibukakan pintu baginya namun pintu langit tidak dibukakan untuknya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat,

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Al A’raaf: 40)

Maka Allah Ta’ala berfirman, “Tulislah kitabnya di dalam Sijjin pada lapisan bumi yang paling bawah!” Maka ruhnya dilemparkan ke bumi begitu saja. Kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dan Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah- olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al Hajj: 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya dan datanglah dua malaikat kepadanya kemudian mendudukkannya serta bertanya kepadanya, “Siapakah Rabb-mu?” Dia akan menjawab, “Hah…hah… aku tidak tahu.” Keduanya bertanya, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Hah…hah… aku tidak tahu.” Keduanya bertanya lagi, “Siapakah laki-laki ini yang telah diutus ke tengah-tengah kalian?” Dia menjawab, “Hah…hah… aku tidak tahu.” Maka terdengarlah suara memanggil dari langit, “Dusta dia, maka hamparkanlah kepadanya hamparan dari neraka, dan bukakanlah kepadanya pintu menuju neraka.” Maka sampailah kepadanya hawa panas neraka yang sangat panas dan dipersempit ruang kuburnya hingga tulang-tulang rusuknya bertautan. Setelah itu datanglah seorang laki-laki yang buruk rupa, buruk pakaiannya, dan sangat busuk baunya seraya mengatakan, “berbahagialah dengan apa yang akan menyesengsarakanmu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu! Maka dia bertanya kepada laki-laki tersebut, “Siapa kamu, wajah kamu adalah wajah orang yang datang membawa keburukan?” Laki-laki tadi menjawab, “Aku adalah amalanmu yang busuk.” Maka dia mengatakan, “Rabbi, jangan Engkau tegakkan hari kiamat…!” (HR. Ahmad, An Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1676, 1/346)

Dan hadits-hadits yang berkenaan dengan adzab kubur banyak sekali, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman dengan adanya adzab kubur serta pertanyaan Mungkar dan Nakir, adapun Mu’tazilah, mereka mengingkari adanya adzab kubur. Wal ‘iyadzubillah. Wabillahit taufiq.

[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 136-143]

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: