At Thayyib (Yang Maha baik)

at Thayyib copyAth-Thayyib adalah salah satu nama Allah Ta’alaa.

Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah menyebutkan nama Allah Ta’alaa ini dalam salah satu haditsnya,

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا. وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: {ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ}. فَقَالَ: . ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah Ta’alaa Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik dan Allah Ta’alaa memerintahkan kaum mukminin dengan apa yang Allah Ta’alaa perintahkan dengannya para rasul. Maka Allah Ta’alaa berfirman (yang artinya), ‘Wahai para rasul, makanlah dari hal-hal yang baik dan lakukan yang baik, Aku mengetahui apa yang kalian lakukan,’ dan berkata (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari hal-hal yang baik yang Kami telah rezekikan pada kalian.’

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram, lalu bagaimana mau dikabulkan karena itu?” (Sahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

Makna ath-Thayyib

Al-Qadhi Rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib dalam sifat Allah Ta’alaa bermakna yang suci dari segala kekurangan dan itu bermakna al-Quddus, yang Mahasuci. Asal makna kata ath-Thayyib adalah bersih suci dan bebas dari yang kotor.” (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi)

Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib di sini bermakna ath-Thahir, artinya suci dari segala kekurangan dan aib seluruhnya.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam)

Buah Mengimani Nama Allah ath-Thayyib

Buahnya adalah mengetahui kesucian Allah Ta’alaa, keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya, tiada sesembahan yang seperti-Nya, tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali dari segala sisi-Nya.

Di samping itu, di antara buahnya sebenarnya telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits di atas, yaitu bahwa Allah Yang Maha baik tidak menerima selain yang baik.

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Allah Ta’alaa mencintai sifat-sifat-Nya, seperti disabdakan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan’, sabdanya yang lain, ‘Sesungguhnya Allah Ta’alaa indah dan mencintai keindahan’, dan sabda beliau, ‘Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima melainkan yang baik’.” (ash-Shawa’iqul Mursalah 4/ 1458, dinukil dari kitab Shifatullah al-Waridah hlm. 170)

Jadi, sebuah ucapan tidak akan diterima di sisi-Nya kecuali yang baik, amal perbuatan tidak akan diterima di sisi-Nya selain yang baik, dan keyakinan pun tidak diterima di sisi-Nya melainkan yang baik. Tidak ada seorang pun yang masuk surga selain yang sudah jelas baiknya. Allah Ta’alaa berfirman,

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dibawa ke dalam jannah (surga) berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Kalian telah baik! Maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)

Maksudnya, baik kalbu kalian dengan mengenal Allah Ta’alaa, mencintai-Nya, maupun takut kepada-Nya, baik lisan kalian dengan berzikir kepada-Nya maupun anggota badan kalian dengan taat kepada-Nya. Dengan sebab kebaikan kalian, “Masuklah kalian ke dalam jannah kekal di dalamnya,” karena surga adalah negeri yang baik tidak pantas masuk ke dalamnya selain mereka yang baik. (Tafsir as-Sa’di)

Dengan ini, dalam hal makanan pun hendaknya selalu menjaga yang baik yakni terutama halal, karena makanan akan berpengaruh pada amalan. Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bercerita di akhir hadits tersebut tentang seorang yang sudah berbuat baik dengan berdoa, bahkan dalam sebuah perjalanan yang panjang, dalam kondisi sangat butuh kepada Allah Ta’alaa, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, lagi meminta-minta kepada Allah Ta’alaa sembari merengek dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Ini adalah keadaan yang sangat mendukung terkabulnya doa. Namun, Allah Ta’alaa tidak menerimanya dan menolak doanya. Mengapa? Karena makanannya haram, dia tidak baik, kotor tubuhnya, tidak suci dari yang haram.

Oleh karena itu, jangankan kita, para rasul pun diperintah untuk memakan dari yang thayyib, baik, halal, seperti dalam hadits tersebut.

Penulis : al Ustadz Qomar Suaidi Lc

asysyariah.com

Beri Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: