Al-Khobiir (Yang Maha Mengetahui)

Salah satu Al-Asma’ul Husna adalah Al-Khobiir (الْخَبِيْرُ ). Artinya secara ringkas adalah Yang Maha Mengetahui.

Nama Allah ‘azza wajalla tersebut terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya:

 “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 73)

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Nabi lalu Nabi memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Nabi) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu (Hafshah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.“ (At-Tahrim: 3)

Adapun dalam hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam, terdapat dalam riwayat Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha :

قَالَتْ عَائِشَةُ: أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُولِ اللهِ. قُلْنَا: بَلَى. قَالَ: قَالَتْ: لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِيَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ فِيهَا عِنْدِي انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا، فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ، فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ فَأَسْرَعَ فَأَسْرَعْتُ فَهَرْوَلَ فَهَرْوَلْتُ فَأَحْضَرَ فَأَحْضَرْتُ فَسَبَقْتُهُ فَدَخَلْتُ فَلَيْسَ إِلاَّ أَنِ اضْطَجَعْتُ فَدَخَلَ فَقَالَ: مَا لَكِ يَا عَائِشُ حَشْيَا رَابِيَةً. قَالَتْ: قُلْتُ: لاَ شَيْءَ. قَالَ: لَتُخْبِرِينِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ. قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؛ فَأَخْبَرْتُهُ. قَالَ: فَأَنْتِ السَّوَادُ الَّذِي رَأَيْتُ أَمَامِي. قُلْتُ: نَعَمْ. فَلَهَدَنِي فِي صَدْرِي لَهْدَةً أَوْجَعَتْنِي ثُمَّ قَالَ: أَظَنَنْتِ أَنْ يَحِيفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ؟ قَالَتْ: مَهْمَا يَكْتُمِ النَّاسُ يَعْلَمْهُ اللهُ، نَعَمْ. قَالَ: فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي حِينَ رَأَيْتِ فَنَادَانِي فَأَخْفَاهُ مِنْكِ فَأَجَبْتُهُ فَأَخْفَيْتُهُ مِنْكِ وَلَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ عَلَيْكِ وَقَدْ وَضَعْتِ ثِيَابَكِ وَظَنَنْتُ أَنْ قَدْ رَقَدْتِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَكِ وَخَشِيتُ أَنْ تَسْتَوْحِشِي فَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ. قَالَتْ: قُلْتُ: كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: قُولِي: السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ.

 Aisyah radhiallahu’anha berkata:

“Tidakkah kalian mau kuberitahukan kepada kalian tentang diriku dan Rasulullah?” Kami mengatakan: “Iya.” Beliau bercerita:

“Ketika suatu malam yang Rasulullah pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan pakaian bagian atasnya. Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Tidaklah beliau tetap dalam keadaan tersebut kecuali selama mengira bahwa aku telah tertidur, lalu beliau mengambil pakaian bagian atasnya dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka akupun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku menutup mukaku dengan kain kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’. Beliau shallallahu’alaihi wasallam berhenti dan berdiri dalam waktu yang lama, lalu beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali, lalu berbalik. Maka akupun berbalik. Beliau lalu berjalan cepat sehingga akupun berjalan cepat. Beliau kemudian berlari kecil maka akupun berlari kecil. Lalu beliau berlari agak cepat maka akupun berlari agak cepat, sehingga akupun mendahului beliau lalu aku masuk (ke dalam rumah). Maka tiada lain kecuali aku berbaring kemudian Rasulullah masuk seraya mengatakan:

‘Ada apa denganmu wahai Aisyah? Nafasmu terengah-engah’.

Aku menjawab: ‘Tidak apa-apa.’

Beliau mengatakan: ‘Kamu harus mengabarkan kepadaku atau akan mengabariku Al-Lathif (Yang Maha lembut) lagi Al-Khobiir (Maha Mengetahui)’.

Aisyah mengatakan: ‘Ku tebus engkau dengan ayah dan ibuku wahai Rasulullah.’ Lalu aku menceritakannya.

Maka beliau mengatakan: ‘Jadi engkau adalah benda hitam yang di depanku tadi?’ Aisyah menjawab: ‘Iya.’ Maka beliau menekan dadaku dengan tekanan yang menyakitkan aku, lalu beliau mengatakan: ‘Apakah kamu kira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengkhinatimu?’

Aisyah mengatakan: ‘Bagaimanapun manusia menyembunyikan maka Allah mengetahuinya, ya.

’ Nabi mengatakan: ‘Sesungguhnya Jibril datang kepadaku ketika kamu melihat, lalu dia memanggilku dan menyembunyikannya darimu. Aku menjawab panggilannya dan aku sembunyikannya darimu. Tidak mungkin baginya untuk masuk sementara engkau telah menanggalkan pakaianmu. Dan aku kira engkau telah tertidur, maka aku tidak suka untuk membangunkanmu, aku khawatir kamu takut (kaget).

Lalu Jibril mengatakan: ‘Sesungguhnya Rabbmu menyuruhmu agar kamu datang ke penghuni kuburan Baqi’ untuk kamu mintakan ampun untuk mereka.’

Aisyah mengatakan: ‘Apa yang aku katakan untuk mereka, wahai Rasulullah?’ nabi shallallahu’alaihi wasallam menjawab: ‘Katakanlah:

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ

“Kesejahteraan untuk penghuni tempat tinggal ini, dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Dan kami insya Allah akan menyusul kalian.”

Penjelasan ulama tentang makna Al-Khobiir

Ibnu Manzhur mengatakan: “(Maknanya adalah) Yang Maha mengetahui apa yang lalu dan apa yang akan datang.”

Al-Khaththabi mengatakan: “Yang Maha mengetahui seluk beluk hakikat sesuatu.”

Abu Hilal Al-Askari mengatakan dalam kitabnya Al-Furuq Al-Lughawiyyah: “Perbedaan antara al-ilmu (yang diambil darinya nama Al-’Alim) dan al-khubru (yang diambil darinya nama Al-Khobiir); bahwa al-khubru artinya mengetahui seluk beluk sesuatu yang diketahui sesuai dengan hakikatnya, sehingga kata al-khubru memiliki makna yang lebih dari kata al-ilmu. (Dinukil dari kitab Shifatullah karya ‘Alawi As-Saqqaf)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Al-Khubrah (yang darinya diambil nama Al-Khobiir), artinya adalah mengetahui dalamnya sesuatu. Ilmu terhadap bagian luar dari sesuatu tidak diragukan merupakan sifat kesempurnaan dan terpuji. Akan tetapi mengetahui bagian dalamnya tentu lebih sempurna. SehinggaAl-’Alim, Maha Berilmu terhadap apa yang tampak dari sesuatu, sedangkan Al-Khobiir, Maha Berilmu terhadap apa yang tidak tampak dari sesuatu. Bila terkumpul antara ilmu dan khubrah, maka ini lebih mendalam dalam meliputi sesuatu. Terkadang dikatakan bahwa khubrah punya makna yang lebih dari ilmu. Karena kata khabiir dipahami oleh orang-orang adalah seseorang yang mengetahui sesuatu dan mahir padanya. Berbeda dengan seseorang yang hanya memiliki pengetahuan saja, tapi tidak punya kemahiran pada apa yang dia ilmui, maka dia tidak disebut khobiir. Atas dasar ini, kata Al-Khobiir memiliki makna yang lebih dari sekedar ilmu.” (Tafsir surat Al-Hujurat)

Asy-Syaikh As-Sa’di mengatakan: “Al-Khobiir Al-’Alim, adalah yang ilmunya meliputi segala yang lahir maupun yang batin, yang tersembunyi dan yang tampak, yang mesti terjadi, yang tidak mungkin terjadi serta yang mungkin terjadi, di alam yang atas maupun yang bawah, yang terdahulu, yang sekarang dan yang akan datang. Maka, tidak tersembunyi padanya sesuatupun.”

Buah mengimani nama Allah Al-Khobiir

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Dengan mengimani nama Allah ini, seseorang akan bertambah rasa takutnya kepada Allah, baik dalam keadaan tersembunyi ataupun terang-terangan. (Syarah Al-Wasithiyyah)

Wallahu a’lam.

sumber : http://www.asysyariah.com

APA ARTI DARI MIMPIMU? BENARKAH AKAN TERJADI?

Tanya:

Apa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah (keNabi Shallallahu ‘alaihi wasallaman).”

Kalau begitu siapakah yang benar mimpinya?

 

 

Jawab: Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab :

“Makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

adalah apa yang diimpikan seorang mukmin akan terjadi dengan benar, karena mimpi tersebut merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi. Terkadang mimpi itu adalah berita tentang sesuatu yang sedang atau akan terjadi. Kemudian sesuatu itu benar terjadi persis seperti yang diimpikan. Dengan demikian, dari sisi ini mimpi diibaratkan seperti nubuwwah dalam kebenaran apa yang ditunjukkannya, walaupun mimpi berbeda dengan nubuwwah. Karena itulah mimpi dikatakan satu dari 46 bagian nubuwwah. Kenapa disebut 46 bagian, karena hal ini termasuk perkara tauqifiyyah1. Tidak ada yang mengetahui hikmahnya sebagaimana halnya bilangan-bilangan rakaat dalam shalat2.

Adapun ciri orang yang benar mimpinya adalah seorang mukmin yang jujur, bila memang mimpinya itu mimpi yang baik/bagus. Jika seseorang dikenal jujur ucapannya ketika terjaga, ia memiliki iman dan takwa, maka secara umum mimpinya benar. Karena itulah hadits ini pada sebagian riwayatnya datang dengan menyebutkan adanya syarat, yaitu mimpi yang baik/bagus dari seorang yang shalih.

DalamShahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya.

Akan tetapi perlu diketahui di sini bahwa mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya itu ada tiga macam:

  • Pertama:

Mimpi yang benar lagi baik. Inilah mimpi yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai satu dari 46 bagian keNabi Shallallahu ‘alaihi wasallaman. Secara umum, mimpinya itu tidak terjadi di alam nyata. Namun terkadang pula terjadi persis seperti yang dilihat dalam mimpi. Terkadang terjadi di alam nyata sebagai penafsiran dari apa yang dilihat dalam mimpi. Dalam mimpi ia melihat satu permisalan kemudian ta’bir dari mimpi itu terjadi di alam nyata namun tidak mirip betul.

Contohnya, seperti mimpi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa waktu sebelum terjadi perang Uhud. Beliau mimpi di pedang beliau ada rekahan/retak dan melihat seekor sapi betina disembelih. Ternyata retak pada pedang beliau tersebut maksudnya adalah paman beliau Hamzah radhiallahu’anhu akan gugur sebagai syahid. Karena kabilah (kerabat/keluarga) seseorang kedudukannya seperti pedangnya dalam pembelaan yang mereka berikan berikut dukungan dan pertolongan mereka terhadap dirinya. Sementara sapi betina yang disembelih maksudnya adalah beberapa sahabat beliau shallallahu’alaihi wasallam akan gugur sebagai syuhada. Karena pada sapi betina ada kebaikan yang banyak, demikian pula para sahabat radhiallahu’anhum, Mereka adalah orang-orang yang berilmu, memberi manfaat bagi para hamba dan memiliki amal-amal shalih.

  • Kedua:

Mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau dari apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya. Karena kebanyakan manusia mengimpikan dalam tidurnya apa yang menjadi bisikan hatinya atau apa yang memenuhi pikirannya ketika masih terjaga (belum tidur) dan apa yang berlangsung pada dirinya saat terjaga (tidak tidur). Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya3.

 

  • Ketiga:

Gangguan dari setan yang bermaksud menakut-nakuti seorang manusia, karena setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang perkara yang menakutkannya, baik berkaitan dengan dirinya, harta, keluarga, atau masyarakatnya. Hal ini dikarenakan setan memang gemar membuat sedih kaum mukminin sebagaimana Allah subhanahu wata’alaa berfirman:

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia4 itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati, padahal pembicaraan itu tidaklah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka kecuali dengan izin Allah ….” (Al-Mujadalah: 10)

Setiap perkara yang dapat menyusahkan seseorang dalam hidupnya dan mengacaukan kebahagiaan hidupnya merupakan target yang dituju oleh setan. Ia sangat bersemangat untuk mewujudkannya, baik orang yang hendak diganggunya itu tengah terjaga atau sedang larut dalam mimpinya. Karena memang setan merupakan musuh sebagaimana Allah subhanahu wata’alaa berfirman:

“Sesungguhnya setan itu merupakan musuh bagi kalian maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (Fathir: 6)

BIMBINGAN NABI DALAM MENGATASINYA

Terhadap bentuk mimpi yang ketiga ini, kita dibimbing oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk berlepas diri darinya. Beliau memerintahkan kepada orang yang bermimpi melihat perkara yang dibencinya agar berlindung kepada Allah ‘azza wajalla dari gangguan setan dan dari kejelekan apa yang dilihatnya. Kemudian ia meludah sedikit ke arah kirinya sebanyak tiga kali, mengubah posisi tidurnya dengan membalikkan lambung/rusuknya ke arah lain dan tidak boleh menceritakan mimpi tersebut kepada seorang pun. Bila seseorang telah melakukan bimbingan Rasul yang telah disebutkan ini, niscaya mimpi buruknya itu tidak akan memudaratkannya sedikitpun.

Hal ini banyak terjadi di kalangan manusia. Banyak pertanyaan yang datang tentang permasalahan ini, namun obatnya adalah apa yang telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam n, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullah. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Bila seseorang dari kalian bermimpi hal yang dibencinya (mimpi buruk), hendaklah meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali dan berlindung kepada Allah dari gangguan setan tiga kali, serta memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berbeda dengan yang sebelumnya.”

 

Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu yang diriwayatkan  Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah :

“Bila seseorang dari kalian bermimpi perkara yang dibencinya (mimpi buruk) maka hanyalah mimpi itu dari setan. Karena itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari kejelekan mimpi tersebut dan janganlah ia ceritakan mimpinya kepada seorang pun. Sungguh mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”

 

Dalam hadits Abu Qatadah radhiallahu’anhu yang dikeluarkan Al-Imam Muslim rahimahullah disebutkan bahwa Abu Qatadah berkata:

“Aku pernah bermimpi buruk hingga mimpi itu membuatku sakit/lemah. Sampai akhirnya aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda bahwa mimpi yang bagus itu dari Allah, maka bila salah seorang dari kalian bermimpi melihat perkara yang disukainya maka jangan ia ceritakan mimpi tersebut kecuali kepada orang yang dicintainya. Bila yang diimpikan itu perkara yang tidak disukai (mimpi buruk), hendaklah ia meludah sedikit ke kiri tiga kali, berlindung kepada Allah dari kejelekan setan dan dari kejelekan mimpi tersebut, dan jangan ia ceritakan mimpi itu kepada seorang pun. Bila demikian yang dilakukannya niscaya mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”

Adapun dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bila seseorang dari kalian melihat perkara yang dibencinya dalam mimpinya maka hendaklah ia bangkit dari tempat tidurnya (untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat dan jangan ia ceritakan mimpinya itu kepada manusia.” (HR. Muslim)

Dengan demikian ada beberapa perkara yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang bermimpi buruk :

1. Meludah sedikit ke arah kirinya tiga kali

2. Berlindung kepada Allah ‘azza wajalla dari kejelekan setan (membaca ta’awudz) sebanyak tiga kali

3. Berlindung kepada Allah ‘azza wajalla dari kejelekan apa yang dilihatnya (dalam mimpi)

4. Memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berlainan dari arah semula

5. Tidak boleh diceritakannya kepada seorang pun

6. Hendaknya ia bangkit dari tempat tidurnya (untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 1/327-330)

——————————————————————————————————————————————

1 Perkaranya sudah paten, dari sananya demikian. Tidak ada andil bagi akal dalam penetapannya, namun semata-mata dari wahyu, Al-Qur`an dan As-Sunnah. (pent.)

2 Seperti Zhuhur 4 rakaat, Subuh 2 rakaat, Maghrib 3 rakaat, dan seterusnya. Apa hikmahnya? Jawabannya, tak ada yang tahu. Penetapan bilangan 4, 2, dan 3 ini merupakan perkara tauqifiyyah. Bukan hasil ijtihad akal seorang manusia, namun semata-mata dari wahyu. Sehingga tak boleh seorang pun mengubah jumlah rakaat shalat-shalat tersebut dengan buah pikirannya. (pent.)

3 Karena peristiwa di alam nyata atau pikirannya di alam nyata itulah yang membawanya sampai bermimpi.

4 Berbicara dengan bisik-bisik di hadapan kaum mukminin, sehingga si mukmin menyangka bahwa yang dibicarakan adalah rencana untuk mencelakakannya dan menimpakan kejelekan padanya. Akibatnya ia merasa sedih, takut, dan khawatir. (pent.)

Sumber : http://asysyariah.com/makna-sabda-nabi-mimpi-seorang-mukmin-bagian-dari-nubuwwah.html

Siapakah Suamimu di Surga?

Saudariku muslimah, tahukah kamu siapa suamimu di surga kelak?(1) Artikel di bawah ini akan menjawab pertanyaan anti. Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:

Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:
1. Dia meninggal sebelum menikah.
2. Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
3. Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
4. Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih dahulu sebelum suaminya).
5. Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
6. Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:
 Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.
Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:
مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ
“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ
“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)
Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)
Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.
Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.

 Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di dunia.

 Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.
Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)
Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )

Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:
وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا
“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.
Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?
Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.
___________
(1) Karenanya sebelum berpikir masalah ini, pikirkan dulu bagaimana caranya masuk surga.

(2) Maksudnya, suaminya sama tapi sifatnya menjadi lebih baik dibandingkan ketika di dunia.

 

Mengenal Lebih Dekat Mbah Maridjan

Selain meletusnya gunung merapi kematian mbah maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir-akhir ini, dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai “kuncen” gunung merapi disamping mbah maridjan meninggal menjadi korban  meletusnya gunung merapi. Apalagi konon meninggalnya dalam keadaan sujud. Tak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, atau karena keberaniannya dan pujian-pujian lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar diatas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang haq (benar) ba’da taufiqillah (setelah hidayah taufiq Allah) menilai sosok mbah maridjan. Insya Allah penjelasan sederhana dibawah ini menjadi penjelas bagi kita bagaimana kita menilai seorang mbah maridjan.

Pertama : Mbah Maridjan dan tugasnya sebagai seorang  “kuncen/juru kunci” gunung merapi

Seharusnya seorang itu jeli dalam setiap permasalahan apalagi yang menyangkut permaslahan dien nya (agamanya)…!!! Cukup dengan mengetahui  bahwasannya mbah maridjan sebagai seorang “kuncen” gunung merapi maka seharusnya seseorang sudah bisa menilai sosok mbah maridjan dengan benar dan menahan diri mereka untuk memuji mba maridjan dan mengagguminya. Kuncen…?? apa maksudnya ini, kalau tidak dibalik semua ini ada keyakinan-keyakinan sesat. Juru kunci gunung merapi…???!!!, ada apa dibalik semua itu…??? Kalau tidak keyakinan syirik…!!!. Itulah yang diyakini mbah maridjan, mbah maridjan menyakini bahwa gunung merapi mempunyai penunggunya, yang menguasainya, yang bisa menimpakan bahaya untuk masyarakat sekitar, sehingga berimbas dari keyakinan itu mbah maridjan melakukan taqarub (mendekatkan diri) dengan memberi sesajen dan yang lainnya supaya penunggu dan penguasa gunung merapi itu tidak marah dan menimpakan bahaya kepada masyarakat sekitar. Adakah perbuatan syirik (menyekutukkan Allah) yang lebih jelas dari ini…???!!!. Mbah maridjan melakukan ritual tolak bala dengan  membuang berbagai macam barang karaton dari mulai keris dan lainya yang dikenal dengan labuhan merapi. Begitu juga melakukan ritual tapa bisu dan lain-lain.

Berkata Asy Syaikh Shalih Al –Fauzan Hafidzahullah : ” Syirik adalah menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Allah didalam Rububiyah Nya (penciptaan, pengaturan, memberi manfaat dan mudharat/bahaya) dan didalam Uluhiyah Nya (dalam beribadah kepada Allah)” ( Aqidah Tauhid Syaikh Shalih Al –Fauzan: 18 )

Berkata Imam Syaukani Rahimahullah : ” Bahkan syirik adalah dengan menujukan untuk selain Allah sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Nya “ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas : 18 ) Termasuk kekhususan Allah adalah Rububiyah Nya, Allahlah satu satu-satunya yang mencipta, mengatur alam semesta ini, memberi rezeki, memberi manfaat dan mudharat (bahaya) dan yang lainnya. Dan mbah maridjan telah membuat tandinggan bagi Allah didalam Rububiyah Nya ketika mbah maridjan menyakini ada selain Allah yang memberi manfaat dan mudharat, yaitu penunggu gunung merapi.!!!

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:  “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

Artinya : Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

أَيُشْرِكُونَ مَا لاَ يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلاَ أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ

“ Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan. Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun mereka tidak dapat memberikan pertolongan “. (Qs. Al ‘Araaf : 191-192)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Dan ini adalah sifat sesembahan yang tidak berhak disembah. Dan ini pertanyaan dalam rangka celaan (bagi orang yang beribadah kepada selain Allah –penj) mereka menyembah  kepada yang tidak bisa menciptakan walaupun hanya seekor semut bahkan mereka (sesembahan) itu diciptakan, bagaimana mereka bisa memberikan manfaat terhadap selain mereka, baik sesembahan itu berupa batu yang tidak berakal atau makhluk hidup yang tidak dapat mendengar (orang yang menyerunya –penj) atau orang mati yang tidak bisa mengabulkan seruan mereka, didalam ayat ini terkandung sifat sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu empat hal :

  1. Bahwasanya mereka tidak dapat menciptakan sesuatu
  2. Bahwasanya mereka  makhluk yang diciptakan
  3. Bahwasanya mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyembahnya
  4. Bahwasanya mereka tidak dapat memberikan pertolongan untuk diri mereka sendiri “ ( Syarhu Kitabit Tauhid Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 98 )

Disamping itu mbah maridjan mengaku – ngaku mendapat wangsit kapan meletus atau tidaknya gunung merapi dari penunggu gunung merapi atau dari mbah merapi ???!!!, atau pengakuan dia memastikkan gunung berapi tidak akan meletus dan yang lainnya…??!!.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

” Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan – syaithan sebagai wali (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira mereka mendapat petunjuk ” ( Qs. Al’Araaf : 30 )

Akhirnya tidak sedikit yang menjadi korban dari meletusnya gunung merapi, termasuk orang yang katanya mendapat wangsit itu (mbah maridjan sendiri) dan orang yang mengikutinya.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ

“ Katakanlah wahai (Muhammad) tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah “ (Qs. An-Naml :65)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurrahman As-sa’di Rahimahullah : “ Allah mengikrarkan bahwa Dia sematalah yang mengetahui perkara yang ghaib di langit dan di bumi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “ Pada sisi Allah lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan dilautan dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun di kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. Dan Allah Ta’ala berfirman “ Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim…” sampai akhir surat. Perkara ghaib dan yang semisalnya merupakan kekhususan bagi Allah dalam pengilmuanNya, tidak ada yang mengetahuinya baik itu malaikat yang terdekat atau nabi yang diutus.” (Taisirul Karimir Rahman Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam ayat ini)

Kedua : Mbah Maridjan beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Jika seorang muslim mengetahui sedikit saja ilmu agama dengan pemahaman yang benar insya Allah dia tidak akan salah menilai sosok seorang mbah maridjan. Tapi jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar sehingga mereka diselimuti kebodohan yang sangat. Pengetahuan seseorang tentang mbah maridjan, bahwasannya mbah maridjan disamping beribadah kepada Allah dengan sholat, puasa baca Al Qur’an dan yang lainnya tetapi disisi lain mbah maridjan juga beribadah kepada selain Allah, bertaqarub (mendekatkan) diri kepada selain Allah dengan berbagai macam ibadah, diantaranya menyediakan sesajen kepada para penunggu dan penguasa yang mbah maridjan yakini sebagai para penunggu dan penguasa gunung merapi. Jelas ini perbuatan syirik dan kekufuran, bermula pada kesyrikkan dalam Rububiyah Allah dan berimbas pada perbuatan syirik dalam Uluhiyyah Allah. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: