Jassasah si Pengawal Dajjal

JasasahPernahkah anda mendengar Jassasah? Itulah pengawal Dajjal yang bertugas mencari-cari berita dari manusia, bila ia menemui manusia yang lewat di pulau kediaman Dajjal. Pulau apakah itu dan dimana? Pulau itu adalah pulau misteri sampai saat ini masih disembunyikan keberadaannya oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Kali ini kami akan mengajak anda menikmati kisah di bawah ini yangmenyingkap sedikit perihal kehidupan makhluk misteri iniagar anda semakin yakin tentang kebenaran risalah Nabi kita Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-..

Dari Fathimah bintu Qois -radhiyallahu anha-, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ فِي صَفِّ النِّسَاءِ الَّتِي تَلِي ظُهُورَ الْقَوْمِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ لِيَلْزَمْ كُلُّ إِنْسَانٍ مُصَلَّاهُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ لِمَ جَمَعْتُكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا فَجَاءَ فَبَايَعَ وَأَسْلَمَ وَحَدَّثَنِي حَدِيثًا وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ مَسِيحِ الدَّجَّالِ حَدَّثَنِي أَنَّهُ رَكِبَ فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ مَعَ ثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْ لَخْمٍ وَجُذَامَ فَلَعِبَ بِهِمْ الْمَوْجُ شَهْرًا فِي الْبَحْرِ ثُمَّ أَرْفَئُوا إِلَى جَزِيرَةٍ فِي الْبَحْرِ حَتَّى مَغْرِبِ الشَّمْسِ فَجَلَسُوا فِي أَقْرُبْ السَّفِينَةِ فَدَخَلُوا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْهُمْ دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يَدْرُونَ مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقَالُوا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قَالُوا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ أَيُّهَا الْقَوْمُ انْطَلِقُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ قَالَ لَمَّا سَمَّتْ لَنَا رَجُلًا فَرِقْنَا مِنْهَا أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً قَالَ فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ خَلْقًا وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا مَجْمُوعَةٌ يَدَاهُ إِلَى عُنُقِهِ مَا بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى كَعْبَيْهِ بِالْحَدِيدِ قُلْنَا وَيْلَكَ مَا أَنْتَ قَالَ قَدْ قَدَرْتُمْ عَلَى خَبَرِي فَأَخْبِرُونِي مَا أَنْتُمْ قَالُوا نَحْنُ أُنَاسٌ مِنْ الْعَرَبِ رَكِبْنَا فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ فَصَادَفْنَا الْبَحْرَ حِينَ اغْتَلَمَ فَلَعِبَ بِنَا الْمَوْجُ شَهْرًا ثُمَّ أَرْفَأْنَا إِلَى جَزِيرَتِكَ هَذِهِ فَجَلَسْنَا فِي أَقْرُبِهَا فَدَخَلْنَا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْنَا دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يُدْرَى مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقُلْنَا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قُلْنَا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ اعْمِدُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ فَأَقْبَلْنَا إِلَيْكَ سِرَاعًا وَفَزِعْنَا مِنْهَا وَلَمْ نَأْمَنْ أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً فَقَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَخْلِ بَيْسَانَ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ أَسْأَلُكُمْ عَنْ نَخْلِهَا هَلْ يُثْمِرُ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ لَا تُثْمِرَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ بُحَيْرَةِ الطَّبَرِيَّةِ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِيهَا مَاءٌ قَالُوا هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ قَالَ أَمَا إِنَّ مَاءَهَا يُوشِكُ أَنْ يَذْهَبَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ عَيْنِ زُغَرَ قَالُوا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِي الْعَيْنِ مَاءٌ وَهَلْ يَزْرَعُ أَهْلُهَا بِمَاءِ الْعَيْنِ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ وَأَهْلُهَا يَزْرَعُونَ مِنْ مَائِهَا قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَبِيِّ الْأُمِّيِّينَ مَا فَعَلَ قَالُوا قَدْ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ وَنَزَلَ يَثْرِبَ قَالَ أَقَاتَلَهُ الْعَرَبُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ بِهِمْ فَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّهُ قَدْ ظَهَرَ عَلَى مَنْ يَلِيهِ مِنْ الْعَرَبِ وَأَطَاعُوهُ قَالَ لَهُمْ قَدْ كَانَ ذَلِكَ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ فَلَا أَدَعَ قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِي مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِي عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَائِكَةً يَحْرُسُونَهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ أَلَا هَلْ كُنْتُ حَدَّثْتُكُمْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ

“Aku pernah sholat bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Aku berada di shaff wanita yang berada dekat dengan punggung kaum lelaki. Tatkala Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menyelesaikan sholatnya, maka beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa. Kemudian beliau bersabda, “Hendaknya setiap orang melazimi tempatnya”, lalu bersabda lagi, “Tahukah kalian kenapa aku kumpulkan kalian?”

“Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, kata mereka.

Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah mengumpulkan kalian karena keinginan (dalam membagi ghonimah, –pent.) dan tidak pula karena takut (terhadap musuh, –pent.). Akan tetapi aku kumpulkan kalian, karena Tamim Ad-Dariy dahulu seorang yang beragama Nasrani. Kemudian ia datang berbai’at dan masuk Islam. Dia telah menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sesuai dengan kisah yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Dia telah menceritakan kepadaku bahwa telah berlayar dalam sebuah perahu besar bersama 30 orang lelaki dari Suku Lakhm dan Judzam. Mereka dipermainkan oleh ombak selama sebulan di lautan. Kemudian mereka berlabuh pada sebuah pulau di tengah lautan ketika terbenamnya matahari. Mereka pun duduk di perahu kecil, lalu memasuki pulau itu.

Mereka dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan belakangnya karena banyak bulunya. Mereka berkata (kepada binatang itu), “Celaka engkau, siapakah engkau?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Jassasah (tukang cari berita)”. Mereka bilang, “Apa itu Jassasah?” Binatang itu berkata, “Wahai kaum, pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana itu. Karena ia amat rindu dengan berita kalian”.

Dia (Tamim) berkata, “Tatkala ia (si binatang) menyebutkan seorang lelaki kepada kami, maka kami khawatir jangan sampai binatang itu adalah setan perempuan”. Tamim berkata, “Kami pun pergi dengan  cepat sampai kami memasuki istana tersebut. Tiba-tiba di dalamnya terdapat orang yang paling besar  kami  lihat dan paling kuat ikatannya dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu ke lehernya antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya dengan besi”. Kami katakan, “Celaka anda, siapakah anda?” Dia (Dajjal) menjawab, “Sungguh kalian telah tahu beritaku. Kabarkanlah kepadaku siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang Arab. Kami telah berlayar dalam sebuah perahu besar. Kami pun mengarungi lautan saat berombak besar. Akhirnya, ombak mempermainkan kami selama sebulan. Kemudian kami berlabuh di pulau anda ini. Kami pun duduk-duduk di perahu kecil, lalu masuk pulau. Tiba-tiba kami dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan belakangnya karena banyak bulunya. kami berkata (kepada binatang itu), “Celaka engkau, siapakah engkau?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Jassasah (tukang cari berita)”. Kami bilang, “Apa itu Jassasah?” Binatang itu berkata, “Pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana. Karena ia amat rindu dengan berita kalian”. Lalu kami menghadap kepadamu dengan cepat, kami takut kepadanya dan tak merasa aman jika ia adalah setan perempuan”. Dia (Dajjal) berkata, “Kabarilah aku tentang pohon-pohon korma Baisan (nama tempat di Yordania, –pent.)!!”. Kami bertanya, “Engkau tanya tentang apanya?”. Dajjal berkata, “Aku tanyakan kepada kalian tentang pohon-pohon kurmanya, apakah masih berbuah?”. Kami jawab, “Ya”. Dajjal berkata, “Ingatlah bahwa hampir-hampir ia tak akan berbuah lagi”. Dajjal berkata, “Kabarilah aku tentang Danau Thobariyyah!!”. Kami katakan, “Apanya yang kau tanyakan?” Dajjal berkata, “Apakah di dalamnya masih ada air?” Mereka menjawab, “Danau itu masih banyak airnya”. Dajjal berkata, “Ingatlah, sesungguhnya airnya hampir-hampir akan habis”. Dajjal bertanya lagi, “Kabarilah aku tentang mata air Zughor!!” Mereka bertanya, “Apanya yang kau tanyakan?” Dajjal berkata, “Apakah di dalam mata air itu masih ada air? Apakah penduduknya masih menanam dengan memakai air dari mata air itu?” Kami jawab, “Ya, mata air itu masih banyak airnya dan penduduknya masih bercocok tanam dari airnya”. Dajjal berkata lagi, “Kabarilah aku tentang Nabinya orang-orang Ummi (ummi : buta huruf, yakni orang-orang Quraisy), apa yang ia lakukan? Mereka berkata, “Dia telah keluar dari Kota Makah dan bertempat tinggal di Yatsrib (Madinah)”. Dajjal bertanya, “Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?” Kami katakan, “Ya”. Dajjal bertanya, “Apa yang ia lakukan pada mereka?” Lalu mereka kabari Dajjal bahwa sungguh ia (Nabi itu, yakni Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) telah berkuasa atas orang-orang yang ada di sekitarnya dari kalangan Arab dan mereka menaatinya”. Dajjal berkata kepada mereka, “Apakah hal itu sudah terjadi?” Kami jawab, “Ya”.

Dajjal berkata, “Ingatlah bahwa hal itu lebih baik bagi mereka untuk menaatinya. Sekarang aku kabari kalian bahwa aku adalah Al-Masih (yakni, Al-Masih Ad-Dajjal). Sungguh aku hampir diberi izin untuk keluar. Aku akan keluar, lalu berjalan di bumi. Aku tak akan membiarkan suatu negeri, kecuali aku injak dalam waktu 40 malam, selain Makkah dan Thoibah (nama lain bagi kotaMadinah, –pent.). Kedua kota ini diharamkan bagiku.

Setiap kali aku hendak memasuki salah satunya diantaranya, maka aku dihadang oleh seorang malaikat, di tangannya terdapat pedang terhunus yang akan menghalangiku darinya. Sesungguhnya pada setiap jalan-jalan masuk padanya ada malaikat-malaikat yang menjaganya”

Dia (Fathimah bintu Qois) berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda seraya menusuk-nusukkan tongkatnya pada mimbar, “Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, yakni kota Madinah. Ingatlah, apakah aku telah menceritakan hal itu kepada kalian?”

Orang-orang pun berkata, “Ya”.

[HR. Muslim dalam Kitab Asyroot As-Saa’ah, bab : Qishshoh Al-Jassasah (no. 2942), Abu Dawud dalam Kitab Al-Malaahim(4326), At-Tirmidziy dalam Kitab Al-Fitan (2253) dan Ibnu MajahKitab Al-Fitan (4074)]

  • Ibrah dan Renungan
  1. Diantara tanda-tanda dekatnya waktu keluarnya Dajjal, berikut dekatnya kiamat: buah pepohonan korma negeri Baisanakan habis dan tak lagi berbuah, danau Thobariyyah akan meresap habis, dan mata air Zughor akan meresap kering kerontang, serta munculnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagai Rasul dari kalangan kaum ummi (buta huruf), yakni Quraisy untuk menyampaikan agama kepada manusia seluruhnya.  Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- berkata, “Diantara perkara yang menunjukkan bahwa terutusnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- termasuk tanda kiamat bahwa beliau kabarkan tentang Dajjal dalam hadits Jassasah”. [Lihat Al-Hikam Al-Jadiroh bil Idza’ah (hal. 4)]
  2. Di akhir zaman, Dajjal akan muncul dengan keluarbiasaan yang Allah berikan padanya sebagai fitnah (ujian) keimanan bagi manusia. Diantara keluarbiasaannya, ia mampu mengelilingi semua negeri, kecuali Makkah dan Madinah dalam waktu 40 hari. Tujuannya untuk memurtadkan manusia!! Maka berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal. Allahumma na’udzu bika min fitnatid dajjal.
  3. Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy –rahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan kota Madinah, keutamaan mendiaminya serta terjaganya kota Madinah dari thoo’uun (pes) dan Dajjal”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (9/155)]

Sumber :

http://pesantren-alihsan.org/jassasah-si-pengawal-dajjal.html#comment-272

======================================================================================

 

J i b r i l

Jibril

Salah satu Malaikat Allah yang sangat mempunyai perananan penting  dalam penyampaian wahyu Allah Ta’alaa kepada nabi-Nya. Menyampaikan risalah demi risalah agar tersampaikan hidayah dan petunjuk kepada umat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Yang dengannya (Jibril) sampailah Kalamullah (alqur`an) kepada orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan peringatan tentang Allah dan agama Allah. Walaupun dilain pihak justru mencercanya dan menjadikannya musuh dari kalangan Yahudi dan Syi’ah yang tidak ridho atas kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka suatu hal yang wajib bagi seorang muslim untuk mengenal siapa Jibril dan bagaimana dia mengemban risalah, untuk kita lebih meyakini dengan ilmu yang sebenar-benarnya.

Allah subhanahu wata’alaa berfirman :

فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ

“maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik” (at Tahrim:4)

Dan Firman Allah Ta’alaa :

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” (al-Baqarah:98)

 

Yahudi Memusihi Malaikat Jibril

Sebenarnya yahudi telah mengetahui bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah sebenar-benar nabi yang semua ciri-ciri dan tanda-tandanya terdapat dalam kitab-kitab mereka. Mereka ketahui itu semua dengan fisik Rasulullah dan pengetesan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya kecuali para rahib yang bisa membaca kitab. Karena sifat penolakan mereka yang begitu keras, maka mereka menyalahkan dan memusuhi sang penyampai wahyu yaitu Jibril alaihissalaam.

Berikut kisahnya;

Diriwayatkan pada kitab Shahih Muslim (4480) Dari Anas, berkata:

‘Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di negeri saat musim gugur lalu ia menemui beliau lalu berkata,

“ Aku akan bertanya kepada Anda tentang tiga perkara yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi.

–       Apakah awal tanda-tanda kiamat?

–       Apakah makanan penduduk surga?

–       Apa yang menyebabkan seorang anak mirip dengan ayah atau ibunya?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

“Barusan Jibril mengabarkan kepadaku.”

Ia (Abdullah bin Salam) berkata, “Jibril?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “ya”

Ia berkata “Itu malaikat musuh Yahudi.”

Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat,

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka ketahuilah Jibril itu telah menurunkan Al-Qur’an ke dalam hatimu (Muhammad dengan seizing Allah.” (Al-Baqarah:97)

 

Dalam riwayat Imam Ahmad (1/274) berkata :

            Dari Ibnu ‘Abbas, orang-orang Yahudi menghadap Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata :

“Wahai Abul Qosim, kami akan menanyakan kepadamu lima perkara. Jika kamu menjawabnya maka kami mengetahui bahwa kamu seorang nabi dan (kami akan) meengikutimu.”

Lalu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil perjanjian atas mereka sebagaimana Isra’il (Ya’qub) mengambil perjanjian kepada anak-anaknya ketika mereka berkata,

“Allah Ta’alaa yang menjaga atas apa yang kami katakana.”

 

Rasulullaah shallallahu’alaihi wasallam berkata,

“Sebutkanlah!”

Mereka berkata,

“Beritakan kepadaku tentang tanda seorang nabi!”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab,

“Dua matanya tertidur dan hatinya tidak tidur.”

Mereka berkata,

“beritakan kepadaku bagaimana seorang janin menjadi wanita dan bagaimana menjadi lelaki?”

Rasulullallah shallallahu’alaihi wasallam berkata,

“Kalau dua air mani laki-laki dan perempuan bertemu. Jika air mani perempuan di atas air mani lelaki maka jadilah perempuan.”

Mereka berkata,

“Beritakan kepada kami, apa yang diharamkan Israil atas dirinya.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab,

“Ia pernah punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air susu demikian dan demikian.” (‘Abdullah bin Ahmad berkata: ayahku berkata, Sebagian ulama berkata, yakni susu unta, Lalu ia mengharamkan daging unta.)

Mereka Berkata, “Kamu benar”

 

Mereka berkata,

“Beritahukan kepada kami apakah guruh itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Ia adalah malaikat Allah yang ditugaskan pada awan ditangannya atau di tangannya ada pecut dari api untuk mengarak awan yang ia giring sesuai kehendak Allah”

Mereka berkata,

“Lalu apakah suara yang terdengar itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Suaranya.”

Mereka berkata, “Kamu benar”

Mereka berkata,

“Kamu benar. Tinggal satu pertanyaan yang menentukan kami akan membaiat kamu atau tidak. Jika kamu mengabarkannya, sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun kecuali mempunyai malaikat yang mendatanginya dengan membawa berita. Maka kabarkan kepada kami siapakah temanmu itu?”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab:

“J i b r i l”

Mereka berkata,

“Jibril itulah yang dating membawa peperangan, pembunuhan, dan siksaan, (ia) musuh kami. Kalau kamu katakana Mikail yang turun dengan membawa rahmat, tumbuh-tumbuhan, dan hujan tentu kami setuju.”

Lalu Allah ta’alaa menurunkan firman-Nya, “Barangsiapa menjadi musuh jibril….sampai akhir ayat”

            Ibnu Jarir berkata dalam tafsir-nya (2/377), “Ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban terhadap Yahudi ketika mereka menganggap Jibril ‘alaihissalaam sebagai musuh dan Mikail sebagai pembela mereka.

Bersambung…..

Referensi :

Kitab al jaami’u as shohiihi min akhbaaril malaa`ikati

Abdurrahman bin haitsam al Yafi’i

Terjemahan Indonesia

Profil Para Malaikat

Pustaka ar Royyan

(Dengan Penambahan)

 

 

 

 

Definisi Malaikat

DSC04465

Arti malaikat adalah utusan dan berasal dari akar kata مَلَكَ (mal aka) dengan timbangan kata maf’ala, lalu dibubuhi harakat hamzahnya atas sukun sebelumnya lalu dibuang. Kata ini maknanya adalah ar-risalah  (syariat), baik huruf laamnya mendahului hamzah sebagaimana bentuk al-Malaak maupun huru hamzahnya mendahului huruf laam. Demikian nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin/500.

                Ibnu mandhur dalam Lisanul ‘Arab 10/481-482, berkata :

لَاَكَ وَالًملْاَكَ والَمَلَأِكَة

Artinya ar-risalah.

المَلْأَكَ

Artinya : Seorang malaikat, karena ia menyampaikan risalah dari Allah Ta’alaa, huruf hamzahnya dibuang lalu diberikan harakat pada sukun sebelumnya.”

                Al-Fairuz Abadi berkata dalam kamus Muhith-nya halaman 1229 :

   المَلْأَكَ والَمَلَأِكَةُ

                Artinya : ar-risalah, alakni ila fulan artinya ia menyampaikan dariku. Asal katanya dari al akani, dibuang huruf hamzahnya dan diberikan harakat pada huruf sebelumnya.”

                Ibnu Jarir dalam tafsirnya 1/447, berkata, “Makna malaikat adalah ar-risalah. “Abdu bani al-Has Haas berkata :

Allah Ta’alaa menyampaikan umurmu kepada risalah, wahai pemuda dengan satu ayat yang dating kepada kami dengan member hidayah.

                Artinya dengan itu aku menyampaikan risalahku, lalu dinamakanlah malaikat dengan ar-risalah karena ia utusan Allah ta’alaa antara Ia dengan nabi dan hamba-Nya.

                Secara istilah, arti malaikat adalah tubuh yang lembut yang diberikan kemampuan menyerupai beragam bentuk makhluk yang berbeda, yang tempat tinggalnya di langit. Lihat Fathul bari, 6/368.

Sumber :

Kitab al jaami’u as shohiihi min akhbaaril malaa`ikati

Abdurrahman bin haitsam al Yafi’i

Terjemahan Indonesia

Profil Para Malaikat

Pustaka ar Royyan

Al Hayyu (Yang Maha Hidup)

Al-Hayyu

Al hayyu

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah ﮨ  (Al-Hayyu), Yang Maha Hidup. Nama Allah Al-Hayyu ini telah disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya:

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)

“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.” (Ali ‘Imran: 2)

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan: 58)

“Dialah yang hidup kekal, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Ghafir: 65)

Disebutkan pula dalam hadits Abdullah bin Abbas Radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dahulu pernah berdoa:

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

“Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dan dengan kekuatan dari-Mulah aku bertikai dengan musuh. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu -tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau- dari Engkau sesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati sementara jin dan manusia mati semua.” (Shahih, HR. Muslim)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan:

“Makna Al-Hayyu adalah yang memiliki sifat hidup dengan kehidupan yang sempurna dan abadi, di mana tidak menimpainya kematian ataupun fana, karena sifat hidup bagi-Nya merupakan sifat Dzat Allah Ta’alaa yang Maha Suci. Sebagaimana sifat Al-Qayyum mengharuskan adanya seluruh sifat fi’liyyah Allah Ta’alaa (yang terkait dengan perbuatan-Nya) yang sempurna, maka demikian pula sifat hidup-Nya mengharuskan adanya seluruh sifat dzatiyyah (yang terkait dengan Dzat-Nya) yang sempurna, baik itu sifat ilmu, kemampuan, keinginan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, keagungan, dan semacamnya.” (Syarh Nuniyyah, 2/112 lihat juga hal. 66)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
“Yakni yang memiliki kehidupan yang sempurna yang mengandung seluruh sifat kesempurnaan, tidak didahului oleh ketiadaan, dan tidak disudahi dengan kelenyapan, serta tidak tertimpa kekurangan pada sisi manapun.”

(Syarh Al-Wasithiyyah hal. 134)

Penulis : Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
http://asysyariah.com/al-hayyu.html

%d blogger menyukai ini: