Jin itu berbentuk hawa atau jasad?

Faidah dari Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah.

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan: Jin itu berbentuk hawa atau jasad?

Jawaban: Jin itu berbentuk jasad dengan berbagai macam jenisnya. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrany (22/214-215) no. 573, Al-Baihaqy dalam Al-Asma’ wa Ash-Shifat no. 827 dan Al-Hakim (2/456) dari Abu Tsa’labah, dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam ta’liqnya terhadap Al-Misykah no. 4148 dan Syaikh kami Al-Wadi’y dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fii Ash-Shahihain no. 1213, bahwa Rasulullah ‘alaihi shalatu wa salam bersabda;

الْجِن عَلى َثلاَثةِ أصنافٍ : صِنف لهم أجنِحةٌ يطِيرون فِي الْهواءِ، وصِنف حيات، وصِنف يحِلُّون ويظعنون.

“Jin itu ada tiga jenis. Satu jenis yang memiliki sayap yang terbang di udara, jenis yang berbentuk ular, dan jenis yang menetap dan pergi”.

Hadits ini adalah nash yang menunjukkan bahwa jin itu berupa jasad, dan tidaklah terpahami dari lafazh “jenis yang memiliki sayap yang terbang di udara” bahwa mereka itu tidak berbentuk jasad, karena sayap itu berbentuk jasad dan tidaklah ada kecuali pada jasad pula. Dan begitulah malaikat yang memiliki sayap dua atau tiga atau empat, terbang ke langit yang tinggi dan dia berbentuk jasad. Demikian pula Al-Qur’an Al-karim menerangkan bahwa jin yang terbang itu berbentuk jasad. Allah berfirman mengabarkan apa yang diucapkan oleh Al-’Ifrit kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi shalatu wa salam;

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ. النمل: ٣٩

“Berkatalah ‘Ifrit dari bangsa jin: “Aku akan datngkan ia padamu sebelum engkau berdiri dari tempatmu, dan aku sungguh kuat lagi terpercaya atasnya” An-Naml: 39

Kalaulah tidak berbentuk jasad niscaya tidak akan bisa memegang benda yang dibawa, dan tidak pula mampu untuk menjaganya. Demikian pula jin-jin yang terbang tersebut diciptakan dalam bentuk jasad yang berkeliaran di muka bumi. Jika mereka ingin terbang maka mereka berupah wujud kemudian mereka terbang. Maka jin dan syaithan yang merasuki kepada manusia untuk memberikan was-was dan selainnya mengubah wujudnya menjadi hawa. Ini adalah perkara yang sudah diketahui dan ini merupakan dalil bahwa mereka itu berbentuk jasad.

Kebanyakan ulama menyatakan bahwa jin itu berbentuk jasad. Adapun yang mengatakan bahwa “mereka itu berbentuk hawa” mereka tidak memiliki dalil dari alkitab dan as-sunnah, dan yang paling puncak dari apa yang mereka miliki adalah; Diriwayakan dari Wahb bin Munabbih sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syibly dalam Akam Al-Marjan Fii Ahkam Al-Jan halaman 31 bahwa dia berkata: “Jin itu berjenis-jenis, adapun jin yang murni itu berbentuk udara mereka tidak makan tidak minum dan tidak pula beranak. Dan diantara mereka ada yang makan, minum, beranak dan nikah. Diantara mereka: As-Sa’aly (tukang sihir dari bangsa jin), AlGhaul (raksasa atau sebangsa penghancur) dan Al-Quthrub (laki-lakinya al-ghaul)[1] dan yang semisal dengan hal itu. Saya berkata: Jika ini shahih darinya, merupakan sesuatu yang diketahui bahwa Wahb dulunya adalah seorang rahib, dan dia mengambil dari buku-buku ahlul kitab, sementara buku-buku ahlul kitab itu penuh dengan penyimpangan dan penipuan.

Sebagian mereka berdalil bahwa jin itu hawa yaitu udara dengan sabda Nabi;

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaithan berjalan pada diri anak Adam selayaknya peredaran darah”

Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhary (6219) dan Muslim (2175) dari Shafiyah. Hadits ini, tidak ada padanya dalil akan perkara yang pemiliki pendapat ini berdalil dengannya. Karena mereka berjalan pada diri kita selayaknya peredaran darah bukan karena mereka itu hawa. Akan tetapi dikarenakan apa yang diberikan oleh Allah Ta’ala pada mereka berupa kemampuan untuk berubah bentuk. Maka pendapat yang menyatakan jin itu ruh bukan jasad adalah pendapat yang keliru dengan kekeliruan yang nyata. Karena hal itu bertentangan dan bertabrakan dengan dalil-dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah diketahui dari islam secara fitrah, ijma’, akal dan panca indra. Dan berikut saya sebutkan dalil-dalilnya secara umum:

1.       Para jin itu makan dan minum.

2.       Para jin itu saling menikah dan berketurunan.

3.       Para jin itu berubah bentuk dan menyamar ke dalam bentuk manusia dan hewan.

4.       Para jin itu melakukan perbuatan yang banyak, berupa pembangunan, perindustrian, membawa barang berat dan selain dari itu.

5.       Para jin itu tertimpa beberapa keadaan seperti sakit, takut, kuat, lemah, hidup, mati dan selain dari hal itu.

6.       Para jin itu terkadang sebagian makhluk melihat mereka, seperti keledai. Rasulullah bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Jika kalian mendengar ringkikan keledai maka berlindunglah kalian kepada Allah dari syaithan, sesungguhnya dia melihat syaithan.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhary no. 3303 dan Muslim no. 2729.

7.       Ketika jin itu menyamar dalam bentuk manusia maka dia mampu untuk mengganggu manusia dengan memukulnya, membunuhnya dan menahannya dari bergerak. Dan selain dari hal itu.

Pembahasan ini telah dipaparkan dali-dalilnya oleh para ulama dalam karya tulis yang banyak yang khusus dalam masalah jin dan syaithan. Seperti kitab “Akam Al-Marjan Fii Ahkam Al-Jan” karya Asy-Syibly dan kitab “Luqath Al-Marjan Fii Ahkam Al-Jan” karya As-Suyuthy, dan selain dari itu.

Orang yang mengatakan bahwa jin itu ruh, mereka melihat bahwa jin itu masuk pada diri manusia dan berjalan padanya selayaknya peredaran darah, maka mereka menyangka bahwa jin itu ruh, padahal tidak demikian.

Hanya saja yang diambil faedah dari pernyataan bahwa jin itu berjalan pada diri kita selayaknya peredaran darah adalah bahwa Allah memberikan kepada mereka kemampuan untuk mengubah diri mereka menjadi seperti hawa. Karena jin yang berada pada jasad manusia mampu untuk menjadi besar sedang dia berada dalam jasad sehingga nampaklah pembesarannya pada badan manusia.

Sesuai dengan hal yang telah lewat penjelasannya, jelaslah bagi para pembaca bahwasannya peniadaan jasad dari jin itu tidak benar.

Pertanyaan: Bagaimana jin dan syaithan masuk ke dalam badan manusia sedangkan mereka berbentuk jasad?

Jawaban: Jin dan syaithan itu berbentuk jasad. Dan ini adalah kenyataan yang tiada mengingkarinya kecuali orang yang bodoh atau orang yang sombong. Adapun bagaimana caranya jin mendapatkan kemampuan untuk masuk pada dalam badan manusia dan binatang sedangkan dia adalah jasad maka kita katakan; Hal itu terjadi dan terwujud dan tiada yang menolaknya. Dan sebab akan hal itu adalah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada jin dan syaithan kemampuan untuk mengubah diri dari bentuk ciptaannya yang asli. Dan perubahan ini terjadi kepada bentuk jasad yang lain, seperti jin berubah menjadi bentuk manusia dan terkadang berubah menjadi angin udara dan hawa. Jika jin itu berubah ke dalam bentuk udara dan hawa -dan ini mampu mereka lakukan dengan izin Allah- mereka mampu masuk ke dalam diri manusia dan mampu untuk berjalan pada setiap pembuluh darah dari embuluh darah manusia, sebagaimana air mengalir pada tempat mengalirnya. Dan dalil akan hal ini adalah sabda Rasulullah ‘alaihi shalatu wa salam;

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaithan berjalan pada diri anak Adam selayaknya peredaran darah”

Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhary (6219) dan Muslim (2175) dari Shafiyah.

Dan dari hadits Anas diriwayatkan oleh Muslim (2611), Ahmad (3/229) dan selain keduanya, bahwa Rasulullah bersabda;

لَمَّا صَوَّرَ اللَّهُ آدَمَ فِى الْجَنَّةِ تَرَكَهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَتْرُكَهُ فَجَعَلَ إِبْلِيسُ يُطِيفُ بِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ عَرَفَ أَنَّهُ خُلِقَ خَلْقًا لاَ يَتَمَالَكُ

“Ketika Allah membentuk Adam di dalam surga Allah meninggalkannya sebagaimana Allah kehendaki untuk meninggalkannya. Maka datanglah Iblis mengitarinya dan melihat apakah itu. Maka ketika dia melihat bahwa dia itu berongga dia tahu bahwa telah diciptakan makhluk yang tidak memiliki penolak was-was.”

Akal tidaklah mengingkari hal ini, dan orang yang kesurupan adalah bukti akan hal ini. Ketika seorang manusia menemukan was-was pada dadanya bersama jiwanya sesuatu yang tidak diinginkan oleh jiwa. Bahkan ada sebagian orang dipengaruhi oleh syaithan dengan was-was sampai-sampai dia memaksanya untuk melakukan perbuatan yang mencelakakan dirinya, berupa pemukulan, pembunuhan dan sebagainya.

Dikirim via e-mail oleh Al-Akh ‘Umar Al-Indunisy.

(Ma’bar 20/04/1431H)

Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=493#more-493

Iklan

Lima Tahapan Kehidupan yang Dialami Manusia

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah berkata :

Dinamakan dengan hari akhir karena sudah tidak ada hari lagi sesudahnya dan ini adalah tahapan akhir yang dialami manusia. Dan manusia itu mengalami lima tahapan kehidupan:

Tahapan ketiadaan, kemudian tahapan di alam rahim, kemudian alam dunia, dan kemudian alam barzakh, dan kemudian alam akhirat.

1. Tahapan ketiadaan adalah sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Tabaroka wata’ala,

هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (al Insan: 1)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al Hajj: 5)

2. Adapun tahapan alam rahim, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (az Zumar: 6)

3. Adapun tahapan kehidupan dunia, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (an Nahl: 78)

Dan pada tahapan inilah yang menentukan bahagia dan celakanya dan merupakan negeri ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah Tabaroka wat’ala,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al Mulk: 2)

4. Adapun tahapan alam barzakh, Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentangnya,

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan” (al Mukminun: 100)

5. Adapun tahapan kehidupan akhirat adalah tahapan tujuan dan ujung dari semuanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman setelah menyebutkan tahapan- tahapan kehidupan manusia,

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

“Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (al Mukminun: 16)

Mengimani apa-apa yang akan terjadi setelah kematian

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Beriman dengan segala yang dikabarkan nabi Shallallahu’alaihi wasallam dari apa-apa yang akan terjadi setelah kematian.

Semua ini masuk dalam keimanan dengan hari akhir. Yang demikian itu karena manusia apabila telah mati dia akan memasuki hari akhir tersebut, sehingga dikatakan: orang yang telah mati itu telah terjadi kiamatnya. Dan segala sesuatu yang terjadi seelah kematian adalah termasuk bagian dari hari akhir. Kalau demikian betapa dekatnya hari akhir dengan kita, tidaklah ada pembatas antara kita dengan hari akhir kecuali kematian manusia. Kemudian kita masuk ke dalam hari akhir yang mana tidak ada di sana kecuali balasan-balasan amalan. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk memperhatikan perkara ini.

Pikirkanlah wahai manusia. Engkau mendapati dirimu dalam bahaya, karena maut itu tidak seorangpun di antara kita yang mengetahui kedatangannya. Terkadang seseorang keluar rumahnya akan tetapi dia tidak kembali lagi ke rumahnya. Terkadang ada manusia yang duduk di atas kursi di kantornya tetapi dia tidak bisa bangkit lagi darinya. Terkadang seseorang tidur di atas kasurnya akan tetapi tidurnya membawanya ke atas tempat pemandian jenazah. Dan ini adalah perkara- perkara yang mewajibkan kita untuk memanfaatkan kesempatan umur kita untuk bertaubat kepada Allah Azza wajalla dan agar manusia itu terus menerus merasakan dirinya bertaubat kepada Allah Azza wajalla dan kembali kepada-Nya. Sehingga jika datang ajalnya dia dalam keadaan baik amalannya seperti yang dia cita-citakan.

[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 13-17]

Sumber : http://sunniy.wordpress.com

 

 

Bentuk-Bentuk Hisab di Akhirat

Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65)
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushshilat: 21)
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاقِيهِ. فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ. فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 6-8)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحِكَ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مِمَّ أَضْحَكُ؟ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مِنْ مُخَاطَبَةِ الْعَبْدِ رَبَّهُ. يَقُولُ: يَا رَبِّ أَلَمْ تُجِرْنِي مِنْ الظُّلْمِ؟ يَقُولُ: بَلَى. فَيَقُولُ: فَإِنِّي لَا أُجِيزُ عَلَى نَفْسِي إِلَّا شَاهِدًا مِنِّي. فَيَقُولُ: كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ شَهِيدًا وَبِالْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ شُهُودًا. فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ فَيُقَالُ لِأَرْكَانِهِ انْطِقِي قَالَ فَتَنْطِقُ بِأَعْمَالِهِ. ثُمَّ يُخَلَّى بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَلَامِ فَيَقُولُ: بُعْدًا لَكُنَّ وَسُحْقًا فَعَنْكُنَّ كُنْتُ أُنَاضِلُ
“Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tertawa dan bertanya: “Tahukah kalian apa yang membuatku tertawa?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Aku menertawakan percakapan seorang hamba dengan Rabbnya. Ia berkata, “Wahai Rabb, bukankah Engkau telah menghindarkanku dari kezhaliman?” Allah menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak mengizinkan diriku (untuk dihisab) kecuali jika saksinya berasal dari diriku sendiri.” Allah berfirman, “Kalau begitu pada hari ini cukuplah jiwamu yang menjadi saksi atas dirimu,” (Al Israa`: 16) dan juga para malaikat yang mulia yang mencacat amalanmu menjadi para saksi.” Maka dibungkamlah mulutnya dan dikatakan kepada anggota badannya, “Bicaralah.” Maka anggota badannya pun mengungkap semua amal perbuatan yang dilakukannya.” Beliau meneruskan, “Kemudian diapun dibiarkan berbicara maka dia berkata, “Menjauh dan celakalah kalian, untuk melindungi kalianlah aku berjuang?” (HR. Muslim no. 1054)
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya oleh seorang lelaki, “Bagaimana anda mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang an-najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hamba-Nya pada hari kiamat)?” Maka dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya Allah mendekat kepada seorang mukmin lalu Dia melindungi dan menutupinya. Lalu Allah berfirman, “Apakah kamu mengenal dosamu yang ini? Apakah kamu mengenal dosamu yang ini?” Maka mukmin tersebut berkata: “Ya, wahai Rabbku”. Hingga ketika Dia telah membuat dia mengakui semua dosanya dan dia memandang bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman, “Aku telah menutupi semua dosamu itu di dunia dan Aku mengampuninya untukmu pada hari ini.” Maka orang itu diberikan kitab catatan kebaikannya. Adapun orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi berkata, “Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Rabb mereka. Maka laknat Allah atas orang-orang yang zhalim”.(QS. Hud: 18) (HR. Al-Bukhari no. 2441)

Penjelasan ringkas:
Selain qishash, pada hari kiamat Allah Ta’ala juga menetapkan adanya hisab atas setiap hamba-hambaNya, yang mukmin maupun yang kafir. Adapun bentuk hisabnya, maka sesuai dengan hikmah dan keadilan Allah. Di antara mereka ada yang dihisab dengan hisab yang mudah, yang kaifiatnya sebagaimana dijabarkan dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma di atas. Di antara mereka ada yang dihisab dan diadili dengan saksi dari anggota tubuh mereka sendiri. Dan di antara mereka ada yang dosanya diperdengarkan dengan keras di hadapan seluruh makhluk untuk mempermalukan mereka.
Allahumma hasibnaa hisaban yasira (Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah)

 


Penghalang Malaikat Rahmat Masuk ke Rumah

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing [1] dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing” [Hadits sahih ditakhrij oleh Thabrani dan Imam Dhiyauddin dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat pula Shahihul Jami’ No. 1962]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah dan lihat Shahihul Jami’ No. 1961]

Ibnu Hajar (3) berkata : “Ungkapan malaikat tidak akan memasuki….” menunjukkan malaikat secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)”. Tetapi, pendapat lain mengatakan : “Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : “Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing itu menempel najis.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. “Kapan anjing ini masuk ?” tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : “Entahlah”. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. “Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: “Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits Riwayat Muslim].

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing”. [Hadits Riwayat Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : “Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]

Sementara itu, mengenai hukum yang berkaitan dengan hasil jual beli anjing (harga anjing), terdapat beberapa nash yang mengharamkan, diantaranya adalah sebagai berikut. Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hasil yang diperoleh dari jual beli anjing, darah, dan usaha pelacuran [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari juga ditakhrijkan dalam Ahaditsul Buyu’ oleh Imam ay-Thayalisi, Imam Ahmad, juga oleh Baihaqi. Dan lihat Shahihul Jami’ no. 6949].

Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing dan kucing (4) Selain itu, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing, hasil kezaliman, dan upah dari hasil praktik perdukunan [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari, Muslim, Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6951].

Imam al-Baghawi berkata (5) : “Menurut mayoritas ulama, jual beli anjing itu hukumnya haram sebagaimana upah dari hasil perdukunan (pertenungan), dan pelacuran. Kaitannya dengan hal itu, Abi Hurairah berkata : “Semuanya itu tergolong dalam penghasilan haram”.

Footnote :
1. Yang sangat kami sayangkan adalah adanya beberapa orang yang mengaku modern dan maju memiliki anjing dan menganggapnya sebagai teman serta digauli melebihi pergaulannya terhadap manusia. Hal itu dilakukan dalam rangka meniru kebiasaan masyarakat barat.
2. Di dalam kitab Faidhul-Qadir 2/394, Imam al-Manawi mengatakan : “Yang dimaksud dengan malaikat pada hadits tersebut adalah malaikat rahmat dan keberkahan atau malaikat yang bertugas keliling mengunjungi para hamba Allah untuk mendengarkan dzikir dan sejenisnya, bukan malaikat penulis amal perbuatan manusia karena malaikat itu tidak akan pernah meninggalkan manusia sekejap pun sebagai mana halnya malaikat maut. Mengapa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing ?. Karena anjing itu mengandung najis, sedangkan malaikat terpelihara dari tempat-tempat yang kotor. Mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia serta tetap berada pada tingkat kebersihan dan kesucian yang paling luhur. Perbandingan antara malaikat yang suci dan anjing yang najis laksana terang dan gelap. Barangsiapa yang mendekati anjing, malaikat akan menjauh darinya.
3. Fathul Bari bab 48 At-Tashawir hadits No. 5949
4. Hadits shahih ditakhrijkan oleh Ahmad, hakim, dan Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6950
5. Lihat Syarhus Sunnah 8/23

 

Penulis: Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad

(Dikutip dari Buyuut Laa tad khuluha al malaikat, edisi Indonesia Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat, penulis Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad.)

salafy.or.id

 

Munculnya Ad-Dukhan Pada Akhir Zaman

Munculnya asap pada akhir zaman merupakan salah satu tanda kiamat besar yang ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab dan As-Sunnah.

Dalil-dalil tentang hal ini dari Al-Qur`an adalah:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ. يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (Ad-Dukhan: 10-11)

Maknanya, tunggulah orang-orang kafir itu –wahai Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam)– pada hari di mana langit mendatangkan asap yang nyata lagi jelas, yang menutupi serta meliputi manusia. Ketika itu, dikatakan kepada mereka: “Inilah adzab yang pedih”, sebagai celaan dan cercaan keras terhadap mereka. Atau sebagian mereka mengucapkan kalimat ini kepada yang lain.1

Tentang apa yang dimaksud dengan ad-dukhan ini, apakah sudah terjadi atau merupakan tanda yang masih ditunggu terjadinya, ada dua pendapat ulama:

1. Ad-dukhan ini adalah apa yang menimpa kaum Quraisy berupa kesempitan hidup dan kelaparan yang terjadi ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan bagi mereka karena tidak mau memenuhi dakwah beliau. Mereka melihat sesuatu seperti asap di langit. Pendapat inilah yang dipegang Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan diikuti sekelompok salaf.

Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada lima perkara yang telah berlalu: Al-lizam2, Romawi, al-bathsyah, bulan, dan asap.”

Ketika seorang lelaki dari Kindah berbicara tentang ad-dukhan: “Sesungguhnya ad-dukhan akan datang (menjelang) hari kiamat, mengambil pendengaran dan penglihatan orang-orang munafiq,” marahlah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: “Barangsiapa yang berilmu, berbicaralah. Dan barangsiapa yang tidak berilmu, ucapkanlah: ‘Allah lebih tahu.’ Karena mengucapkan ‘Aku tidak tahu’ ketika memang tidak tahu merupakan bagian ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi-Nya:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan’.” (Shad: 86)

Sesungguhnya Quraisy senantiasa mengulur-ulur waktu untuk masuk Islam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan bagi mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

اللَّهُمَّ أَعِنِّـي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ

“Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh (tahun) sebagaimana tujuh (tahun paceklik) Yusuf.”

Maka mereka dihukum satu tahun hingga binasa, memakan bangkai dan tulang, dan seseorang bisa melihat sesuatu seperti asap di antara langit dan bumi.”3

Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, kemudian beliau mengatakan: “Karena Allah –yang Maha Mulia pujian-Nya– mengancam musyrikin Quraisy dengan asap, dan bahwa firman-Nya kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

berada pada konteks pembicaraan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang kafir Quraisy, dan cercaan-Nya terhadap kesyirikan mereka terhadap-Nya, dengan firman-Nya:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءَابَائِكُمُ اْلأَوَّلِينَ. بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ

“Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan.” (Ad-Dukhan: 8-9)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala meneruskannya dengan firman-Nya kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

yang merupakan perintah kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar, hingga datang adzab-Nya kepada mereka. Hal ini juga merupakan ancaman bagi kaum musyrikin. Hal itu merupakan ancaman bagi mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan kepada mereka. Ini lebih dekat (kepada kebenaran) daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala tunda lalu Dia timpakan kepada selain mereka.4

2. Asap ini merupakan salah satu tanda yang masih ditunggu dan belum terjadi. Hal ini akan terjadi mendekati datangnya hari kiamat.

Pendapat inilah yang dipegang Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sebagian shahabat dan tabi’in. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah5, dia berkata: “Suatu hari, aku bersama Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di waktu pagi. Dia berkata: ‘Aku tidak tidur tadi malam hingga subuh.’ Aku bertanya: ‘Mengapa?’ Dia berkata: ‘Mereka mengatakan, bintang Dzu Dzanbin telah terbit. Aku khawatir ad-dukhan telah muncul, maka aku tidak tidur hingga subuh’.”

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas habrul ummah, penerjemah Al-Qur`an. Dan begitu pula pendapat orang yang menyepakatinya dari kalangan shahabat dan tabi’in seluruhnya, bersamaan dengan adanya hadits-hadits yang shahih maupun hasan dan selainnya yang mengandung kecukupan dan dalil yang jelas bahwa ad-dukhan adalah salah satu tanda yang belum terjadi, dan sekaligus juga itulah zhahir Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

Maksudnya, yang nyata dan jelas, bisa dilihat semua orang. Adapun yang ditafsirkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu itu adalah bayangan yang dilihat mata mereka karena lapar dan kesengsaraan yang sangat.

Begitu pula firman-Nya:

يَغْشَى النَّاسَ

“Yang meliputi manusia.” (Ad-Dukhan: 11)

Maksudnya, menutupi dan mencakup mereka. Kalaulah hal itu suatu bayangan yang hanya dilihat penduduk musyrikin Makkah, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan berfirman “yang meliputi manusia.”

Dan disebutkan dalam Ash-Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Dia berkata: “Ad-Dukh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tetaplah di tempatmu. Engkau tidak akan melampaui batasmu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan terhadapnya:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

Dalam hadits ini ada dalil ad-dukhan adalah sesuatu yang belum terjadi dan masih ditunggu, karena Ibnu Shayyad adalah seorang Yahudi Madinah. Padahal kisah ini tidaklah terjadi kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah. Selain itu, hadits-hadits shahih menyebutkan bahwa ad-dukhan merupakan tanda-tanda kiamat yang besar, sebagaimana akan dijelaskan.

Adapun penafsiran Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, itu merupakan ucapan beliau saja. Dan sesuatu yang marfu’ (diriwayatkan sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) didahulukan atas setiap yang mauquf (diriwayatkan sampai kepada shahabat).

Sebagian ulama mengompromikan riwayat-riwayat ini dengan menyatakan bahwa itu adalah dua asap. Salah satunya sudah terjadi, sedangkan yang kedua –yang muncul menjelang hari kiamat– belum. Yang sudah muncul adalah yang dilihat oleh bangsa Quraisy layaknya asap, namun bukan asap hakiki, yang terjadi ketika munculnya tanda-tanda hari kiamat.

Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Mujahid rahimahullahu berkata: ‘Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dahulu berkata: Itu adalah dua asap. Salah satunya telah terjadi. Adapun yang belum terjadi, asapnya akan memenuhi antara langit dan bumi. Asap itu akan menyebabkan seorang yang beriman akan terkena semacam selesma (flu), sedangkan orang kafir akan tembus pendengarannya’.”

(Diambil dari Asyrathus Sa’ah, hal. 383-388)

1 Tafsir Al-Qurthubi (16/130), Tafsir Ibnu Katsir (7/235-236).
2 Yaitu yang disebutkan dalam surat Al-Furqan ayat 77:

فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

“Padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian).”
Yakni akan terjadi adzab yang pasti, yang membinasakan mereka sebagai buah dari pendustaan mereka. Yang dimaksud di sini adalah pembunuhan dan penawanan terhadap kaum kafir Quraisy ketika perang Badr. Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/143 dan 305), Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi (17/143).
3 Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tafsir, Surat Ar-Rum (8/511, bersama Al-Fath) dan Bab Yaghsyan Nas Hadza Yaumun ‘Azhim (8/571, bersama Al-Fath), Shahih Muslim, Kitab Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Nar, Bab Ad-dukhan (17/140-141, bersama Syarh An-Nawawi).
4 Tafsir Ath-Thabari (25/114).
5 Dia adalah Abdullah bin Ubaidullah bin Abi Mulaikah Zuhair bin Abdillah bin Jad’an At-Taimi Al-Makki, salah seorang hakim dan muadzin pada pemerintahan Ibnuz Zubair. Dia meriwayatkan dari Abdullah yang empat. Dia seorang yang tsiqah dan banyak haditsnya, meninggal tahun 117 H. Lihat Tahdzibut Tahdzib (5/306-307).

http://www.asysyariah.com

Peristiwa Ketika Manusia Tenggelam Oleh Keringatnya di Hari Kiamat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Seperti yang disebutkan oleh penulis kitab Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dalam perkataannya :

وَيُلْجِمُهُمْ الْعَرَقُ

Dan Manusia tenggelam oleh keringatnya sampai mulutnya.

Akan tetapi ini adalah keringat yang paling tinggi karena sebagiannya ada yang hanya sampai kedua mata kakinya dan sampai kedua lututnya. Dan ada yang sampai pinggangnya, dan sebagiannya juga ada yang sampai mulutnya. Dan manusia itu bermacam-macam kadar keringatnya. Manusia berkeringat disebabkan karena sangat panasnya (suasananya), karena tempat pada waktu itu sangat berdesakkan lagi payah dan karena didekatkannya matahari, sehingga manusia ditenggelamkan (keringat) karena suasana pada hari itu, akan tetapi tenggelamnya sesuai dengan amalan-amalan mereka.1

Kalau engkau katakan: ”Bagaimana bisa terjadi hal yang demikian padahal mereka dalam satu tempat?”

Maka jawabannya: ”Sesungguhnya kita selalu berpedoman dengan kaidah yang wajib kita kembali kepadanya, yaitu:

ان الا مور الغيبة يجب علينا ان نؤمن بها ونصدق دون ان نقول: كيف؟! ولم؟! لانها شيء وراء عقولنا، ولا يمكن ان ندركها او نحيط بها

Sesungguhnya dalam perkara-perkara ghaib wajib bagi kita untuk beriman dengannya, dan mempercayainya tanpa bertanya bagaimana dan mengapa. Karena ini adalah perkara yang dibalik akal-akal kita yang tidak mungkin bagi kita untuk menjangkaunya atau meliputinya.

Bagaimana menurutmu kalau ada dua orang yang dikubur dalam satu lubang, yang pertama mukmin dan yang kedua kafir. Maka yang mukmin akan mendapat kenikmatan yang berhak dia dapatkan, dan yang kafir akan mendapat adzab yang berhak dia dapatkan. Dan keduanya dalam satu lubang kubur, maka demikian pula yang kita katakan tentang permasalahan keringat pada hari kiamat.”

Kalau engkau berkata: “Apakah engkau akan katakan, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengelompokkan orang-orang yang tenggelam dengan keringatnya sampai di mulutnya dalam suatu tempat, dan yang tenggelam sampai dua mata kakinya dalam satu tempat, dan yang tenggelam sampai lututnya dalam satu tempat, dan ada yang sampai di pinggangnya dalam satu tempat?”

Maka jawabannya: ”Tidaklah harus demikian keadaannya. Allah Ta’ala Maha Tahu, bahkan kita katakan boleh-boleh saja kalau orang-orang yang tenggelam sampai mata kakinya akan berkumpul dengan orang-orang yang tenggelam sampai di mulutnya, dan Allah Ta’ala Maha mampu terhadap segala sesuatu. Maka kejadiannya seperti cahaya milik orang mukmin yang ada di hadapannya dan di kanannya. Dan orang-orang kafir berada dalam kegelapan. Maka perkara hari kiamat itu wajib bagi kita untuk mengimaninya dan beriman dengan apa-apa yang akan terjadi di dalamnya. Adapun bagaimana dan kenapa maka ini bukan urusan kita.”

[Dinukil dari kitab Syarh Al ‘Aqiidah Al Waasithiyyah bab Al Iimaan bil Yaumil Aakhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian di Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Isnaad Tangerang, hal. 52-54]

__________
Footnote:

1 Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Muslim (2864) dari hadits Al Miqdad bin Al Aswad radhiallahu’anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Matahari akan didekatkan pada hari kiamat dengan makhluk hingga jaraknya dengan mereka sejauh satu mil, maka manusia akan berkeringat sesuai dengan kadar amalan mereka, di antara mereka ada yang ditenggelamkan hingga dua mata kakinya, di antara mereka ada sampai kedua lututnya, di antara mereka ada yang ditenggelamkan sampai pinggangnya, di antara mereka ada yang sampai ditenggelamkan hingga mulutnya.” Berkata Al Miqdad : Beliau sambil berisyarat ke mulutnya.

Sumber : http://sunniy.wordpress.com/2011/05/25/peristiwa-ketika-manusia-tenggelam-oleh-keringatnya-di-hari-kiamat/

 

Peristiwa Didekatkannya Matahari di Atas Kepala pada Hari Kiamat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Diisyaratkan penulis kitab Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dengan perkataannya :

وَتَدْنُو مِنْهُمْ الشَّمْسُ

Matahari akan didekatkan kepada mereka.

Yakni didekatkan kepada mereka sejauh satu mil. Dan jarak satu mil tersebut sama saja, apakah satu mil jarak perjalanan (1 mil = +1,6 km) atau satu mil (seperti batang/stick untuk memakai celak mata), yang demikian itu sangat dekat. Kalau di dunia saja sudah sedemikian panasnya, sementara jaraknya dengan kita sedemikian jauhnya, lalu bagaimanakah kalau matahari tersebut didekatkan satu mil ke kepala kita?1

Terkadang ada yang berkata: “Sudah ma’ruf sekarang, kalau matahari didekatkan sedekat rambut niscaya akan membakar bumi, bagaimana mungkin ketika hari itu didekatkan sedekat itu, dan dalam keadaan makhluk tidak terbakar?’’

Maka jawabannya: “Bahwasanya manusia akan dikumpulkan di hari kiamat dan kekuatannya tidaklah seperti kekuatannya sekarang. Bahkan lebih kuat dan lebih mampu untuk menanggung beban demikian. Kalau sekarang manusia berdiri lima puluh hari di bawah matahari tanpa naungan dan tanpa makan dan minum, maka manusia tidak akan mampu, bahkan mereka akan mati ! Akan tetapi nanti pada hari kiamat mereka akan tinggal selama lima puluh ribu tahun, tidak makan dan juga tidak minum, tidak ada naungan, kecuali naungan Allah subhanahu wata’ala. Bersamaan dengan itu mereka akan menyaksikan kengerian yang amat sangat dan mereka akan menanggung sendiri.”

Maka ambillah pelajaran dengan ahli neraka, bagaimana mereka menanggung kengerian yang amat dahsyat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An Nisaa’: 56)

Dan ambillah pelajaran pula dari penduduk surga, ketika manusia di sana bisa melihat kerajaannya yang jauhnya seribu tahun hingga ujungnya, sebagaimana melihat bagian dekatnya. Diriwayatkan demikian dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.2

Kalau ada orang berkata: “Apakah ada orang yang selamat dari matahari?”

Maka jawabannya adalah: “Ya. Di sana ada manusia yang Allah subhanahu wata’ala menaungi mereka dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالْمَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ, وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ, وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ, وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan, yang Allah subhanahu wata’ala akan menaunginya di suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, seorang lakilaki yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah subhanahu wata’ala, berkumpul karena Allah subhanahu wata’ala, dan berpisah karena Allah subhanahu wata’ala. Dan seorang laki laki yang dipanggil oleh wanita yang cantik lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah subhanahu wata’ala’. Dan seseorang yang bersedekah sambil menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Dan seseorang yang berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala sambil menyendiri hingga menangis kedua matanya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)3

Dan di sana juga ada golongan lainnya yang Allah subhanahu wata’ala menaunginya dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Perkataan Beliau shallallahu’alaihi wasallam, ”Tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” yaitu kecuali naungan yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan, bukan yang seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwasanya naungan tersebut adalah Dzat Allah subhanahu wata’ala itu sendiri, maka ini adalah keyakinan yang batil karena kalau demikian berarti matahari ketika itu berada di atas Allah subhanahu wata’ala.

Maka ketika di dunia mungkin kita masih bisa membuat naungan untuk kita, akan tetapi pada hari kiamat tidak ada naungan lagi kecuali naungan yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk melindungi orang-orang yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki dari kalangan hamba-hamba-Nya.

[Dinukil dari kitab Syarh Al ‘Aqiidah Al Waasithiyyah bab Al Iimaan bil Yaumil Aakhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian di Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Isnaad Tangerang, hal. 48-52]

__________
Footnote:

1 Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Muslim (2864) dari hadits Al Miqdad bin Al Aswad radhiallahu’anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Matahari akan didekatkan pada hari kiamat dengan makhluk hingga jaraknya dengan mereka sejauh satu mil, maka manusia akan berkeringat sesuai dengan kadar amalan mereka, di antara mereka ada yang ditenggelamkan hingga dua mata kakinya, di antara mereka ada sampai kedua lututnya, di antara mereka ada yang ditenggelamkan sampai pinggangnya, di antara mereka ada yang sampai ditenggelamkan hingga mulutnya.” Berkata Al Miqdad : Beliau sambil berisyarat ke mulutnya.

2 Diriwayatkan Ahmad (2/46), At Tirmidzi (2553), Al Hakim (2/509) dan didha’ifkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Adh Dha’ifah (1985).

3 Riwayat Al Bukhari (220) dan Muslim (1031) dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu.

sumber : http://sunniy.wordpress.com/2011/05/25/peristiwa-didekatkannya-matahari-di-atas-kepala-pada-hari-kiamat/

%d blogger menyukai ini: