Ada Apa Dengan Bintang dan Ramalan Bintang?

Horoskop atau mudahnya kita sebut ramalan nasib seseorang dengan melihat bintang kelahirannya, termasuk satu kolom atau rubrik yang laris manis di surat kabar, tabloid, ataupun majalah. Bahkan bisa ditanyakan lewat sms ke paranormal tertentu yang memasang iklan di sejumlah media. Yang berbintang pisces, pantasnya berjodoh dengan yang berbintang A. Keberuntungannya di tahun ini demikian dan demikian… Dalam waktu-waktu dekat ini ia jangan bepergian keluar kota karena bahaya besar mengancamnya di perjalanan. Untuk yang berbintang sagitarius, tahun ini lagi apes… Tapi di pengujung tahun akan untung besar, maka bagusnya ia usaha begini dan begitu… Cocoknya ia mencari pasangan gemini. Demikian contoh ramalan yang ada!

Anehnya, ramalan dusta seperti ini banyak yang percaya. Bahkan di antara mereka bila melihat surat kabar atau majalah, rubrik dusta ini yang pertama kali mereka baca. Khususnya yang menyangkut bintang kelahiran mereka atau bintang kelahiran kerabat dan sahabat mereka. Ada yang menggantungkan usaha mereka dengan ramalan bintang, untuk mencari jodoh lihat apa kata bintangnya dan seterusnya.

Meyakini bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh terhadap kejadian di alam ini hukumnya haram. Keyakinan seperti ini bukan muncul belakangan bahkan merupakan keyakinan kuno, keyakinan kaum Namrud, raja yang kafir zalim, yang kepada mereka Nabiullah Ibrahim alaihissalaam diutus. Mereka dinamakan kaum Shabi`ah, para penyembah bintang-bintang. Mereka membangun haikal dan rumah-rumah ibadah untuk menyembah bintang-bintang tersebut. Mengakar dalam keyakinan mereka bahwa bintang-bintang mengatur perkara di alam ini. Wallahul musta’an (Allah ta’ala sajalah yang dimintai pertolongan-Nya), keyakinan syirik tersebut terus diwarisi oleh umat yang datang setelah mereka. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/19)

Padahal Allah Ta’ala menciptakan bintang-bintang bukan untuk dijadikan tandingan-Nya sebagai pengatur alam semesta ini, atau sekadar memberi pengaruh terhadap kejadian di muka bumi. Sungguh, bintang-bintang tidak ada hubungannya dengan nasib dan keberuntungan seseorang.

Qatadah ibnu Di’amah As-Sadusi rahimahullah seorang imam yang mulia dalam masalah tafsir, hadits, dan ilmu yang lainnya mengatakan,

“Allah Ta’ala menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah atau faedah.

Pertama: sebagai penghias langit.

Kedua: sebagai pelempar setan.

Ketiga: sebagai tanda-tanda yang dijadikan petunjuk. Siapa yang menafsirkan dengan selain tiga faedah tersebut, sungguh ia telah salah dan menyia-nyiakan bagiannya1. Ia juga telah membebani dirinya dengan sesuatu yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya.”

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari  dalam Shahih-nya, Kitab Bad`ul Khalqi, bab Fin Nujum)

Faedah pertama dari penciptaan bintang-bintang, sebagai hiasan

Ditunjukkan seperti dalam firman Allah subhanahu wata’ala :

“Sesungguhnya Kami menghiasi langit dunia dengan perhiasan bintang-bintang.”

(Ash Shaffat: 6)

Faedah kedua sebagai pelempar setan,

seperti dalam ayat:

“Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia dengan pelita-pelita dan Kami jadikan pelita-pelita tersebut sebagai pelempar para setan.”

(Al-Mulk: 5)

 Kenapa setan-setan itu dilempar?

Karena mereka berupaya mencuri berita dari para malaikat di langit untuk kemudian disampaikan kepada dukun/tukang ramal, kekasih mereka dari kalangan manusia. Lalu dukun ini mencampurinya dengan seratus kedustaan.

Sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam diutus, para setan ini bebas mencuri berita dari langit. Namun ketika beliau telah diangkat sebagai nabi dan rasul, Allah Ta’ala menjaga langit dengan panah-panah api yang dilepaskan dari bintang-bintang sehingga membakar dan membinasakan setan yang jahat tersebut.

Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita pengabaran para jin tentang diri mereka dalam ayat-Nya yang mulia:

“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui rahasia langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan berita-beritanya. Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mendengar-dengarkan seperti itu tentu akan menjumpai panah api yang mengintai untuk membakarnya. Dan sungguh dengan adanya penjagaan tersebut kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.”

(Al-Jin: 8-10)

 

Faedah ketiga, bintang-bintang dijadikan sebagai tanda/penunjuk arah dan semisalnya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kalian dan Dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapatkan petunjuk. Dan Dia ciptakan tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.”

(An-Nahl: 15)

 

Allah Ta’ala menjadikan tanda-tanda di bumi dan di langit bagi musafir sebagai penunjuk arah bagi mereka. Tanda-tanda di bumi seperti jalan-jalan dan gang-gang, demikian pula gunung-gunung. Tanda-tanda di langit berupa bintang, matahari, dan bulan. Orang-orang menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk/tanda bagi mereka ketika mereka melakukan perjalanan. Terlebih lagi di tengah lautan yang tidak bergunung dan tidak ada rambu-rambu. Demikian pula perjalanan di malam hari, dengan melihat bintang tertentu mereka jadi mengerti arah sehingga mereka bisa menuju arah yang mereka inginkan. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 2/21)

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang untuk kalian agar kalian menjadikannya sebagai petunjuk dalam kegelapan di daratan dan di lautan.”

(Al-An`am: 97)

Maksudnya, dengan bintang-bintang tersebut kalian dapat mengetahui arah tujuan kalian (dalam perjalanan). Bukanlah yang dimaksudkan di sini bahwa bintang-bintang itu dijadikan petunjuk dalam ilmu gaib, sebagaimana diyakini oleh para ahli nujum. (Fathul Majid, 2/529)

Siapa yang ingin menambah lebih dari tiga perkara ini seperti meyakini bintang-bintang itu menunjukkan kejadian di muka bumi, turunnya hujan, berembusnya angin, kematian atau kehidupan seseorang, maka semuanya itu mengada-ada dan mengaku-aku tahu ilmu gaib. Padahal tidak ada yang tahu tentang perkara gaib kecuali hanya Allah Ta’ala.

Dia Yang Maha Suci berfirman:

“Katakanlah (ya Muhammad) tidak ada seorang pun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara gaib kecuali Allah saja.”

(An-Naml: 65)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh t berkata mengomentari ucapan Qatadah di atas, “Perhatikanlah kemungkaran yang diingkari oleh Imam ini yang terjadi di masa tabi’in. Dan terus menerus kejelekan bertambah pada setiap masa setelah zaman para tabi’in hingga sampai pada puncaknya di masa-masa ini. Bala merata di seluruh penjuru negeri, baik sedikit ataupun banyak. Namun jarang didapatkan orang yang mengingkarinya sehingga menjadi besarlah musibah dalam agama. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Fathul Majid 2/528,529)

 

HUKUM MERAMAL NASIB DENGAN BINTANG

Meramal nasib dengan gerakan-gerakan bintang dan bentuknya termasuk dalam apa yang diistilahkan dengan ilmu ta`tsir, yaitu keyakinan bahwa bintang-bintang memberi pengaruh di alam ini. Ilmu ini haram hukumnya.

Ilmu ini terbagi tiga macam, sebagiannya lebih haram daripada yang lainnya.

Pertama: meyakini bahwa bintang-bintang itulah yang menjadikan peristiwa-peristiwa di alam ini baik berupa kebaikan ataupun kejelekan, sakit ataupun sehat, paceklik ataupun panen raya, dan selainnya. Sumber kejadian di alam ini adalah gerakan-gerakan dan bentuk-bentuk bintang. Keyakinan kaum Shabi`ah ini merupakan penentangan kepada Sang Pencipta, karena menganggap adanya pencipta selain Dia, dan merupakan kekufuran yang nyata berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Kedua: seseorang tidak meyakini bahwa bintang-bintang itu yang menjadikan peristiwa di alam ini. Tapi menurutnya bintang-bintang itu hanya sebab yang memberi pengaruh. Adapun yang menciptakan adalah Allah Tala. Keyakinan ini pun batil, karena Allah  ta’ala tidak pernah menjadikan bintang-bintang itu sebagai sebab, dan bintang tersebut tidak ada hubungannya dengan apa yang berlangsung di alam ini.

Ketiga: menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk atas kejadian yang akan datang. Ini merupakan bentuk pengakuan terhadap ilmu gaib, masuk dalam kategori perdukunan serta sihir. Hukumnya kafir menurut kesepakatan kaum muslimin. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin t 2/5,6)

Ketiga macam ilmu ta`tsir ini batil, kata Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah. Namun sayangnya, perkara batil ini disebarkan di kolom khusus pada sebagian majalah yang tidak berpegang dengan ajaran Islam. Disebutkan bahwa pada bintang A akan diperoleh ini dan itu bagi siapa yang melangsungkan pernikahan, atau siapa yang berjual beli akan beroleh laba. Sementara bintang B nahas/sial. Semua ini temasuk keyakinan jahiliah. (I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, 2/25)

Al-Khaththabi rahimahullah berkata,

Ilmu nujum (perbintangan) yang terlarang adalah ilmu yang diakui-aku oleh ahli nujum bahwa mereka punya pengetahuan tentang alam dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa datang. Seperti, kapan waktu berembusnya angin dan datangnya hujan, dan kapan terjadi perubahan harga, ataupun yang semakna dengannya berupa perkara-perkara –menurut pengakuan dusta mereka– yang dapat diketahui dari perjalanan bintang-bintang di garis edarnya dan dari berkumpul atau berpisahnya bintang-bintang tersebut. Mereka mengaku-aku bahwa bintang-bintang tersebut punya pengaruh terhadap alam bawah (bumi).” (Ma’alimus Sunan 4/230, sebagaimana dinukil dalam Fathul Majid 2/527)

Demikianlah. Maka jangan percaya dengan bualan si tukang ramal, apapun sebutan untuknya. Jangan pula percaya dengan omong kosong ramalan bintang. Jangan korbankan akidah dan jangan rusak tauhid anda! Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Karena ia telah menyibukkan dirinya dengan perkara yang memudaratkannya dan tidak memberikan manfaat kepadanya. (Fathul Majid, 2/530)

Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah

Judul Asli : Jangan Percaya Ramalan Bintang

http://asysyariah.com/jangan-percaya-lamaran-bintang.html

Iklan

Mengenal Jimat dan Jampi-jampi

wafaqPraktik perdukunan tidak bisa lepas dari jimat, mantra, dan jampi-jampi. Di masyarakat Arab jahiliah pun hal ini telah demikian dikenal.

Jimat-jimat dikenal dengan istilah tamimah, mantra dan jampi-jampi dikenal dengan ruqyah, pelet atau pengasihan dikenal dengan tiwalah. Tentu saja jika kita bicara istilah maka akan ada saja perbedaan sebutan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun hakikatnya semuanya sama, baik itu dinamai jimat, hizb, rajah, pelet, pengasihan, pelarisan, atau apa saja.

Yang kita ingin kaji di sini adalah hukum memakai hal-hal tersebut, baik dengan digantungkan di mobil, di rumah, di toko-toko, atau warung makan. Untuk itu mari kita menyimak hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 1632)

Tamimah adalah sesuatu yang biasa digantungkan pada anak-anak dengan tujuan melindungi dari malapetaka. Inilah yang biasa kita sebut dalam bahasa kita dengan jimat atau sejenisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya syirik dan hal ini terlarang, karena dengan itu berarti seseorang mengharap pertolongan kepada selain Allah ta’ala, sementara tidak ada yang dapat menolak bala kecuali Allah ta’ala. Dengan demikian, tidak boleh dimintai perlindungan dari gangguan semacam itu kecuali dari Allah ta’ala semata. Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa hal itu masuk dalam kategori syirik akbar bila meyakini bahwa benda tersebut yang memberinya manfaat serta menyelamatkannya dari madharat. Bisa pula masuk dalam kategori syirik kecil bila meyakini bahwa benda itu hanya menjadi sebab keselamatan atau kemujuran, namun hakikatnya yang memberinya adalah Allah ta’ala.

Bagaimanakah Hukumnya Bila Jimat Itu Dibuat Murni dari Ayat Al-Qur’an?

Pendapat yang terkuat dalam hal ini bahwa ini termasuk dilarang. Ini adalah pendapat sejumlah sahabat di antaranya Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, yang nampak dari pendapat Hudzaifah, ’Uqbah bin ’Amir, dan Ibnu Ukaim. Juga pendapat banyak dari kalangan tabi’in dan salah satu pendapat Al-Imam Ahmad.

Yang menguatkan pendapat ini adalah tiga hal :

1. Larangan dalam hadits bersifat umum, mencakup jimat dari apapun. Tidak ada yang mengkhususkannya.

2. Dalam rangka menutup pintu kejelekan. Karena bila hal ini dibolehkan akan menyeret kepada pemakaian tamimah yang lain.

3. Bila ini digantungkan pada seseorang, niscaya berakibat menghinakannya dengan membawanya saat buang air, cebok, dan yang semacamnya. (Fathul Majid)

Pembaca yang kami hormati, jika demikian hukum jimat –meski murni terbuat dari tulisan ayat-ayat Al-Qur’an– lantas bagaimana dengan yang lain, semacam yang dicampur antara ayat-ayat dengan huruf-huruf yang terputus-putus, angka-angka, atau garis-garis?

Jangan sampai kita terkecoh dengan tulisan-tulisan huruf Arab dalam jimat tersebut, karena itu terkadang bukan ayat bahkan bukan bahasa Arab. Hanya hurufnya saja yang Arab, namun tidak bisa dipahami karena bukan bahasa Arab. Yang dikhawatirkan ini justru merupakan rumus-rumus kekafiran. Bisa jadi di dalamnya terkandung doa kepada selain Allah ta’ala, kata-kata kekafiran, celaan terhadap Islam atau ayat Al-Qur’an, bahkan terhadap Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Jelas ini hukumnya haram.

Ruqyah, adalah bacaan-bacaan yang dibacakan dengan niat untuk kesembuhan atau tolak bala atau semisalnya, itulah yang disebut dalam bahasa kita dengan jampi-jampi. Dalam hadits-hadits, ruqyah ada dua macam. Salah satunya yang beliau shallallahu’alaihi wasallam sebut dalam hadits yang telah lewat yaitu yang syirik, yaitu yang terdapat padanya permohonan kepada selain Allah ‘azza wajalla.

Yang kedua adalah ruqyah yang syar’i, yang dibolehkan bahkan dianjurkan oleh Islam, yaitu yang terkumpul padanya tiga syarat :

1. Dengan kalamullah, ayat-ayat Al-Qur’an, atau dengan nama-nama Allah l dan sifat-sifat-Nya.

2. Dengan bahasa Arab dan yang diketahui maknanya.

3. Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, namun dengan takdir Allah l. (Fathul Majid)

Maka ruqyah yang tidak terpenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut maka tidak boleh dan haram.

Demikianlah hukum mantra-mantra. Walaupun terkadang disisipi ayat-ayat Al-Qur’an, namun faktanya juga dicampur dengan bacaan-bacaan lain yang jelas haram, atau yang tidak diketahui maknanya yang dikhawatirkan mengandung doa kepada selain Allah ta’ala, penghinaan terhadap Islam, atau perkara-perkara haram yang lain.

Adapun tiwalah, yaitu pelet, pengasihan, atau sejenisnya, termasuk syirik karena dengan itu seseorang berarti telah memohon kepada selain Allah ‘azza wajalla.

Penulis : Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Majalah AsSyariah Edisi 052

Kaki Tangan Syaithon

Sangatlah mengherankan, ternyata dari kalangan manusia ini ada yang menjadi murid sekaligus kaki tangan setan, siap menuruti segala petuahnya serta siap menjadi hamba dan budaknya. Dengan sikap ini, dia lancarkan segala manuver penyesatan yang dilakukan oleh musuh Allah subhanahu wata’alaa dan musuh kaum mukminin, pemimpin kejahatan, iblis la’natullah. Mereka adalah dukun dan tukang ramal.

Melalui murid, sang guru mendapatkan banyak peluang untuk melakukan penipuan dan penyesatan. Bahkan sang guru telah menciptakan kondisi yang seolah-olah umat ini tergantung dan tidak bisa terlepas dari dukun dan tukang ramal. Rumah panggung yang sudah reot dipadati pengunjung dari berbagai penjuru, yang semuanya ingin mengadukan nasib hidupnya. Padahal si dukun atau tukang ramal itu sendiri tidak mengetahui nasib dirinya. Karena jika dia mengetahui nasib hidupnya niscaya dia akan bisa mengubah nasibnya sendiri serta istri dan anaknya. Kedustaan menjadi senjatanya yang paling ampuh. Kekufuran menjadi baju dan selimutnya. Ilmu ghaib menjadi sandaran petuahnya. Padahal Allah subhanahu wata’alaa mengatakan:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Al-Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan ayat yang paling besar dalam merincikan luasnya ilmu Allah ta’alaa, yang mencakup seluruh perkara ghaib. Allah ‘azza wajalla mengajarkan sebagiannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Namun kebanyakan perkara ghaib itu disembunyikan ilmunya dari malaikat yang dekat maupun para rasul yang diutus, lebih-lebih dari selain mereka. Allah subhanahu wata’alaa mengetahui segala yang ada di daratan berupa berbagai macam hewan, pohon, pasir, kerikil, dan debu. Allah subhanahu wata’alaa juga mengetahui segala yang ada di lautan berupa berbagai macam hewan laut, segala macam tambang, ikan dan segala yang terkandung di dalamnya serta air yang meliputinya…

Jika semua makhluk dari yang pertama sampai yang terakhir, berkumpul untuk mengetahui sebagian sifat Allah subhanahu wata’alaa, niscaya mereka tidak akan sanggup dan tidak akan mencapainya. Maka Maha Suci Allah Rabb yang Mulia, Maha Luas, Maha mengetahui, Maha terpuji, Maha Mulia, dan Maha menyaksikan segala sesuatu, tidak ada sesembahan selain-Nya. Tidak ada seorang pun yang sanggup memuji-Nya. Dia adalah sebagaimana Dia puji Diri-Nya, dan di atas segala pujian hamba-hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu Allah l mencakup segala sesuatu dan bahwa kitab-Nya (Lauh Al-Mahfuzh) yang tertulis mencakup segala kejadian.” (Tafsir As-Sa’di, 1/259)

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah ta’alaa memerintahkan kepada beliau agar menyerahkan semua urusannya kepada Allah subhanahu wata’alaa. Juga memerintahkan agar beliau memberitakan tentang dirinya bahwa dia tidak mengetahui perkara ghaib. Tidaklah beliau mengetahui perkara yang ghaib melainkan apa yang telah diberitahukan oleh Allah ta’alaa, sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla :

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27) [Tafsir Ibnu Katsir, 3/523]

Jika imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam tidak mengetahui perkara ghaib, apakah kemudian selain beliau patut untuk mengilmuinya dan menjadikannya sebagai sandaran petuah? Apakah selain beliau shallallahu’alaihi wasallam bisa menguasainya sementara beliau tidak? Tentu ini adalah bentuk kedangkalan akal dan kerusakan fitrah.

Mengenal Lebih Dekat Dukun dan Arraf

‘Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata ‘arif. Ada sebagian ulama mengatakan bahwa ‘arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan ‘arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan selainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang ghaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan.

Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui perkara yang ghaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan: “Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu.”

Kahin (dukun) adalah orang yang memberitahukan tentang terjadinya suatu perkara ghaib pada waktu yang akan datang. Atau dengan kata lain, orang yang memberitahukan apa yang ada di dalam hati. (Lihat Majmu’ Fatawa, 35/173)

Walhasil, ‘arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama’ (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah menceritakan dalam sebuah hadits tentang cara pengajaran ilmu perdukunan oleh setan:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka terkena bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum terkena bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah z)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menandaskan sebuah kedok dan sekaligus topeng mereka yang dipergunakan untuk menipu umat, yaitu satu kali benar dan seratus kali berdusta. Dengan satu kali benar itu, dia melarismaniskan seratus kedustaan yang diciptakannya. Dan kedustaannya itu tidak dibenarkan melainkan karena satu kalimat tersebut. (Lihat Tafsir As-Sa’di, 1/700 dan Al-Qaulus Sadid hal. 71)

Inilah sesungguhnya tujuan setan mencuri kebenaran dari langit, yaitu menipu manusia dan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan serta mengaburkan kebenaran tersebut dengan kebatilan. Jika mereka membawa kebatilan yang murni, niscaya tidak ada seorang pun membenarkannya. Namun jika mereka mencampurkan kebatilan itu dengan sedikit kebenaran, akan menjadi fitnah (ujian) bagi orang yang lemah iman dan akalnya. (Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid 1/408)

Ada tiga keadaan terkait dengan guru-guru dukun dan tukang ramal, yaitu para pencuri kebenaran dari langit:

Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, jumlah mereka banyak sekali.

Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah ‘azza wajalla.

Ketiga: Setelah beliau meninggal dunia. Kondisinya kembali kepada kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1/447)

Benarkah Dukun dan Tukang Ramal Mengetahui Nasib alias Hal Ghaib?

Permasalahan perkara ghaib, ilmunya hanya di tangan Allah ta’alaa semata. Tidak ada sedikit pun ilmunya di tangan manusia. Jika ada orang yang mengaku mengerti ilmu ghaib berarti dia telah berdusta dan telah melakukan kekafiran yang nyata. Allah subhanahu wata’alaa berfirman:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

 

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (Luqman: 34)

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.  Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (Al-Jin: 26-28)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan masalah ini, baik di dalam Al-Qur’an atau di dalam hadits.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ilmu ghaib … sebuah sifat yang khusus bagi Allah subhanahu wata’alaa, dan semua yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentang perkara ghaib adalah pemberitahuan Allah, bukan semata-mata dari beliau.” (Fathul Bari, 9/203)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingkari ketika diri beliau dianggap mengetahui perkara ghaib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dari Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra radhiallahu’anhu. Dia berkata: “Tatkala Rasulullah walimatul ‘urs denganku, beliau duduk seperti duduknya dirimu (maksudnya perawi, red.) di hadapanku. Mulailah budak-budak wanita memukul (duff/semacam rebana) dan berdendang tentang ayah-ayah mereka yang terbunuh pada perang Badr. Di saat itu, salah seorang mereka berkata: ‘Dan di tengah kami ada seorang Nabi, yang mengetahui perkara esok hari.’ Beliau lalu berkata: ‘Tinggalkan ucapan ini! Katakanlah seperti ucapan yang telah engkau ucapkan’.”

Hadits ini menunjukkan, tidak benar jika seseorang berkeyakinan bahwa seorang nabi, wali, imam, atau syahid, mengetahui perkara ghaib. Sampai pun di hadapan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, keyakinan ini tidak boleh terjadi.” (Risalatut Tauhid, 1/77)

Pembaca yang budiman. Jika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sebagai imam para nabi dan rasul tidak mengerti perkara ghaib, apakah masuk akal jika selain mereka dapat mengetahuinya? Dari sini jelaslah bahwa pengakuan mengetahui perkara ghaib adalah sebuah kedustaan yang nyata. Tampilnya para dukun dan tukang ramal yang mengaku mengerti hal itu merupakan dajjal.

Bolehkah Mendatangi Dukun dan Tukang Ramal?

Telah jelas dalam pembahasan di depan tentang hakikat dukun, siapa dia dan bagaimana kiprahnya di tengah umat sebagai “jagoan dalam berpetuah” tentang nasib seseorang. Lalu bagaimanakah hukum mendatangi mereka dan bertanya dalam berbagai persoalan kelangsungan hidup, susah atau senang, beruntung atau gagal, celaka atau selamat, dan sebagainya? Telah dibahas oleh para ulama hukum mendatangi mereka:

Hukum Mendatangi Dukun

Pertama: Mendatanginya untuk bertanya tentang sesuatu tanpa membenarkan apa yang dikatakan. Ini termasuk sesuatu yang haram dalam agama. Ancamannya, tidak akan diterima shalatnya 40 malam, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari istri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam)

Kedua: Mendatangi mereka untuk bertanya kepadanya dan dia membenarkannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا –قَالَ مُوسَى فِي حَدِيثِهِ: فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ ثُمَّ اتَّفَقَا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً -قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ حَائِضًا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً –قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا- فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٌ

“Barangsiapa mendatangi dukun –Musa (perawi hadits) berkata: lalu dia membenarkan petuah dukun tersebut; kemudian mereka berdua sepakat dalam periwayatannya– atau mendatangi istrinya –Musaddad berkata: istrinya dalam keadaan haid– atau dia mendatangi istrinya –Musaddad berkata: istrinya pada duburnya– maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud no. 9304 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu’anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Ketiga: Mendatangi mereka untuk mengujinya apakah dia benar atau dusta sekaligus untuk membongkar kedoknya, memperlihatkan kelemahannya. Tentunya dia memiliki ilmu untuk menilai benar atau dusta. Ini dibolehkan, bahkan terkadang hukumnya wajib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 1289) dan Muslim (no. 2930) bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Ibnu Shayyad:

“Apa yang telah datang kepadamu?” “Telah datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya: “Apa yang kamu lihat?”

Dia berkata: “Aku melihat Arsy di atas air.”

Beliau bertanya: “Sesungguhnya aku telah merahasiakan sesuatu apakah dia?” Dia berkata: “Dukh, dukh (asap).” Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Diamlah. Engkau tidak memiliki kemampuan melainkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya engkau tidak lebih dari dukun seperti teman-temanmu.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 4/186 dan Al-Qaul Al-Mufid, 1/397)

Jaringan Dukun dan Tukang Ramal serta Silsilah Ilmu Mereka

Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan tentang barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): “Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan mencari berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini mencari berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya.”

Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik.”

Wallahu a‘lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

http://asysyariah.com/dukun-dan-tukang-ramal-budak-syaithan.html

Mengenal Dukun dari Sifat dan Ciri-cirinya

Perdukunan, ramalan nasib, dan sejenisnya telah tegas diharamkan oleh Islam dengan larangan yang keras. Sisi keharamannya terkait dengan banyak hal, di antaranya:

1. Apa yang akan terjadi itu hanya diketahui oleh Allah ‘azza wajalla. Maka seseorang yang meramal berarti ia telah menyejajarkan dirinya dengan Allah ‘azza wajalla dalam hal ini. Ini merupakan kesyirikan, membuat sekutu (tandingan) bagi Allah ‘azza wajalla. Atau;

2. Meminta bantuan kepada jin atau setan. Ini banyak terkait dengan praktik perdukunan dan sihir semacam santet atau sejenisnya.

Praktik sihir, ramal, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut:

1. Kahin

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu.

2. ‘Arraf

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa ia adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, yang darinya ia mengaku mengetahui tempat barang yang dicuri atau hilang.

3. Rammal

Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml.

4. Munajjim, ahli ilmu nujum

Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib.

5. Sahir, tukang sihir

Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan ramalan bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan.

Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui perkara ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.” (dinukil dari Kitabut Tauhid)

Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal ramal-meramal dengan cara-cara semacam di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah ‘azza wajalla.

Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan saat menjelaskan sebuah hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah ‘azza wajalla seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka dijumpai oleh bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum dijumpai oleh bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

Pada (hadits ini) terdapat keterangan tentang batilnya sihir dan perdukunan, bahwa keduanya sumbernya sama yaitu mengambil dari setan. Oleh karena itu, sihir tidak boleh diterima, demikian pula berita tukang sihir. Juga dukun dan berita dukun. Karena sumbernya batil. Disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”

Dalam hadits yang lain:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.”

Dalam hadits ini terdapat keterangan batilnya sihir atau dukun, larangan  membenarkan tukang sihir atau dukun, atau mendatangi mereka. Akan tetapi di masa ini, para tukang sihir dan dukun muncul dengan julukan tabib atau ahli pengobatan. Mereka membuka tempat-tempat praktik serta mengobati orang-orang dengan sihir dan perdukunan. Namun mereka tidak mengatakan: “Ini sihir, ini perdukunan.” Mereka tampakkan kepada manusia bahwa mereka mengobati dengan cara yang mubah, serta menyebut nama Allah ‘azza wajalla di depan orang-orang. Bahkan terkadang membaca sebagian ayat Al-Qur’an untuk mengelabui manusia, tapi dengan sembunyi mengatakan kepada orang  yang sakit, “Sembelihlah kambing dengan sifat demikian dan demikian, tapi jangan kamu makan (dagingnya), ambillah darahnya”, “Lakukan demikian dan demikian”, atau mengatakan “Sembelihlah ayam jantan atau ayam betina” ia sebutkan sifat-sifatnya dan mewanti-wanti “Tapi jangan menyebut nama Allah ‘azza wajalla”. Atau menanyakan nama ibu atau ayahnya (pasien), mengambil baju atau topinya (si sakit) untuk dia tanyakan kepada setan pembantunya, karena setan juga saling memberi informasi. Setelah itu ia mengatakan: “Yang menyihir kamu itu adalah fulan”, padahal dia juga dusta. Maka wajib bagi muslimin untuk berhati-hati. (I’anatul Mustafid)

Ciri-ciri Dukun atau Penyihir

Berikut ini beberapa ciri dukun, sehingga dengan mengetahui ciri-ciri tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati ciri-ciri tersebut ada pada seseorang walaupun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara ciri tersebut:

1. Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya, atau semacamnya.

2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya.

3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah ‘azza wajalla, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong.

4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang memuat kesyirikan.

5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas.

6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya terdapat pula huruf-huruf dan nomor-nomor.

7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari.

8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.

9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.

10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya.

11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit.

12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.

13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur’an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina.

14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr)

Ini sekadar beberapa ciri dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya walaupun terkadang berbalut label-label keagamaan semacam kyai atau ustadz.

 

Dilarang Mendatangi Dukun

Bila kita telah mendengar tentang seseorang yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan di atas, janganlah kita mendatanginya. Hal itu sangat dilarang dalam agama Islam. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

Dalam Shahih Muslim disebutkan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

“Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

Hukum ini sebagai akibat dari hanya mendatangi dukun saja. Karena (sekadar) mendatanginya sudah merupakan kejahatan dan perbuatan haram, walaupun ia tidak memercayai dukun tersebut. Oleh karenanya, ketika sahabat Mu’awiyah Ibnul Hakam radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam perihal dukun beliau menjawab: ‘Jangan kamu datangi dia.’ Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarangnya walaupun sekadar mendatanginya. Jadi hadits ini menunjukkan tentang haramnya mendatangi dukun walaupun tidak memercayainya, walaupun yang datang mengatakan: ‘Kedatangan saya hanya sekadar ingin tahu’. Ini tidak boleh.

“Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” dalam sebuah riwayat “40 hari 40 malam.”

Ini menunjukkan beratnya hukuman bagi yang mendatangi dukun, di mana shalatnya tidak diterima di sisi Allah ‘azza wajalla, tidak ada pahalanya di sisi Allah ‘azza wajalla, walaupun ia tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya, karena secara lahiriah ia telah melakukan shalat. Akan tetapi, antara dia dengan Allah ‘azza wajalla, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya karena tidak Allah ‘azza wajalla terima. Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya mendatangi dukun, sekadar mendatangi walaupun tidak memercayai. Adapun bila memercayainya maka hadits-hadits yang akan dijelaskan berikut telah menunjukkan ancaman yang keras, kita berlindung kepada Allah ‘azza wajalla.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi shallallahu‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Dalam hadits ini ada dua masalah:

Masalah pertama: mendatangi dukun.

Masalah kedua: memercayainya pada apa yang ia beritakan dari perdukunannya. Hukumnya ia telah dianggap kafir terhadap apa yang Allah ‘azza wajalla turunkan kepada Nabi Muhammad. Karena tidak akan bersatu antara membenarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dengan membenarkan berita dukun yang itu adalah pekerjaan setan. Dua hal yang tidak mungkin bersatu, memercayai Al-Qur’an dan memercayai dukun.

Yang nampak dari hadits itu bahwa ia telah keluar dari Islam.

Dari riwayat dari Al-Imam Ahmad rahimahullah ada dua pemahaman dalam hal kekafiran semacam ini. Satu riwayat, bahwa maksudnya kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Riwayat yang lain: kekafiran kecil, di bawah kekafiran tadi.

Ada pendapat ketiga: tawaqquf, yakni kita baca hadits sebagaimana datangnya tanpa menafsirkan serta mengatakan kafir besar atau kecil. Kita katakan seperti kata Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan cukup.

Tapi yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama, bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena tidak akan bersatu antara iman kepada Al-Qur’an dengan iman kepada perdukunan. Karena Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan perdukunan, dan memberitakan bahwa itu adalah perbuatan setan, maka orang yang memercayai dan membenarkan berarti telah kafir dengan kekafiran besar. Inilah yang nampak dari hadits. (I’anatul Mustafid)

Demikian penjelasan beliau tentang mendatangi dukun. Adapun tentang bertanya-tanya atau konsultasi dengan para dukun, telah dijelaskan dalam rubrik Manhaji secara lebih detail.

KETIK REG SEPASI RAMAL

Ada satu hal yang perlu lebih kita sadari, yaitu kecanggihan teknologi yang ada ternyata digunakan para dukun untuk mencari mangsa. Sehingga tidak mesti seseorang datang ke tempat praktik dukun tersebut, tapi justru dukunnya yang mendatangi seseorang melalui radio, televisi, internet, atau SMS. Dengan itu, bertanya kepada dukun jalannya semakin dipermudah. Cukup dengan ketik: ”reg spasi ….” selanjutnya mengirimkannya ke nomor tertentu melalui ponsel, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan perdukunan. Bahkan, sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang membuat program khusus untuk menayangkan kompetisi di antara dukun/ tukang sihir.

Subhanallah, cobaan nyata semakin berat. Kaum muslimin mesti menyadari hal ini. Jangan sampai kecanggihan teknologi ini membuat kita semakin jauh dari ajaran agama. Justru seharusnya kita gunakan kemajuan teknologi ini untuk membantu kita agar semakin taat kepada Allah ‘azza wajalla.

Semoga kaum muslimin menerima dan memahaminya dengan baik sehingga menyadari akan bahaya perdukunan, untuk kemudian kaum muslimin pun bersatu dalam memerangi perdukunan.

Penulis : Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

http://asysyariah.com/dukun-dan-ciri-cirinya.html

Menyingkap Keajaiban Ponari

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa ikhwan (teman) terlibat pembicaraan. Sampai pada sebuah informasi tentang Ponari yang terlontar dari salah satu ikhwan,  setelah beberapa hari dari pembicaraan tersebut saya baru mempunyai kesempatan untuk mencari tahu lebih dalam informasi tentang Ponari, ternyata kenyataan fenomena Ponari ini membuat saya kaget sekaligus menyapa keimanan didalam hati, sayapun yakin seperti itu juga ikhwan – ikhwan yang lain, keimanan siapa yang tidak  tersentuh perbuatan syirik dilakukan didepan mata, keimanan siapa yang tidak tersentuh kesesatan dikampanyekan dihadapan kita, keimanan siapa yang tidak tersentuh melihat kaum muslimin tersesat dikelamnya kebodohan, keimanan siapa tidak tersentuh ditengah keterprosokkan kaum muslimin kepada kesyirikan ada pihak yang malah mencari keuntungan. Lahaula wala Quwata illa Billah, kemudian terbetiklah untuk menulis tulisan sederhana ini dengan harapan semoga bermanfaat.

Pertama : Ponari dan kebenaran ceritanya

Ada satu hal yang ingin saya tekankan disini yaitu untuk tidak terlalu mudah menerima atau mempercayai berita yang seperti ini, apalagi hanya dari mulut kemulut. Wahai saudaraku…., marilah kita berpikir sejenak, apakah orang yang menceritakan kejadian Ponari orang yang terpercaya agamanya sehingga timbul rasa takut untuk berbohong dalam bercerita atau menambah – nambahin dalam cerita tersebut ….??!! atau apakah mereka orang yang paham terhadap Aqidah yang benar atau paham ini perkara tauhid dan ini perkara syirik sehingga bisa menyaring kabar yang masuk ke dirinya….??!! Jawablah wahai saudaraku….

Atau apakah media masa yang memberitakan Ponari media masa yang para wartawannya bertaqwa kepada Allah sehingga menahan penanya untuk menulis sesuatu yang tidak ada pada kenyataannya atau menghiasi ceritanya agar lebih seru dan menarik pembaca…??!! atau media masa yang para wartawannya perduli terhadap agama, memberikan perhatian terhadap aqidah yang benar didalam ilmu dan amal mereka, sehingga dapat menyaring berita yang masuk yang dapat membahayakan aqidah umat… ??!! atau media masa yang fulus menjadi orientasinya, ngga perduli walaupun membahayakan aqidah umat, jawablah wahai saudaraku…..

Kalau pada kenyataannya yang memberitakan apa yang terjadi pada Ponari adalah orang yang tidak perduli atau melalaikan agamanya, tidak tahu perkara tauhid, tidak tahu perkara syirik, meninggalkan sholat, atau melakukan dosa besar jika kondisinya seperti ini penting bagi saya untuk menghadirkan sebuah ayat semoga menjadi renungan untuk kita semua.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu “ ( QS: Al Hujuraat: 6 )

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : “ Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengecek berita yang bersumber dari orang yang fasiq agar berhati-hati dengannya “ ( Tafsir Ibnu Katsier pada ayat ini )

Lalu bagaimana jika sumber beritanya dari orang kafir….!!

Kalau seandainya benar cerita yang terjadi pada Ponari tersebut maka ini adalah tipu daya syaithan untuk menyesatkan ummat maka tidak boleh menyebarkan sebuah berita yang dapat menjerumuskan ummat kepada kesesatan karena itu adalah bentuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan ” ( QS Al Maidah:2 )

Kedua : Ponari dan tipu daya Syaithan.

Sepengetahuan saya dari berita yang saya dapat, bahwa Ponari atau keluarganya tidak pernah belajar sesuatu dari ilmu perdukunan dan sihir, ponari dan keluarganya hanyalah masyarakat biasa, maka apa yang terjadi pada ponari adalah bentuk tipu daya syaithan untuk menyesatkan Ponari, kedua orang tuanya dan ummat.

Untuk menyesatkan Ponari, yaitu menyeretnya untuk menjadi seorang dukun dan tukang sihir. Mungkin pada awalnya Ponari tidak pernah terbetik atau bercita – cita untuk menjadi seorang dukun tapi lambat laun syaithan dengan liciknya menyeretnya untuk menjadi seorang dukun, mengaku mengetahui perkara yang ghaib dan melakukan aktifitas yang mencerminkan perbuatan seorang dukun. Naudzubillah, hal ini atau cara penyesatan syaithan seperti ini bukanlah sesuatu yang baru.

Adapun upaya syaithan untuk menyesatkan ummat adalah dengan menjadikan Ponari sebagai perantara dalam rencana busuknya untuk menyesatkan ummat kelembah najisnya kesyirikan dan kekufuran.

Wahai kaum muslimin, bukankah Iblis berkata sebagaimana yang Allah kabarkan didalam kitab-Nya yang mulia :

إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِين قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ المُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“ Iblis menjawab : “ karena Engkau telah menghukumi saya tersesat maka saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (ta’at).” ( QS Al A’araf: 16 – 17 )

Sudah menjadi profesi syaithan untuk menyesatkan manusia, bisa saja syaithan yang melemparkan batu tersebut kepada Ponari, hal ini pun yang dikatakan Syaikh Yahya tentang batu yang di dapat ponari, lalu bisa jadi syaithan membisiki hatinya, dengan berkata : “ ini adalah sebuah keutamaan dan karomah atau mari kita bekerja sama untuk mengobati manusia ”. Wahai kaum muslimin…, marilah kita berpikir sejenak, apakah masuk diakal seorang musuh (syaithan) datang kepada musuhnya (manusia) lalu berkata : “ saya adalah syaithan untuk menyesatkan kamu wahai ponari, atau berkata : “ saya adalah syaithan, saya akan memanfaatkan kamu untuk menyesatkan ummat dengan label pengobatan…..”

Apakah kita tidak memperhatikan bagaimana syaithan mengeluarkan bapak kita Nabi Adam ‘Alaihi Salaam dari Surga, dikarenakan melanggar perintah Allah. Apakah syaithan berkata ke pada Adam ‘Alaihi Sallaam : “ saya akan menyesatkan kamu wahai Adam.” Bahkan syaithan datang kepada Adam dengan berpenampilan sebagai seorang penasehat bahkan berani bersumpah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengkabarkan tentang hal itu :

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“ Dan dia (Syaithan) bersumpah kepada keduanya : “ saya adalah termasuk orang yang memberikan nasehat kepada kalian berdua.” ( QS Al A’araf: 21 )

Kalau Nabi Adam dan Istrinya saja dibohongi oleh Syaithan dengan berlagak sebagai pemberi nasehat, sehingga dengan sebab itu Nabi Adam dan Hawa memakan buah yang Allah melarang keduanya untuk mendekatinya, lalu apa yang menghalangi Syaithan untuk menyesatkan  kita dengan berkata: “ Mari kita mengobati manusia ” atau berkata “ ini adalah karomah “ atau “ ini adalah mu’jizat ” dengan tujuan menjerumuskan manusia kejurang najis dan kelamnya kesyirikan dan kekufuran. Berfikirlah wahai orang-orang yang berakal….??!!

Bukankah syaithan sendiri yang berkata akan menyesatkan kita, sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan didalam Al –Qur’an

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“ Iblis berkata : Ya Rabbku oleh sebab Engkau memutuskan bahwa aku tersesat pasti aku menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua “ ( Qs. Al Hijr : 39 )

Kalau kita sudah sadar bahwa syaithan akan menyesatkan kita, maka akan saya hadirkan sebuah ayat untuk kita renungkan bersama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ

“ Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah – langkah syaithan, barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar( QS. An Nur : 21 )

Kemungkaran apa yang paling besar, wahai sudaraku…, kalau bukan kemungkaran syirik bukankah Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“  Sesungguhnya perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah kedzaliman yang sangat besar( Qs. Luqman : 13 ) dalam ayat lain Allah juga berfirman :

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 )

Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Didalam ayat ini terdapat penjelasan besarnya bahaya syirik, dikarenakan seseorang apabila mati dalam kaeadaan berbuat syirik maka tidak akan diampuni baginya bahkan dia kekal didalam neraka, berbeda dengan dosa lainnya yaitu dibawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya kemudian masuk surga, dan jika Allah berkehedak maka Allah akan mengampuniannya (tidak mengadzabnya). Adapun dosa syirik maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman :

ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )

(Syarh Kitab Tauhid Syaikh Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz : 37)

Kemungkaran apa yang lebih besar  dari bergantungnya hati kepada selain Allah dengan menyakini kesembuhan dari sebuah batu, padahal Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallaam :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Kemungkaran apa yang lebih besar dari menyakini selain Allah mengetahui perkara yang ghoib, padahal Allah Taala berfirman :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللهُ

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib  kecuali Alloh” (Qs. An-Naml : 65 )

Ketiga : Ponari antara Karomah, Mu’jizat dan tipu daya syaithan

Sangatlah jelas sekali apa yang terjadi pada Ponari bukalah karomah apalagi mu’jizat. Karomah adalah kejadian luar biasa yang diluar kemampuan orang pada umumnya yang Allah berikan kepada orang shaleh, hambanya yang memahami tauhid dan mengamalkannya secara dzohir dan bathin, hambanya yang menjauhi perbuatan syirik, bid’ah dan khurofat, melaksanakan sholat lima waktu dan menjauhi maksiat. Adapun Mu’jizat khusus untuk nabi. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah : “ Al-Imam Haramain menukilkan adanya ijma (kesepakatan) bahwa sihir tampak dari orang fasik adapun karomah tidaklah tampak dari orang fasik (melakukan dosa besar)

Berkata juga Al Hafidz Ibnu Hajar : “ Sudah seharusnya dilihat keadaan  orang yang ada pada dirinya keajaiban, apabila orangnya berpegang teguh dengan syariat  (agama), menjauhi dosa yang membinasakan maka apa yang terlihat darinya  berupa keajaiban adalah karomah, jika tidak seperti itu maka itu adalah sihir. Dikarenakan timbul dari salah satu macamnya dengan pertolongan syaithan. ( Fathul Bari’ Cet. Maktabah As-Shofa, Juz 10 hal : 260 )

Berkata Ibnul Jauzi Rahimahullah : Telah kami jelaskan pada pembahasan yang telah lalu bahwa iblis menebarkan tipu dayanya kepada manusia sesuai kadar keilmuan, maka setiap kali berkurang ilmu yang ada pada diri seseorang tersebut bertambah kuat pula kemampuan iblis dalam memperdaya orang tersebut. Dan semakin dalam kadar keilmuan seseorang maka semakin melemah kemampuan iblis untuk memperdaya orang tersebut, sebuah contoh ada seseorang dari kalangan ahli ibadah melihat sebuah cahaya di langit maka jika hal itu terjadi di bulan ramadhan, niscaya dia akan mengatakan aku telah melihat lailatul Qadar, dan kalau ternyata hal tersebut terjadi di bulan selain Ramadhan dia akan menyatakan telah dibukakan pintu – pintu langit untukku, kemudian dia menyangka hal itu sebagai karomah baginya, yang pada hakikatnya kejadian tersebut terjadi secara kebetulan atau sebuah fitnah atau sebuah tipu daya  dari iblis dan orang yang berakal sangat tidak akan menerima hal-hal yang seperti ini walaupun  disangka hal ini adalah sebuah karomah.” ( Talbis Iblis Ibnul Jauzi, bab Ke 11 Hal : 404 )

Keempat : Ponari dan kesyirikan yang ada atau dikhawatirkan muncul di fenomenanya

Sebelum menjelaskan fenomena kesyirikan yang ada atau dikhawatirkan umat terseret kepada nya, maka penting bagi saya untuk menjelaskan pengertian syirik dan macamnya untuk memudahkan memahami pembahasan selanjutnya.

Pengertian Syirik : Menyamakan selain Allah dengan Allah didalam hal – hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. (Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi Darus Shamiy, hal : 37 )

Syirik dibagi dua :

Pertama : Syirik Akbar (besar) yaitu yang mengeluarkan pelakunya dari islam dan mengekalkan pelakunya didalam neraka jika mati belum bertaubat darinya.

Kedua : Syirik Asghor (kecil) yaitu yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam tetapi mengurangi tauhid dan sarana yang dapat menjerumuskan kesyirik Akbar. (Aqidah Tauhid, Syaikh Sholeh Al Fauzan : 77, dengan diringkas )

Yang pertama : “ Si Anak Ajaib Ponari “

Ada beberapa gambaran dalam masalah ini :

Jika seseorang menyakini bahwa Ponari dapat menyembuhkan penyakit dengan sendirinya, atau berkeyakinan Ponarilah yang dapat menyembuhkan penyakit pasiennya atau berkeyakinan ponari mempunyai kekuatan ghaib untuk menyembuhkan para pasiennya maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang berobat ke Ponari. Kenapa hal ini merupakan termasuk syirik…?? karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Jika seseorang menyakini Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab, Ponari bukanlah sebab kesembuhan berbagai penyakit pasiennya

  • ·Bukankah Ponari tidak mengetahui Tibun Nabawi (pengobatan Nabi), seperti bekam, minum habbatu Sauda dan lain-lain
  • ·Bukankah Ponari bukan seorang dokter
  • ·Bukankah Ponari tidak memiliki sedikitpun dari ilmu kedokteran
  • ·Bukankah Ponari tidak memiliki ilmu pengobatan tradisional, seperti jamu-jamuan, atau refeleksi
  • ·Sudah begitu dengan tidak mengetahui dan mempunyai kemampuan apa-apa dari pengobatan Nabawi, kedokteran dan tradisional lalu mengaku bisa mengobati berbagai penyakit, dari penyakit dalam sampai penyakit luar bahkan penyakit stress dan gila ….!!!
  • ·Ditambah cara pengobatan Ponari terkadang ketika melakukan pengobatan dibarengi sambil bermain dengan teman sebayanya kemudian tangannya digerakkan oleh orang lain untuk menyelupkan batu kedalam air.

Karena alasan inilah tidak ada keterkaitan sama sekali Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit pasiennya, maka yang berkeyakinan Ponari sebagai sebab kesembuhan para pasiennya merupakan bentuk mengambil sebab apa yang Allah tidak jadikan sebagai sebab. Dan ini merupakan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“ Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu Nya dalam menetapkan hukumnya( Qs. Al Kahfi : 26 )

Hukum Allah dibagi dua :

Hukum Syariyah : Yaitu berupa perintah dan larangan Allah

dan hukum kauniyah : Yaitu apa yang Allah taqdirkan, termasuk diantaranya sebab dan akibat. Maka jika menetapkan sebab yang tidak Allah tetapkan sebagai sebab maka ini termasuk syirik.

Syaikh Yahya pernah ditanya : Ya Syaikh berkaitan dengan, soal kemarin (tentang Ponari dan batunya), apa hukum jika seseorang menyakinii Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakinya, apakah termasuk syirik karena menjadikan sebab apa yang bukan sebab, karena Ponari bukan seorang dokter dan tidak mempunyai ilmu tentang kesehatan. Syaikh Menjawab : menjadikan apa yang bukan sebab sebagi sebab merupakan kesyirikan dan sarana mengatarkan kepada syirik (dinukil secara makna).Semoga penjelasan ini menjadi menjadi catatan bagi perkataan Ngawur dari Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi tentang hukum mendatangi Ponari. (Silahkan Lihat bantahan saya kepada mereka berdua)

Yang Kedua : ” Batu Ajaib “

Ada beberapa gambaran dalam masalah ini :

Jika seseorang menyakini bahwa  batu Ponari dapat menyembuhkan penyakit dengan    sendirinya, atau berkeyakinan batu itulah yang dapat menyembuhkan penyakit pasiennya atau berkeyakinan batu tersebut mempunyai kekuatan ghaib untuk menyembuhkan para pasiennya maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang berobat ke Ponari. Kenapa syirik karena menyandarkan ssesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab. Tidak terbukti secara syar’i bahwa batu tersebut sebab kesembuhan begitu juga tidak terbukti secara penelitian, sudah begitu mengklaim Ponari dan batunya dapat menyembuhkan semua penyakit ( Silahkan lihat lebih lanjut penjelasan menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab merupakan kesyirikan, di Kitab Qaulul Mufid Syaikh Ibnu Utsaimin hal 107)

Yang Ketiga : Menyakini barakah batu tersebut

Jika seseorang menyakini bahwa  batu Ponari dapat yang memberikan barakah dengan    sendirinya, maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang mencari barokah ke batu Ponari. Kenapa syirik karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah semata, karena yang dapat memberikan barokah hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ

“ Kami limpahkan keberkahan atasnya dan ishaq “

( QS. Ash-Shaaffat : 113 )

Jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab barokah dan dia menyakini yang memberikan barakah hanyalah Allah semata. maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab.

Berbeda jika ada dalil syar’i yang menyatakan sesuatu tersebut bebarakah, seperi bulan Ramadhan bulan barakah cara mendapatkan barakah di bulan tersebut dengan memperbanyak ibadah karena  doa-doa dikabulkan, pahala amalan ibadah dilipat gandakan dan lain – lain, atau air zam-zam air yang berbarakah caranya dengan meminumnya dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhan penyakit kita misalnya, dengan menyakini yang memberikan barakah dan kesembuhan hanya Allah semata.

Yang Keempat : Ketergantungan hati kepada Ponari dan batunya

Ketergantungan yang luar biasa kepada Ponari dan batunya di antaranya dapat dilihat dari perbuatan para pasiaen Ponari yang ketika ditutup praktek pengobatan Ponari, melakukan tindakan membabi buta seperti mengambil air mandi bekas Ponari atau air comberan, meminum air yang tertampung diatap rumah Ponari dan lain-lain untuk mengobati penyakitnya, dari ketergantungan hati yang luar biasa kepada Ponari dan batunyalah  yang mengakibatkan para pasien tersebut melakukan hal seperti itu, Dimana yach para pasien itu dengan ayat ini..??!!

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Bukankah Allah yang memberi manfaat, baik itu kesembuhan dan yang lainnya bukankah Allah yang menolak mudhorot…..!!!

Lalu dimana mereka dengan ayat  dan hadist ini

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Bukankah Allah memerintahkan kepada kita untuk bertawakal kepada Allah semata, yaitu bergantungnya hati kita kepada Allah dalam meraih apa – apa yang bermanfaat, seperti mencari sebab kesembuhan dan menolak apa – apa yang membahayakan bagi dunia dan akhirat kita. Allah Subhana Wata’ala berfirman :

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ

“ Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. ( Qs. Al – Maaidah : 23 )

Pada ayat ini Allah memerintahkan untuk bertawakal kepada Nya, ini menunjukkan tawakal itu dicintai Allah maka kalau begitu tawakal adalah ibadah. Sebagaimana pengertian Ibadah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taiminyah Rahimahullah, Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup seluruh perkara apa – apa yang dicintai Allah dan diridhainya dari perkataan, perbuatan dzahir dan bathin. ( Ubudiyah Syaikhul Islam, bersama syarh Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihy : 6 )

Maka jika tawakal di palingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik, bisa terjatuh kepada syirik akbar pada suatu keadaan dan syirik asghor pada suatu keadaan lain. Sebagaimana yang akan disebutkan disini :

Tawakal yang merupakan syirik akbar (besar) : Yaitu bergantungnya hati kita kepada selain Allah dalam perkara – perkara yang selain Allah tidak di beri kemampuan.

Tawakal yang merupakan syirik asghar (kecil) : Yaitu bergantungnya hati kita kepada selain Allah dalam perkara – perkara yang selain Allah di beri kemampuan.  ( Silahkan Lihat Al Jamamiul Fariid, li as’ilatil wal ajwibah ala kitab tauhid, Syaikh Abdullah Jarullah : 200 )

Kelima : Ponari dan Julukan ” Si Dukun Cilik dari Jombang “

Julukan dukun bukanlah julukan yang baik apalagi julukan kehormatan yang patut dibanggakan. Karena dukun, paranormal, ahli nujum, tukang ramal dan yang semisalnya adalah nama bagi orang yang mengklaim dirinya mengetahui sesuatu dari ilmu ghaib tetapi cara mereka berbeda. ( Silahkan Lihat Al Jamamiul Fariid, li as’ilatil wal ajwibah ala kitab tauhid, Syaikh Abdullah Jarullah : 200 )

Profesi dukun adalah profesi kekafiran Naudzubillah, dikarenakan dua hal :

1. Mengaku mengetahui perkara yang ghoib

2. Beribadah atau bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada syaitan

(Silahkan lihat Qoulus Syadid Syarh Kitab Tauhid, Syaikh As-Sa’di : 97, lihat juga Al-Jaamiul Fariid li asilati wal ajwibah ‘ala kitab tauhid, Syaikh Abdulloh Bin Jarulloh)

Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahulloh : (Setelah menyebutkan beberapa hadist) “Sebagaimana di dalam hadits ini sebagai dalil atas kafirnya dukun dan tukang shir dikarenakan keduanya mengaku mengetahui perkara yang ghaib, yang demikian itu perbuatan kekafiran dikarenakan keduanya tidak bisa mendapatkan yang mereka inginkan kecuali dengan melayani jin dan beribadah kepadanya dari selain Alloh, yang demikian itu merupakan perbuatan kekufuran dan syirik kepada Alloh Subhanah, dan jika membenarkan mereka mengetahui perkara yang ghaib maka hukumnya seperti mereka (Kafir) “ (Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz : 7- 8 )

Jika julukan si dukun cilik sesuai dengan keadaan si Ponari dengan mengaku mengetahui perkara yang ghoib dan melakukan berbagai aktivitas perdukunan. Maka penting bagi saya untuk membawakan sebuah hadist untuk menjadikan peringatan kita semua, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassallam “ (HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh Syaikh Al-Abany)

sebagaimana dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh sebagian istri Nabi Sholallahu alaihi wassallam , Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda :

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam” (HR Muslim)

Keenam : Ponari dan kesembuahan para pasiennya

Sudah pernah saya singgung diawal tulisan ini, bahwa jangan mudah menerima dan mempercayai sebuah berita dengan model seperti ini apalagi dibawa oleh orang yang tidak jelas agamanya. Sudah begitu kenapa orang yang tidak sembuh setelah datang kepengobatan Ponari kurang disorot kalau tidak mau dikatakan diangkat kepublik.

Adapun jika benar ada yang sembuh setelah datang kepraktek pengobatan Ponari ada dua kemungkinan :

  1. Kesembuhan yang pada hakekatnya tidaklah sembuh

Misalnya datang seorang yang lumpuh tiba – tiba setelah minum air yang telah dicelup batu Ponari langsung bisa jalan atau tidak lama setelah pengobatan tersebut langsung bisa jalan. Bisa saja jin masuk kedalam kakinya kemudian meneggakkannya sehingga tiba-tiba bisa jalan. Suatu saat jika jin nya pergi dia akan lumpuh lagi. Hal ini pernah saya tanyakan oleh salah seorang Syaikh disini (Syaikh Ma’mar), diapun menjawab bisa  kemudian membawakan dalil tentang masuknya jin ketubuh seseorang.

  1. Bisa jadi benar – benar sembuh, dan yang menyembuhkan adalah Allah semata dan bukan karena sebab Ponari dan batunya, ada sebab lain atau Allah menyembuhkannya tanpa sebab. Dan ini bentuk istridraj yaitu menangguhkan hukuman baginya sampai batas waktu yang Allah tentukan sehingga semakin menumpuk dosanya. Naudzubilah

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ

“Kami akan menarik mereka beransur-ansur (kearah kebinasaan) dari arah yang mereka tidak ketahui “ ( Qs. Al Qalam : 44 )

Ketujuh : Ponari dan sebuah nasehat

Wahai Bapak dan Ibu Ponari, yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Sebelumnya saya minta maaf, tidaklah saya tulis nasehat ini, insya Allah kecuali untuk kebaikan bapak dan ibu serta Ponari bahkan untuk yang lainnya. Begitu juga dalam rangka mengamalkan sebuah hadist, dari Abu Ruqayah Tamim Bin Aus Ad Dary Radiyalallahu ‘Anhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda ” Agama itu adalah nasehat “ ( HR. Muslim )

Sebagaimana yang mungkin bapak dan ibu telah ketahui, sebagai orang tua maka mempunyai tanggung jawab  kepada anak – anaknya, dan sebagai pemimpin mempunyai tanggung jawab terhadap yang dipimpin, hal ini sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berasabda : ” Setiap dari kalian akan diminta pertanggung jawaban, dan setiap kalian adalah seorang pemimpin dari yang dipimpin….” (HR. Bukhari dan Muslim )

Maka kita akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang telah kita lakukan, begitu juga kedua orang tua akan dimintai pertanggung jawaban tentang anaknya, apakah seorang bapak dan ibu sudah menunaikan hak anaknya, berupa nafkah, pendidikan agama, mengarahkan kepada apa – apa yang bermanfaat untuk akhirat dan dunianya dan memperingatkan dari hal-hal yang membahayakan anaknya, bukankah Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

” Hai orang-orang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ” ( Qs. Atharim : 6 )

Maka  saya katakan, semoga Allah memberi hidayah kepada bapak dan ibu serta Ponari, bapak dan Ibu harus memberi peringatan kepada Ponari yang saat ini syaithan berusaha menyeret Ponari kepada sesuatu yang membahayakan bagi kehidupan akhirat dan dunianya, yaitu syaithan berusaha menyeret Ponari menjadi seorang dukun, disamping itu Ponaripun dimanfaatkan oleh syaithan untuk menyesatkan umat dengan topeng pengobatan. Apakah bapak dan ibu tega melihat Ponari menjadi seorang dukun, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassallam “ ( HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu )

Diriwayatkan dari sebagian istri Nabi Sholallahu alaihi wassallam , Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : “ Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam ” ( HR Muslim )

Kalau yang mendatangi saja bisa kafir lalu bagaimana hukum yang didatangi.

Wahai bapak dan ibu Ponari yang semoga Allah memberi hidayah kepada bapak dan ibu, saya jadi teringat sebuah hadist yang saya ingin hadirkan disini untuk menjadi renungan kita bersama. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam Bersabda : ” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi ” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh) maka jika Ponari menjadi seorang dukun maka bapak dan ibu mempunyai andil dalam hal itu. Bukankah kedua orang tua yang paling perduli kepada anak-anaknya, bukankah bapak dan ibunyalah yang paling sayang sama anak-anaknya, apakah bapak menyangka perusahaan yang memproduksi Ponari Sweat perduli dengan agama Ponari…??!! maka dengan tegas saya katakan… mereka tidak perduli, apakah bapak dan ibu menyangka para wartawan dan media massa yang memberitakan Ponari dan batunya perduli dengan nasib Ponari diakherat kelak, kalau Ponari mejadi seorang dukun dan mati dalam keadaan seperti itu…??!!, saya tidak ragu untuk mengatakan mereka tidak perduli. Demi Allah, wahai Bapak dan Ibu Ponari yang saya inginkan adalah kebaikan untuk kalian, maka dengarkanlah nasehat saya ini. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh dosa yang pernah kita lakukan, diantaranya pelalaian pendidikan agama terhadap anak sendiri, Bapak dan Ibu serta Ponari harus meningggalkan pengobatan yang dilakukan Ponari karena itu semua merupakan tipu daya syaithan yang mengatarkan kepada dosa kesyirikan, sebuah dosa yang tidak diampuni oleh Allah kalau sebelum matinya seseorang belum bertaubat dari dosa syirik. Serta mulailah membenahi diri kita, begitu juga ajarkan kepada Ponari Aqidah yang benar, tanamkan kepada Ponari bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib  kecuali Allah, tanamkan pada Ponari bahwa syaithan adalah musuh kita, tanamkan kepada Ponari bahwa kesembuhan hanyalah dari Allah semata, serta mulailah menjaga sholat lima waktu, ajak Ponari sholat berjamaah dimasjid, jangan lupa bentengi diri kita, bapak dan ibu serta Ponari  dengan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seperti doa sebelum tidur, dzikir pagi dan sore dan jangan lupa sering baca Al –Qur’an dan baca surat Al Baqarah di rumah, karena yang demikian itu semua dapat membentengi kita dari gangguan syaithan. Bertawakalah kepada Allah dan banyaklah berdoa semoga Allah mengeluarkan kita dari segala masalah yang kita hadapi.

Kemudian utarakanlah kepada pihak yang berwenang (pemerintah) tentang keputusan bapak dan ibu untuk meninggalkan dan menutup praktek pengobatan Ponari, Insya Allah pemerintah akan setuju dan membantu keputusan bapak dan ibu, serta utarakanlah untuk pindah dari tempat yang bapak dan ibu Ponari tinggali sekarang, untuk menutup segala jalan agar orang tidak bisa lagi mendatangi Ponari dan dalam rangka mencari lingkungan yang baik, bisa pindah ke Jakarta Depok, disana ada lingkungan Ahlus Sunnah, lingkungan yang baik akan membuat pengaruh yang baik untuk kehidupan Ponari, disamping itu bisa menuntut ilmu agama disana, belajar aqidah yang lainnya, atau ditempat yang lainnya yang disitu ada lingkungan Ahlu Sunnah. Insya Allah pemerintah akan senang membantu bapak dan ibu.

Ke delapan : Pasien Ponari dan sebuah nasehat

Wahai para pasien Ponari semoga Allah memberikan kesembuhan kepada engkau, mungkin saya tidak tahu sedetail apa rasa sakitmu, sebesar apa perjuangan untuk mengobati penyakitmu dan biaya yang telah di keluarkan untuk mengobati penyakitmu, tapi insya Allah nasehat yang saya tulis ini untuk kebaiakan akhirat dan dunia kalian.

Wahai Engkau yang berusaha untuk mengobati penyakitmu, wahai engkau yang telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun sakit, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat Allah sangatlah luas, bukankah Allah Ta’ala berfirman :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“ Dan Rahmat Ku meliputi segala sesuatu ” (Qs. Al – A’raaf : 156 )

Bukankah Allah Al-Lathif (yang Maha Lembut), sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ العَزِيزُ

“ Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambanya Dia memberi rezeki kepada siapa yang di kekehendaki – Nya “ ( Qs. Asy Syuura : 19 )

Teruslah berusaha untuk berobat mengambil sebab untuk kesembuhan penyakitmu, dengan pengobatan yang dibolehi oleh syariat yang mulia ini, dan perbanyaklah doa, kerena kesembuhan hanyalah dari Allah. Allah sematalah yang mengangkat kesusahan dan penyakitmu

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“ Dan apabila hamba-hamba ku bertanya kepada mu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku ( Qs. Al baqarah : 186 )

أَمَّنْ يُجِيبُ المُضطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“ Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada Nya dan yang menghilangkan kesusahan “ ( Qs. Al-Naml : 62 )

Bukankah Allah mengkabarkan perkataan Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Wahai para pasien Ponari semoga Allah menyembuhkan kalian, tinggalkanlah berobat ke praktek pengobatan Ponari dan yang semisalnya karena berobat kesana mengantarkan kepada keharaman yang sangat besar yaitu kesyirikan dan mengatarkan kepada kerusakan Aqidah seseorang. Berobatlah dengan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah dan banyak berdoalah, semoga Allah menyembuhkan kaum muslimin dari penyakit yang dideritanya.

Kesembilan pihak yang berwenang (pemerintah) dan sebuah nasehat

Wahai Pihak yang berwenang (pemerintah) semoga Allah memberikan dan menolong kita untuk keluar dari segala masalah yang kita hadapi sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Nya. Amin…, Wahai pihak yang berwenang, sebagai warga yang baik saya berusaha untuk ikut andil dalam menyelesaikan sebagian permasalahan bangsa ini. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat ini, yang Insya Allah untuk kebaikan kita semua. Wajib bagi pihak berwenang untuk menutup praktek pengobatan Ponari dan semisalnya karena praktek pengobatan Ponari adalah praktek pengobatan yang menjerumuskan seseorang kedalam kerusakan aqidah dan kesyirikan. Dan mengamankan batu tersebut, kemudian memusnahkannya.

Begitu juga menutup seluruh praktek perdukunan yang ada di Indonesia karena hal itu semua merusak aqidah umat dan sebab yang datangnya adzab Allah, karena perdukunan sebesar-besar maksiat kepada Allah. Dalam hal ini berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : Oleh karena itu kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya. dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar dan tempat-tempat lainnya. Dan secara tegas menolak segala apa yang mereka lakukan” (Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz )

Kesepuluh : Ponari dan sebuah solusi

Wahai pihak yang berwenang (pemerintah) dan para dokter, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan semoga Allah memudahkan untuk menyelesaikan permasalahan  bangsa ini sesuai dengan apa yang di ridhoi Nya.

Kami mengajak kerja sama kepada pihak berwenang dan para dokter untuk melakukan beberapa hal dalam rangka menyelesaikan fenomena Praktek pengobatan Ponari :

Pertama : Umumkan kepada publik bahwasannya Bapak dan Ibu Ponari serta Ponari memutuskan untuk menghentikan dan menutup praktek pengobatan Ponari selama – lamanya dan menyatakan taubat dari praktek pengobatan tersebut setelah mengetahui bahwasannya praktek pengobatan tersebut mengantarkan kepada kesyirikan. Hal ini penting supaya publik tahu bahwa praktek pengobatan Ponari adalah sesuatu yang diharamkan karena mengantarkan kepada kesyirikan begitu juga supaya publik tahu bahwa praktek pengobatan Ponari telah ditutup sehingga tidak ada yang datang lagi.

Kedua : Para dokter dan pihak berwenang memberi pengobatan gratis bagi pasien yang sudah telanjur datang, sebagai bentuk saling membantu dalam kebaikan dan menutup munculnya tindakan anarkis dari sebagian pasien tersebut

Ketiga : membagi – bagikan buku tentang permasalahan Aqidah, seperti buku ” Hukum Sihir dan Perdukunan ” Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah. Hal ini sangatlah penting sebagai upaya pembenahan aqidah mereka.

Nasehat Untuk Kaum Muslimin

Wahai kaum Muslimin…, yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Dari penjelasan diatas tersirat sebuah pelajaran yang sangat penting, yakni akan bahayanya bodoh terhadap ilmu agama terutama aqidah, karena sebab kebodohan dalam permasalahan agama membuat seseorang terjerumus kepada kesesatan bahkan kekafiran Naudzubillah. Wahai kaum muslimin wajib bagi kita untuk mempelajari agama ini terutama permasalahan tauhid supaya kita bisa mengamalkannya secara dzhohir dan bathin dan mempelajari macam-macam dan bentuk-bentuk perbuatan syirik supaya kita dapat menjauhinya. Berkata Syaikh Yahya Bin Ali Al Hajuri Hafidzahullah : ” Jangan pernah meremehkan masalah tauhid, baik itu nasehat, dakwah dan dari merealisasikannya.” (Ta’liq Pelajaran Syaikh Yahya, pada kitab Al Jamius Shahih, Syaikh Muqbil )

Penulis : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al – Jakarty

Alamat Situs : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/02/26/menyapa-fenomena-ponari/#comment-813

Mengenal Lebih Dekat Mbah Maridjan

Selain meletusnya gunung merapi kematian mbah maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir-akhir ini, dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai “kuncen” gunung merapi disamping mbah maridjan meninggal menjadi korban  meletusnya gunung merapi. Apalagi konon meninggalnya dalam keadaan sujud. Tak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, atau karena keberaniannya dan pujian-pujian lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar diatas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang haq (benar) ba’da taufiqillah (setelah hidayah taufiq Allah) menilai sosok mbah maridjan. Insya Allah penjelasan sederhana dibawah ini menjadi penjelas bagi kita bagaimana kita menilai seorang mbah maridjan.

Pertama : Mbah Maridjan dan tugasnya sebagai seorang  “kuncen/juru kunci” gunung merapi

Seharusnya seorang itu jeli dalam setiap permasalahan apalagi yang menyangkut permaslahan dien nya (agamanya)…!!! Cukup dengan mengetahui  bahwasannya mbah maridjan sebagai seorang “kuncen” gunung merapi maka seharusnya seseorang sudah bisa menilai sosok mbah maridjan dengan benar dan menahan diri mereka untuk memuji mba maridjan dan mengagguminya. Kuncen…?? apa maksudnya ini, kalau tidak dibalik semua ini ada keyakinan-keyakinan sesat. Juru kunci gunung merapi…???!!!, ada apa dibalik semua itu…??? Kalau tidak keyakinan syirik…!!!. Itulah yang diyakini mbah maridjan, mbah maridjan menyakini bahwa gunung merapi mempunyai penunggunya, yang menguasainya, yang bisa menimpakan bahaya untuk masyarakat sekitar, sehingga berimbas dari keyakinan itu mbah maridjan melakukan taqarub (mendekatkan diri) dengan memberi sesajen dan yang lainnya supaya penunggu dan penguasa gunung merapi itu tidak marah dan menimpakan bahaya kepada masyarakat sekitar. Adakah perbuatan syirik (menyekutukkan Allah) yang lebih jelas dari ini…???!!!. Mbah maridjan melakukan ritual tolak bala dengan  membuang berbagai macam barang karaton dari mulai keris dan lainya yang dikenal dengan labuhan merapi. Begitu juga melakukan ritual tapa bisu dan lain-lain.

Berkata Asy Syaikh Shalih Al –Fauzan Hafidzahullah : ” Syirik adalah menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Allah didalam Rububiyah Nya (penciptaan, pengaturan, memberi manfaat dan mudharat/bahaya) dan didalam Uluhiyah Nya (dalam beribadah kepada Allah)” ( Aqidah Tauhid Syaikh Shalih Al –Fauzan: 18 )

Berkata Imam Syaukani Rahimahullah : ” Bahkan syirik adalah dengan menujukan untuk selain Allah sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Nya “ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas : 18 ) Termasuk kekhususan Allah adalah Rububiyah Nya, Allahlah satu satu-satunya yang mencipta, mengatur alam semesta ini, memberi rezeki, memberi manfaat dan mudharat (bahaya) dan yang lainnya. Dan mbah maridjan telah membuat tandinggan bagi Allah didalam Rububiyah Nya ketika mbah maridjan menyakini ada selain Allah yang memberi manfaat dan mudharat, yaitu penunggu gunung merapi.!!!

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:  “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

Artinya : Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

أَيُشْرِكُونَ مَا لاَ يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلاَ أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ

“ Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan. Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun mereka tidak dapat memberikan pertolongan “. (Qs. Al ‘Araaf : 191-192)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Dan ini adalah sifat sesembahan yang tidak berhak disembah. Dan ini pertanyaan dalam rangka celaan (bagi orang yang beribadah kepada selain Allah –penj) mereka menyembah  kepada yang tidak bisa menciptakan walaupun hanya seekor semut bahkan mereka (sesembahan) itu diciptakan, bagaimana mereka bisa memberikan manfaat terhadap selain mereka, baik sesembahan itu berupa batu yang tidak berakal atau makhluk hidup yang tidak dapat mendengar (orang yang menyerunya –penj) atau orang mati yang tidak bisa mengabulkan seruan mereka, didalam ayat ini terkandung sifat sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu empat hal :

  1. Bahwasanya mereka tidak dapat menciptakan sesuatu
  2. Bahwasanya mereka  makhluk yang diciptakan
  3. Bahwasanya mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyembahnya
  4. Bahwasanya mereka tidak dapat memberikan pertolongan untuk diri mereka sendiri “ ( Syarhu Kitabit Tauhid Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 98 )

Disamping itu mbah maridjan mengaku – ngaku mendapat wangsit kapan meletus atau tidaknya gunung merapi dari penunggu gunung merapi atau dari mbah merapi ???!!!, atau pengakuan dia memastikkan gunung berapi tidak akan meletus dan yang lainnya…??!!.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

” Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan – syaithan sebagai wali (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira mereka mendapat petunjuk ” ( Qs. Al’Araaf : 30 )

Akhirnya tidak sedikit yang menjadi korban dari meletusnya gunung merapi, termasuk orang yang katanya mendapat wangsit itu (mbah maridjan sendiri) dan orang yang mengikutinya.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ

“ Katakanlah wahai (Muhammad) tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah “ (Qs. An-Naml :65)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurrahman As-sa’di Rahimahullah : “ Allah mengikrarkan bahwa Dia sematalah yang mengetahui perkara yang ghaib di langit dan di bumi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “ Pada sisi Allah lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan dilautan dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun di kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. Dan Allah Ta’ala berfirman “ Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim…” sampai akhir surat. Perkara ghaib dan yang semisalnya merupakan kekhususan bagi Allah dalam pengilmuanNya, tidak ada yang mengetahuinya baik itu malaikat yang terdekat atau nabi yang diutus.” (Taisirul Karimir Rahman Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam ayat ini)

Kedua : Mbah Maridjan beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Jika seorang muslim mengetahui sedikit saja ilmu agama dengan pemahaman yang benar insya Allah dia tidak akan salah menilai sosok seorang mbah maridjan. Tapi jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar sehingga mereka diselimuti kebodohan yang sangat. Pengetahuan seseorang tentang mbah maridjan, bahwasannya mbah maridjan disamping beribadah kepada Allah dengan sholat, puasa baca Al Qur’an dan yang lainnya tetapi disisi lain mbah maridjan juga beribadah kepada selain Allah, bertaqarub (mendekatkan) diri kepada selain Allah dengan berbagai macam ibadah, diantaranya menyediakan sesajen kepada para penunggu dan penguasa yang mbah maridjan yakini sebagai para penunggu dan penguasa gunung merapi. Jelas ini perbuatan syirik dan kekufuran, bermula pada kesyrikkan dalam Rububiyah Allah dan berimbas pada perbuatan syirik dalam Uluhiyyah Allah. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: