Dimanakah Roh Para Nabi?

Soal:

Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit?

Jawab:
Roh-roh mereka berada di dalam surga. Roh para syuhada`, roh para nabi, dan roh kaum mukminin, seluruhnya di dalam surga. Kalau kaum mukminin saja roh mereka bepergian di dalam surga kemanapun mereka inginkan, maka bagaimana lagi dengan roh para nabi alaihimushshalatu wassalam?! Maka roh-roh para nabi tidak terdapat di dalam kubur-kubur mereka sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, akan tetapi roh-roh mereka terdapat di dalam surga. Dan jasad tidak akan bersatu dengan roh kecuali pada hari kiamat.

يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً

“Hari ditiupnya sangkakala lalu kalian datang dalam keadaan berbondong-bondong.” (QS. An-Naba`: 18)
Pada hari itulah Allah membangkitkan mereka. Manusia yang paling pertama kali terbuka kuburnya adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan beliau alaihishshalatu wassalam adalah manusia yang paling pertama dibangkitkan. Adapun hadits:

اَلْأَنْبِياءُ أَحْياءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

“Para nabi itu hidup di dalam kubur-kubur mereka, mereka mengerjakan shalat.”
Maka walaupun Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan shahihnya, akan tetapi yang benarnya haditsnya sangat lemah. Dan ini adalah hadits pertama yang saya kritisi kepada beliau rahimahullah.

[Diterjemahkan dari Fatawa fi Al-Aqidah wa Al-Manhaj (majelis pertama) soal no. 6 oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah]

 

http://al-atsariyyah.com/dimanakah-roh-para-nabi.html

Macam-macam Azab Kubur

1. Diperlihatkan neraka jahannam

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)

 Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian mati maka akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Bila dia termasuk calon penghuni surga, maka ditampakkan kepadanya surga. Bila dia termasuk calon penghuni neraka maka ditampakkan kepadanya neraka, dikatakan kepadanya: ‘Ini calon tempat tinggalmu, hingga Allah ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

2. Dipukul dengan palu dari besi

Dari Anas radhiallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ

Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Disempitkan kuburnya, sampai tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, dan didatangi teman yang buruk wajahnya dan busuk baunya.

Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu’anhu  yang panjang, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati:

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

“Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata: ‘Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).’ Maka dia bertanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.’ Dia menjawab: ‘Aku adalah amalanmu yang jelek.’ Maka dia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan engkau datangkan hari kiamat’.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

4. Dirobek-robek mulutnya, dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar, dipecah kepalanya di atas batu, ada pula yang disiksa di sungai darah, bila mau keluar dari sungai itu dilempari batu pada mulutnya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata kepada Jibril dan Mikail ‘alaihissalaam sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang:

فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا

“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.” Keduanya menjawab: “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Maka dia disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat. Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, namun dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Maka dia disiksa dengan siksaan itu hingga hari kiamat. Adapun yang engkau lihat orang yang disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina. Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang makan harta dari hasil riba.” (HR. Al-Bukhari no. 1386 dari Jundub bin Samurah)

5. Dicabik-cabik ular-ular yang besar dan ganas

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ

“Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’.” (HR. Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu’anhu.”)

Penulis : Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Majalah asySyariah Edisi 051

Sebab-sebab Mendapatkan Azab Kubur

Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan seseorang mendapatkan azab kubur. Sampai-sampai Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan: “Secara global, mereka diazab karena kejahilan mereka tentang Allah ‘azza wajalla, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan karena perbuatan mereka melanggar larangan-Nya. Maka, Allah ‘azza wajalla  tidak akan mengazab ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Demikian juga, Allah ‘azza wajalla tidak akan mengazab satu badan pun yang ruh tersebut memiliki ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) selama-lamanya. Sesungguhnya azab kubur dan azab akhirat adalah akibat kemarahan Allah ‘azza wajalla dan kemurkaan-Nya terhadap hamba-Nya. Maka barangsiapa yang menjadikan Allah ‘azza wajalla marah dan murka di dunia ini, lalu dia tidak bertaubat dan mati dalam keadaan demikian, niscaya dia akan mendapatkan azab di alam barzakh sesuai dengan kemarahan dan kemurkaan-Nya.” (Ar-Ruh hal. 115)

Di antara sebab-sebab azab kubur secara terperinci adalah sebagai berikut:

1. Kekafiran dan kesyirikan.

Sebagaimana azab yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya. Allah l berfirman:

 “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir: 45-46)

 2. Kemunafikan

Allah ‘azza wajalla berfirman:

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (At-Taubah: 101)

 3. Tidak menjaga diri dari air kencing dan mengadu domba

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

مَرَّ النَّبِيُّ بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melewati dua kuburan. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab disebabkan suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.” Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, kemudian beliau belah menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu)

 4. Ghibah

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Tatkala Rabbku memi’rajkanku (menaikkan ke langit), aku melewati beberapa kaum yang memiliki kuku dari tembaga, dalam keadaan mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka dengan kukunya. Maka aku bertanya: ‘Siapakah mereka ini wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging (suka mengghibah) dan menjatuhkan kehormatan manusia’.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 533. Hadits ini juga dicantumkan dalam Ash-Shahihul Musnad karya Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah)

 Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menyatakan: “Sebagian ulama menyebutkan rahasia dikhususkannya (penyebab azab kubur) air kencing, namimah (adu domba), dan ghibah (menggunjing). Rahasianya adalah bahwa alam kubur itu adalah tahap awal alam akhirat. Di dalamnya terdapat beberapa contoh yang akan terjadi pada hari kiamat, seperti siksaan ataupun balasan yang baik. Sedangkan perbuatan maksiat yang akan disiksa karenanya ada dua macam: terkait dengan hak Allah ‘azza wajalla dan terkait dengan hak hamba. Hak-hak Allah ‘azza wajalla yang pertama kali akan diselesaikan pada hari kiamat adalah shalat, sedangkan yang terkait dengan hak-hak hamba adalah darah.

Adapun di alam barzakh, yang akan diputuskan adalah pintu-pintu dari kedua hak ini dan perantaranya. Maka, syarat sahnya shalat adalah bersuci dari hadats dan najis. Sedangkan pintu tumpahnya darah adalah namimah (adu domba) dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Keduanya adalah dua jenis perkara menyakitkan yang paling ringan, maka diawali di alam barzakh dengan evaluasi serta siksaan karena keduanya.” (Ahwalul Qubur hal. 89)

5. Niyahah (meratapi jenazah)

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda :

 إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

 “Sesungguhnya mayit itu akan diazab karena ratapan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim:

 الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

“Mayit itu akan diazab di kuburnya dengan sebab ratapan atasnya.”

Jumhur ulama berpendapat, hadits ini dibawa kepada pemahaman bahwa mayit yang ditimpa azab karena ratapan keluarganya adalah orang yang berwasiat supaya diratapi, atau dia tidak berwasiat untuk tidak diratapi padahal dia tahu bahwa kebiasaan mereka adalah meratapi orang mati. Oleh karena itu Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata: “Apabila dia telah melarang mereka (keluarganya) meratapi ketika dia hidup, lalu mereka melakukannya setelah kematiannya, maka dia tidak akan ditimpa azab sedikit pun.” (Umdatul Qari’, 4/78)

Azab di sini menurut mereka maknanya adalah hukuman. (Ahkamul Jana’iz, hal. 41)

Selain sebab-sebab di atas, ada beberapa hal lain yang telah disebutkan dalam pembahasan Macam-macam Azab Kubur.

Apakah Azab Kubur itu Terus-Menerus?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Jawaban terhadap pertanyaan ini:

 1. Azab kubur bagi orang-orang kafir terjadi terus-menerus dan tidak mungkin terputus karena mereka memang berhak menerimanya. Seandainya azab tersebut terputus atau berhenti, maka kesempatan ini menjadi waktu istirahat bagi mereka. Padahal mereka bukanlah orang-orang yang berhak mendapatkan hal itu. Maka, mereka adalah golongan orang-orang yang terus-menerus dalam azab kubur sampai datangnya hari kiamat, walaupun panjang masanya.

2. Orang-orang beriman yang berbuat maksiat, Allah ta’alaa mengazab mereka dengan sebab dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang diazab terus-menerus, ada pula yang tidak. Ada yang panjang masanya, ada pula yang tidak, tergantung dosa-dosanya serta ampunan Allah ta’alaa.”  (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, 2/123)

ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

http://asysyariah.com/sebab-sebab-mendapatkan-azab-kubur.html

Rahasia Alam Kubur

Dari Anas radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ
“Jika hamba sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya sudah pergi meninggalkannya, hingga dia (jenazah) mendengar suara langkah sandal-sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat. Keduanya lalu mendudukkannya seraya berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki ini, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka jenazah itu menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya bersabda, “Maka dia kemudian melihat keduanya”. Adapun (jenazah) orang kafir atau munafik, maka dia akan menjawab, “Aku tidak tahu, aku hanya berkata mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”. Kemudian dia dipukul dengan palu godam besar yang terbuat dari besi dengan sekali pukulan di antara kedua telinganya, maka dia mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluk (jin dan manusia).” (HR. Al-Bukhari no. 1338)
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya (di akhirat) setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka dia akan (melihat tempat duduknya) sebagai penduduk surga. Dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan (melihat tempat duduknya) sebagai penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya, “Inilah tempat dudukmu hingga nanti Allah membangkitkanmu pada hari kiamat”.(HR. Al-Bukhari no. 1290 dan Muslim no. 2866)

Penjelasan ringkas:
Ketika jenazah telah dikuburkan dan para pengantarnya sudah pulang meninggalkannya, maka rohnya akan dikembalikan ke tubuhnya sehingga dia bisa hidup tapi dengan kehidupan barzakhiah. Setelah itu dia akan didatangi oleh dua malaikat yang bernama Munkar dan Nakir. Kedua malaikat ini lalu mendudukkan dia dan bertanya kepadanya tentang Allah, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan agama Islam. Jika dia adalah orang yang beriman maka Allah akan memberikan hidayah dan kekuatan kepadanya untuk menjawabnya sehingga dia akan mendapatkan kenikmatan kubur, yang di antaranya berupa diperlihatkannya tempat kembali dia kelak di dalam surga. Tapi jika dia adalah orang kafir atau munafik, maka Allah Ta’ala akan menyesatkannya sehingga dia tidak bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat sehingga dia mendapatkan siksaan kubur. Di antara bentuk siksaan-Nya adalah dia akan dipukul dengan palu besar di antara kedua telinganya yang membuatnya berteriak dengan teriakan yang sangat keras karena kesakitan, kemudian setelah itu dia akan diperlihatkan tempat kembalinya kelak di dalam neraka.

Beberapa pelajaran aqidah dari kedua hadits di atas:
1.    Adanya nikmat dan siksa kubur serta bantahan kepada siapa saja yang mengingkari adanya.
2.    Jenazah yang sudah dikubur pada dasarnya tidak bisa mendengar apa-apa dari orang yang masih hidup kecuali yang dikecualikan oleh dalil, seperti suara langkah sandal para pengantarnya yang pulang.
3.    Penetapan adanya dua malaikat kubur, Munkar dan Nakir.
4.    Larangan ikut-ikutan dan taqlid buta dalam beragama, karena dia adalah salah satu sebab seorang tidak bisa menjawab pertanyaan malaikat di kubur.
5.    Siksaan kubur dijatuhkan kepada roh dan jasad mengikutinya. Karena dalam hadits di atas disebutkan ‘di antara kedua telinganya’.
6.    Surga dan neraka sudah ada sekarang, serta sanggahan kepada siapa saja yang mengatakan bahwa keduanya nanti tercipta setelah hari kiamat.

Terputus dan tidaknya adzab kubur.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Kalau ada yang berkata: Apakah kenikmatan dan adzab kubur itu terus menerus atau terputus-putus?

Jawab:
Adapun adzab terhadap orang kafir adalah terus menerus dan tidak mungkin akan dihilangkan atas mereka karena mereka memang berhak mendapatkannya. Dan kalau adzab dihentikan dari mereka, berarti mereka akan bisa beristirahat (dari adzab -pent) padahal mereka itu tidak berhak untuk itu. Maka mereka terus menerus diadzab hingga hari kiamat walau sangat panjang waktunya.

Maka kaum nabi Nuh ‘Alaihis salam yang ditenggelamkan terus menerus diadzab di dalam api yang mereka dimasukkan ke dalamnya dan adzabnya berlangsung hingga kiamat. Demiikian pula pengikut Fir’aun selalu diperlihatkan kepada mereka api neraka siang malam.

Dan sebagian ulama menjelaskan bahwasanya adzab diringankan atas orang kafir ketika waktu antara dua tiupan sangkakala. Mereka berdalil dengan firman Allah Azza wajalla,

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

“Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).” (Yaasiin: 52)

Akan tetapi ayat ini tidaklah menunjukkan atas hal ini karena kubur-kubur mereka adalah tempat tidur mereka walaupun mereka tetap diadzab juga di dalamnya.

Adapun orang-orang yang bermaksiat dari kalangan kaum Mukminin yang Allah Ta’ala tetapkan adzab atas mereka maka terkadang adzab atas mereka itu terus menerus dan terkadang tidak, kadang lama dan kadang sebentar tergantung dari dosa-dosanya dan tergantung ampunan dari Allah Azza wajalla.

Dan adzab kubur itu lebih ringan dari adzab hari kiamat, karena dalam adzab kubur itu tidak ada penghinaan dan pencacatan, sedangkan di akhirat ada penghinaan dan pencacatan karena saksi-saksinya ada,

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (Ghafir: 51)

[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 50-52]

Sumber : http://sunniy.wordpress.com

Apakah Nikmat/Adzab Kubur Menimpa Badan atau Ruh?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
Kemudian setelah fitnah ini, ada yang mendapatkan nikmat kubur atau adzab kubur

Kata “Kemudian” di sini mengandung arti berurutan, tidak ada selangnya. karena manusia itu diadzab atau dieri nikmat secara langsung (setelah diuji -pent).

Sebagaimana yang telah berlalu, bila seorang mayit berkata, “Saya tidak tahu”, maka dia akan dipukul dengan mirzabah dan di sana juga ada mayit yang menjawab dengan benar maka dibukakan pintu ke surga untuknya dan dilapangkan kuburnya. Maka ini adalah nikmat atau adzab kubur, apakah hal ini ditimpakan kepada badan atau ruh saja? atau ruh bersama dengan badan?

Kita katakan: Yang ma’ruf menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa pada asalnya adzab itu ditimpakan atas ruh, sedangkan badan itu sekedar mengikuti ruhnya saja. Sebagaimana adzab di dunia itu menimpa badan dan ruhnya hanya mengikuti saja, sebagaimana hukum-hukum syar’iyyah di dunia itu atas zhahirnya dan di akhirat itu sebaliknya.

Maka di alam kubur, adzab atau nikmat kubur itu terjadi pada ruh akan tetapi jasad itu terpengaruh dengannya dan mengikutinya, jadi tidak secara langsung.

Dan terkadang adzab itu terjadi pada badan dan ruh itu mengikutinya, akan tetapi hal ini tidak terjadi kecuali jarang sekali. Sesungguhnya pada asalnya adzab itu terjadi pada ruhnya, dan badan sekedar ikut. Demikian pula kenikmatan itu terjadi pada ruh dan badan cuma ikut saja.

[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 42-43]

sumber http://sunniy.wordpress.com

Pertanyaan Munkar dan nakir didalam kubur

Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi

Pertanyaan Mungkar dan Nakir telah disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya hadits Bara’ bin ‘Azib Radhiallahu’anhu, dia berkata,

“Pernah kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melayat jenazah salah satu laki-laki dari kalangan Anshar hingga kami sampai di pekuburan dan liang lahat belum digali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam duduk dan kami pun ikut duduk di sekitar beliau Shallallahu’alaihi wasallam. Seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, sedangkan pada tangan beliau Shallallahu’alaihi wasallam terdapat sebatang tongkat, beliau Shallallahu’alaihi wasallam hentakkan ke tanah sekali hentak kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam mengangkat kepalanya seraya mengatakan, “Mintalah perlindungan kepada Allah Azza wajalla dari adzab kubur!” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam ucapkan dua atau tiga kali. Lantas beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan perkataannnya,

“Sesungguhnya seorang hamba yang beriman tatkala berpisah dari dunia dan menuju alam akhirat maka akan turun kepadanya para malaikat dari langit dengan wajah putih berseri-seri seakan-akan wajah mereka seperti matahari, dan mereka membawa kafan di antara kafan-kafan dari surga dan wewangian dari wewangian- wewangian surga hingga mereka duduk sejauh mata memandang. kemudian setelah itu datanglah malaikat maut Alaihis salam hingga duduk di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, “Wahai jiwa yang baik keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah!” Berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, “Maka nyawanya keluar seperti keluarnya tetesan air dari bejana minum, kemudian malaikat maut mengambil nyawa tersebut dan apabila dia telah memegangnya maka para malaikat itu sama sekali tidak pernah membiarkannya berlama-lama di tangannya meskipun sekejap mata, hingga mereka memegangnya kemudian mengkafaninya dan memberinya wewangian. Lalu keluarlah darinya seperti bau misik paling baik yang dijumpai di muka bumi. Maka para malaikat tadi naik ke langit membawa ruh tersebut, tidaklah mereka melewati kerumunan malaikat dengan membawa nyawa tersebut melainkan para malaikat bertanya kepada mereka, “Ruh siapakah yang bagus ini?” Para malikat yang membawanya menjawab, “Ruh Fulan bin Fulan” dengan menyebutkan namanya yang paling bagus yang dipakai di dunia kemudian mereka minta agar dibukakan pintu baginya maka pintu langitpun dibukakan untuk mereka. Dia diantarkan oleh malaikat-malaikat yang ada di setiap langit sampai langit yang ketujuh. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku di ‘Illiyyin dan kembalikan dia ke bumi sebab darinya aku menciptakan mereka, dan kepadanya mereka akan aku kembalikan, dan darinya mereka akan aku keluarkan untuk kedua kalinya.” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Maka ruhnya dikembalkan ke jasadnya, kemudian datanglah dua malaikat menemuinya. Keduanya mendudukkannya serta bertanya kepadanya, “Siapakah Rabb-mu” Dia akan menjawab, “Rabb-ku adalah Allah.” Keduanya bertanya lagi, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Agamaku Islam” Keduanya bertanya lagi, ” Siapakah laki-laki ini yang diutus ke tengah-tengah kalian?” Dia menjawab, “Dia adalah Rasulullah.” Keduanya bertanya lagi, “Apa ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca Al Quran, kemudian aku beriman kepadanya dan aku membenarkannya.” Maka terdengarlah suara memanggil dari langit, “Telah benar hamba-Ku, maka hamparkanlah kepadanya hamparan dari surga, dan berilah ia pakaian dari pakaian surga, dan bukakanlah kepadanya pintu menuju surga.” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Maka datanglah kepadanya bau wangi dan harumnya surga dan dilapangkan baginya dalam kubur sejauh mata memandang. Kemudian setelah itu datanglah kepadanya seorang laki-laki bagus wajahnya, bagus pakaiannnya, dan harum baunya seraya mengatakan, “Berbahagialah dengan apa yang akan membahagiakanmu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu!” Maka dia berktanya kepada laki-laki tersebut, “siapa anda, wajah anda adalah wajah orang yang datang membawa kebaikan?” Laki-laki tadi menjawab, “aku adalah amalanmu yang shalih.” Maka si hamba tadi mengatakan, “Rabbi, datangkanlah kiamat (secepatnya) hingga aku kembali bertemu dengan keluarga dan hartaku…!”

“Sesungguhnya seorang hamba yang kafir tatkala hendak berpisah dari dunia dan menuju ke alam akhirat maka akan turun kepadanya para malaikat dari langit dengan wajah hitam pekam dan membawa kafan hingga mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian setelah itu datanglah malaikat maut Alaihis salam hingga duduk di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, “Wahai jiwa yang amat buruk keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan Allah!” Berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, “Maka nyawanya terpencar dalam jasadnya, maka malaikat maut mencabuti nyawa tersebut seperti mencabuti besi (yang digunakan untuk memanggang sate) dari kain wool yang basah kemudian menangkapnya dan apabila dia telah memegangnya maka para malaikat itu tidak membiarkannya di tangannya meskipun sekejap mata, lalu mereka meletakkanya di kain kafan tadi. Maka keluarlah darinya bau bangkai paling busuk yang djumpai di muka bumi. Kemudian para malaikat tadi naik ke langit membawa ruh tersebut. Tidaklah mereka melewati kerumunan malaikat dengan membawa ruh tersebut melainkan para malaikat akan bertanya kepada mereka, “Ruh siapkah yang busuk ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Ruh Fulan bin Fulan” dengan menyebutkan namanya yang paling jelek yang dipakai di dunia. Hingga akhirnya mereka sampai ke langit dunia kemudian mereka minta agar dibukakan pintu baginya namun pintu langit tidak dibukakan untuknya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat,

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Al A’raaf: 40)

Maka Allah Ta’ala berfirman, “Tulislah kitabnya di dalam Sijjin pada lapisan bumi yang paling bawah!” Maka ruhnya dilemparkan ke bumi begitu saja. Kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dan Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah- olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al Hajj: 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya dan datanglah dua malaikat kepadanya kemudian mendudukkannya serta bertanya kepadanya, “Siapakah Rabb-mu?” Dia akan menjawab, “Hah…hah… aku tidak tahu.” Keduanya bertanya, “Apa agamamu?” Dia menjawab, “Hah…hah… aku tidak tahu.” Keduanya bertanya lagi, “Siapakah laki-laki ini yang telah diutus ke tengah-tengah kalian?” Dia menjawab, “Hah…hah… aku tidak tahu.” Maka terdengarlah suara memanggil dari langit, “Dusta dia, maka hamparkanlah kepadanya hamparan dari neraka, dan bukakanlah kepadanya pintu menuju neraka.” Maka sampailah kepadanya hawa panas neraka yang sangat panas dan dipersempit ruang kuburnya hingga tulang-tulang rusuknya bertautan. Setelah itu datanglah seorang laki-laki yang buruk rupa, buruk pakaiannya, dan sangat busuk baunya seraya mengatakan, “berbahagialah dengan apa yang akan menyesengsarakanmu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu! Maka dia bertanya kepada laki-laki tersebut, “Siapa kamu, wajah kamu adalah wajah orang yang datang membawa keburukan?” Laki-laki tadi menjawab, “Aku adalah amalanmu yang busuk.” Maka dia mengatakan, “Rabbi, jangan Engkau tegakkan hari kiamat…!” (HR. Ahmad, An Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1676, 1/346)

Dan hadits-hadits yang berkenaan dengan adzab kubur banyak sekali, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman dengan adanya adzab kubur serta pertanyaan Mungkar dan Nakir, adapun Mu’tazilah, mereka mengingkari adanya adzab kubur. Wal ‘iyadzubillah. Wabillahit taufiq.

[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 136-143]

%d blogger menyukai ini: