Jassasah si Pengawal Dajjal

JasasahPernahkah anda mendengar Jassasah? Itulah pengawal Dajjal yang bertugas mencari-cari berita dari manusia, bila ia menemui manusia yang lewat di pulau kediaman Dajjal. Pulau apakah itu dan dimana? Pulau itu adalah pulau misteri sampai saat ini masih disembunyikan keberadaannya oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Kali ini kami akan mengajak anda menikmati kisah di bawah ini yangmenyingkap sedikit perihal kehidupan makhluk misteri iniagar anda semakin yakin tentang kebenaran risalah Nabi kita Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-..

Dari Fathimah bintu Qois -radhiyallahu anha-, ia berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ فِي صَفِّ النِّسَاءِ الَّتِي تَلِي ظُهُورَ الْقَوْمِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ لِيَلْزَمْ كُلُّ إِنْسَانٍ مُصَلَّاهُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ لِمَ جَمَعْتُكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا فَجَاءَ فَبَايَعَ وَأَسْلَمَ وَحَدَّثَنِي حَدِيثًا وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ مَسِيحِ الدَّجَّالِ حَدَّثَنِي أَنَّهُ رَكِبَ فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ مَعَ ثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْ لَخْمٍ وَجُذَامَ فَلَعِبَ بِهِمْ الْمَوْجُ شَهْرًا فِي الْبَحْرِ ثُمَّ أَرْفَئُوا إِلَى جَزِيرَةٍ فِي الْبَحْرِ حَتَّى مَغْرِبِ الشَّمْسِ فَجَلَسُوا فِي أَقْرُبْ السَّفِينَةِ فَدَخَلُوا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْهُمْ دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يَدْرُونَ مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقَالُوا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قَالُوا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ أَيُّهَا الْقَوْمُ انْطَلِقُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ قَالَ لَمَّا سَمَّتْ لَنَا رَجُلًا فَرِقْنَا مِنْهَا أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً قَالَ فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ خَلْقًا وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا مَجْمُوعَةٌ يَدَاهُ إِلَى عُنُقِهِ مَا بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى كَعْبَيْهِ بِالْحَدِيدِ قُلْنَا وَيْلَكَ مَا أَنْتَ قَالَ قَدْ قَدَرْتُمْ عَلَى خَبَرِي فَأَخْبِرُونِي مَا أَنْتُمْ قَالُوا نَحْنُ أُنَاسٌ مِنْ الْعَرَبِ رَكِبْنَا فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ فَصَادَفْنَا الْبَحْرَ حِينَ اغْتَلَمَ فَلَعِبَ بِنَا الْمَوْجُ شَهْرًا ثُمَّ أَرْفَأْنَا إِلَى جَزِيرَتِكَ هَذِهِ فَجَلَسْنَا فِي أَقْرُبِهَا فَدَخَلْنَا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْنَا دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يُدْرَى مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقُلْنَا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قُلْنَا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ اعْمِدُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ فَأَقْبَلْنَا إِلَيْكَ سِرَاعًا وَفَزِعْنَا مِنْهَا وَلَمْ نَأْمَنْ أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً فَقَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَخْلِ بَيْسَانَ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ أَسْأَلُكُمْ عَنْ نَخْلِهَا هَلْ يُثْمِرُ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ لَا تُثْمِرَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ بُحَيْرَةِ الطَّبَرِيَّةِ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِيهَا مَاءٌ قَالُوا هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ قَالَ أَمَا إِنَّ مَاءَهَا يُوشِكُ أَنْ يَذْهَبَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ عَيْنِ زُغَرَ قَالُوا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِي الْعَيْنِ مَاءٌ وَهَلْ يَزْرَعُ أَهْلُهَا بِمَاءِ الْعَيْنِ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ وَأَهْلُهَا يَزْرَعُونَ مِنْ مَائِهَا قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَبِيِّ الْأُمِّيِّينَ مَا فَعَلَ قَالُوا قَدْ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ وَنَزَلَ يَثْرِبَ قَالَ أَقَاتَلَهُ الْعَرَبُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ بِهِمْ فَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّهُ قَدْ ظَهَرَ عَلَى مَنْ يَلِيهِ مِنْ الْعَرَبِ وَأَطَاعُوهُ قَالَ لَهُمْ قَدْ كَانَ ذَلِكَ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ فَلَا أَدَعَ قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِي مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِي عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَائِكَةً يَحْرُسُونَهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ أَلَا هَلْ كُنْتُ حَدَّثْتُكُمْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ

“Aku pernah sholat bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Aku berada di shaff wanita yang berada dekat dengan punggung kaum lelaki. Tatkala Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menyelesaikan sholatnya, maka beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa. Kemudian beliau bersabda, “Hendaknya setiap orang melazimi tempatnya”, lalu bersabda lagi, “Tahukah kalian kenapa aku kumpulkan kalian?”

“Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, kata mereka.

Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah mengumpulkan kalian karena keinginan (dalam membagi ghonimah, –pent.) dan tidak pula karena takut (terhadap musuh, –pent.). Akan tetapi aku kumpulkan kalian, karena Tamim Ad-Dariy dahulu seorang yang beragama Nasrani. Kemudian ia datang berbai’at dan masuk Islam. Dia telah menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sesuai dengan kisah yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Dia telah menceritakan kepadaku bahwa telah berlayar dalam sebuah perahu besar bersama 30 orang lelaki dari Suku Lakhm dan Judzam. Mereka dipermainkan oleh ombak selama sebulan di lautan. Kemudian mereka berlabuh pada sebuah pulau di tengah lautan ketika terbenamnya matahari. Mereka pun duduk di perahu kecil, lalu memasuki pulau itu.

Mereka dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan belakangnya karena banyak bulunya. Mereka berkata (kepada binatang itu), “Celaka engkau, siapakah engkau?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Jassasah (tukang cari berita)”. Mereka bilang, “Apa itu Jassasah?” Binatang itu berkata, “Wahai kaum, pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana itu. Karena ia amat rindu dengan berita kalian”.

Dia (Tamim) berkata, “Tatkala ia (si binatang) menyebutkan seorang lelaki kepada kami, maka kami khawatir jangan sampai binatang itu adalah setan perempuan”. Tamim berkata, “Kami pun pergi dengan  cepat sampai kami memasuki istana tersebut. Tiba-tiba di dalamnya terdapat orang yang paling besar  kami  lihat dan paling kuat ikatannya dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu ke lehernya antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya dengan besi”. Kami katakan, “Celaka anda, siapakah anda?” Dia (Dajjal) menjawab, “Sungguh kalian telah tahu beritaku. Kabarkanlah kepadaku siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang Arab. Kami telah berlayar dalam sebuah perahu besar. Kami pun mengarungi lautan saat berombak besar. Akhirnya, ombak mempermainkan kami selama sebulan. Kemudian kami berlabuh di pulau anda ini. Kami pun duduk-duduk di perahu kecil, lalu masuk pulau. Tiba-tiba kami dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan belakangnya karena banyak bulunya. kami berkata (kepada binatang itu), “Celaka engkau, siapakah engkau?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Jassasah (tukang cari berita)”. Kami bilang, “Apa itu Jassasah?” Binatang itu berkata, “Pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana. Karena ia amat rindu dengan berita kalian”. Lalu kami menghadap kepadamu dengan cepat, kami takut kepadanya dan tak merasa aman jika ia adalah setan perempuan”. Dia (Dajjal) berkata, “Kabarilah aku tentang pohon-pohon korma Baisan (nama tempat di Yordania, –pent.)!!”. Kami bertanya, “Engkau tanya tentang apanya?”. Dajjal berkata, “Aku tanyakan kepada kalian tentang pohon-pohon kurmanya, apakah masih berbuah?”. Kami jawab, “Ya”. Dajjal berkata, “Ingatlah bahwa hampir-hampir ia tak akan berbuah lagi”. Dajjal berkata, “Kabarilah aku tentang Danau Thobariyyah!!”. Kami katakan, “Apanya yang kau tanyakan?” Dajjal berkata, “Apakah di dalamnya masih ada air?” Mereka menjawab, “Danau itu masih banyak airnya”. Dajjal berkata, “Ingatlah, sesungguhnya airnya hampir-hampir akan habis”. Dajjal bertanya lagi, “Kabarilah aku tentang mata air Zughor!!” Mereka bertanya, “Apanya yang kau tanyakan?” Dajjal berkata, “Apakah di dalam mata air itu masih ada air? Apakah penduduknya masih menanam dengan memakai air dari mata air itu?” Kami jawab, “Ya, mata air itu masih banyak airnya dan penduduknya masih bercocok tanam dari airnya”. Dajjal berkata lagi, “Kabarilah aku tentang Nabinya orang-orang Ummi (ummi : buta huruf, yakni orang-orang Quraisy), apa yang ia lakukan? Mereka berkata, “Dia telah keluar dari Kota Makah dan bertempat tinggal di Yatsrib (Madinah)”. Dajjal bertanya, “Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?” Kami katakan, “Ya”. Dajjal bertanya, “Apa yang ia lakukan pada mereka?” Lalu mereka kabari Dajjal bahwa sungguh ia (Nabi itu, yakni Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) telah berkuasa atas orang-orang yang ada di sekitarnya dari kalangan Arab dan mereka menaatinya”. Dajjal berkata kepada mereka, “Apakah hal itu sudah terjadi?” Kami jawab, “Ya”.

Dajjal berkata, “Ingatlah bahwa hal itu lebih baik bagi mereka untuk menaatinya. Sekarang aku kabari kalian bahwa aku adalah Al-Masih (yakni, Al-Masih Ad-Dajjal). Sungguh aku hampir diberi izin untuk keluar. Aku akan keluar, lalu berjalan di bumi. Aku tak akan membiarkan suatu negeri, kecuali aku injak dalam waktu 40 malam, selain Makkah dan Thoibah (nama lain bagi kotaMadinah, –pent.). Kedua kota ini diharamkan bagiku.

Setiap kali aku hendak memasuki salah satunya diantaranya, maka aku dihadang oleh seorang malaikat, di tangannya terdapat pedang terhunus yang akan menghalangiku darinya. Sesungguhnya pada setiap jalan-jalan masuk padanya ada malaikat-malaikat yang menjaganya”

Dia (Fathimah bintu Qois) berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda seraya menusuk-nusukkan tongkatnya pada mimbar, “Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, yakni kota Madinah. Ingatlah, apakah aku telah menceritakan hal itu kepada kalian?”

Orang-orang pun berkata, “Ya”.

[HR. Muslim dalam Kitab Asyroot As-Saa’ah, bab : Qishshoh Al-Jassasah (no. 2942), Abu Dawud dalam Kitab Al-Malaahim(4326), At-Tirmidziy dalam Kitab Al-Fitan (2253) dan Ibnu MajahKitab Al-Fitan (4074)]

  • Ibrah dan Renungan
  1. Diantara tanda-tanda dekatnya waktu keluarnya Dajjal, berikut dekatnya kiamat: buah pepohonan korma negeri Baisanakan habis dan tak lagi berbuah, danau Thobariyyah akan meresap habis, dan mata air Zughor akan meresap kering kerontang, serta munculnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagai Rasul dari kalangan kaum ummi (buta huruf), yakni Quraisy untuk menyampaikan agama kepada manusia seluruhnya.  Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- berkata, “Diantara perkara yang menunjukkan bahwa terutusnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- termasuk tanda kiamat bahwa beliau kabarkan tentang Dajjal dalam hadits Jassasah”. [Lihat Al-Hikam Al-Jadiroh bil Idza’ah (hal. 4)]
  2. Di akhir zaman, Dajjal akan muncul dengan keluarbiasaan yang Allah berikan padanya sebagai fitnah (ujian) keimanan bagi manusia. Diantara keluarbiasaannya, ia mampu mengelilingi semua negeri, kecuali Makkah dan Madinah dalam waktu 40 hari. Tujuannya untuk memurtadkan manusia!! Maka berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal. Allahumma na’udzu bika min fitnatid dajjal.
  3. Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy –rahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan kota Madinah, keutamaan mendiaminya serta terjaganya kota Madinah dari thoo’uun (pes) dan Dajjal”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (9/155)]

Sumber :

http://pesantren-alihsan.org/jassasah-si-pengawal-dajjal.html#comment-272

======================================================================================

 

Pembagian Kitab Catatan Amal

Dengan hikmah dan keadilan yang sempurna, Allah Ta’ala memerintah sebagian malaikat-Nya untuk mencatat seluruh amalan hamba selama hidup di dunia, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin, yang dilakukan terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.

Semua itu akan dicatat oleh para malaikat pencatat yang mulia, sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

كَلاَّ بَلْ تُكَذّبُونَ بِالدّينِ- وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَـفِظِينَ- كِرَاماً كَـتِبِينَ- يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (amalan-amalanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Infithar: 9—12)

 

 

 

Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.”

 (az-Zukhruf: 80)

Demikian juga, Allah Ta’ala berfirman:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ – مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

(Qaf: 17—18)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahhullah berkata, “Malaikat yang di sebelah kanan seorang hamba mencatat amalan-amalan yang baik, sedangkan yang di sebelah kirinya mencatat amalan-amalan yang buruk.” (Tafsir Karimir Rahman hlm. 805)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meriwayatkan dari Allah ‘Azza wajalla yang berfirman,

إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً، وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا عَشْرًا

“Apabila hamba-Ku berniat melakukan satu amalan yang jelek, janganlah kalian menulisnya. Apabila dia melakukannya, tulislah satu kejelekan. Apabila dia berniat melakukan satu kebaikan, kemudian tidak jadi melakukannya, tulislah (baginya) satu kebaikan. Apabila dia melakukannya tulislah (baginya) sepuluh kebaikan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

Dalam riwayat yang lainnya, “Sampai tujuh ratus kebaikan.”

Para malaikat pencatat amalan tersebut akan melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan tidak akan mendurhakai-Nya. Ini adalah sifat para malaikat yang mulia, sebagaimana dalam firman-Nya:

يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“(Mereka) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jika demikian, di mana tempat kita bersembunyi? Kapan kita bisa melakukan satu perbuatan yang mereka tidak mengetahui, padahal Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar? Demikian juga, para malaikat pencatat amal senantiasa mengikuti kita di mana pun berada dan selalu siap mencatat amalan kita?

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

 “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak meridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”

(an-Nisa: 108)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Kalian harus senantiasa mengevaluasi semua amal kalian karena Allah Ta’ala sungguh telah memerintah para malaikat pencatat amal yang mulia untuk mencatat ucapan dan perbuatan kalian, dalam keadaan mereka mengetahui perbuatan-perbuatan kalian itu, termasuk amalan hati dan anggota badan. Sudah sepantasnya kalian menghormati dan memuliakan mereka.” (Tafsir Karim ar-Rahman hlm. 914)

Pembagian Kitab Catatan Amalan

Di antara peristiwa mencekam yang akan terjadi pada hari kiamat adalah dibuka dan dibagikannya kitab-kitab catatan amal kepada para pemiliknya. Pembagian ini adalah penentu, apakah seorang hamba termasuk golongan yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki lagi abadi, atau justru mendapatkan kecelakaan dan kesengsaraan yang hakiki serta abadi pula.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

 “Tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu’.”

(al-Isra’: 14)

 

Allah Ta’ala juga berfirman:

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberi kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”

(al-Isra’: 71)

Yang dimaksud dengan “كِتَابَهُ” adalah kitab-kitab catatan amalan mereka. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Mujahid, Abul ‘Aliyah, al-Hasan al-Basri, dan ad-Dhahhak rahimahumullah.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pendapat ini adalah yang paling kuat/benar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/49)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Setiap orang akan diberi kitab catatan amalnya. Kitab itu penuh dengan catatan.Dia akan membacanya sendiri. Orang yang beriman diberi kitab catatan amalnya dan diterima dengan tangan kanannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” (al-Haqqah: 19)

Si mukmin akan bahagia. Ia pun senang ketika orang-orang melihat kitab catatan amalnya karena dia sangat bahagia.

Allah Ta’ala menceritakan hamba-Nya yang beriman di dalam kitab-Nya:

إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ

“Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (al-Haqqah: 20)

Maksudnya, “Aku beriman dan yakin bahwa aku akan menemui hari hisab, maka aku mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu dengan amal-amal saleh.”

Allah Ta’ala berfirman:

فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ – فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ – قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ – كُلُواْ وَاشْرَبُواْ هَنِيئَاً بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى الاٌّيَّامِ الْخَالِيَةِ

Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan amalan yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 21—24)

Adapun orang kafir, dia akan diberi kitab catatan amalnya dan diterima dengan tangan kiri, dari balik punggungnya, wal ‘iyadzu billah. Firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ

Dan adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).” (al-Haqqah: 25)

Dia pun berangan-angan seandainya dia tidak diberi kitab catatan amalnya dan tidak diperlihatkan kitab tersebut di hadapannya karena dia malu dan kecewa. Firman-Nya:

وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ – يلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ

“Aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.” (al-Haqqah: 26—27)

Maknanya, “Aduhai, kiranya aku tidak dibangkitkan. Aduhai, kematian itu akhir dari (segala urusan).”

Allah Ta’ala memberitakan ucapannya:

“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.” (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (al-Haqqah: 28—32)

Semua ini terjadi setelah diterimanya kitab catatan amal dengan tangan kanan atau tangan kiri. (Syarah Lum’atul I’tiqad hlm. 206)

Cara Menerima Kitab Catatan Amal

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Yang tampak dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, umat manusia akan mengambil/menerima kitab catatan amal mereka dengan tiga cara: dengan tangan kanan, dengan tangan kiri, dan dari balik punggung.”

Akan tetapi, yang tampak, ini adalah perbedaan sifat saja. Orang yang menerima kitab catatan amal dari balik punggungnya ialah orang yang menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kirinya. Artinya, dia menerima dengan tangan kiri sembari menjulurkannya ke arah belakang punggungnya karena ia termasuk golongan kiri. Adapun ia mengambil kitab catatan amal itu balik punggungnya karena ketika di dunia, Kitabullah mendatanginya namun dia membalikkan punggungnya. Jadi, adalah adil baginya jika kitab catatan amal diletakkan di balik punggungnya pada hari kiamat. (Syarah Aqidah Wasithiyah, 2/150—151)

Hal-Hal yang Menghapus Lembaran-Lembaran Kelam

Dengan rahmat-Nya yang sempurna, Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang telah melakukan berbagai kemaksiatan dan kezaliman, sebesar dan sebanyak apa pun, untuk berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya. Berbagai catatan kelam bisa terhapuskan dengan sebab rahmat Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”(az-Zumar: 53)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallambersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sungguh, Allah ‘Azza wajalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dia juga membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertaubat; hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari)

Adapun amalan-amalan yang dapat menghapus catatan-catatan kelam adalah sebagai berikut.

1. Tauhid yang bersih dari syirik dan kotoran lainnya

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa: 116)

Allah ‘Azza wajalla juga berfirman di dalam hadits qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik terhadap-Ku, sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. at-Tirmidzi dari Anas bin Malik)

2. Taubat dan istighfar

Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa dosa besar dan ancamannya:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Furqan: 70)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallambersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau saja kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah Ta’ala akan membinasakan kalian dan mendatangkan kaum lainnya yang mereka berbuat dosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah ‘Azza wajalla dan Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

3. Amalan-amalan kebaikan, seperti shalat, puasa, sedekah, dan lain-lain

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتِ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ

“Di antara shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan puasa Ramadhan ke bulan Ramadhan berikutnya, akan menjadi penghapus dosa-dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

4. Menutupi aurat atau kejelekan saudaranya

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menutupi aurat atau kejelekan saudaranya (muslim), niscaya Allah Ta’ala akan menutupi kejelekannya nanti pada hari kiamat.”

Akhirnya, penulis mengatakan,

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي

“Ya Allah, tutupilah aurat atau kejelekan-kejelekan kami, dan berilah rasa aman dari seluruh rasa takut kami.

Bentuk-Bentuk Hisab di Akhirat

Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 65)
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushshilat: 21)
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاقِيهِ. فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ. فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 6-8)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحِكَ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مِمَّ أَضْحَكُ؟ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ مِنْ مُخَاطَبَةِ الْعَبْدِ رَبَّهُ. يَقُولُ: يَا رَبِّ أَلَمْ تُجِرْنِي مِنْ الظُّلْمِ؟ يَقُولُ: بَلَى. فَيَقُولُ: فَإِنِّي لَا أُجِيزُ عَلَى نَفْسِي إِلَّا شَاهِدًا مِنِّي. فَيَقُولُ: كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ شَهِيدًا وَبِالْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ شُهُودًا. فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ فَيُقَالُ لِأَرْكَانِهِ انْطِقِي قَالَ فَتَنْطِقُ بِأَعْمَالِهِ. ثُمَّ يُخَلَّى بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَلَامِ فَيَقُولُ: بُعْدًا لَكُنَّ وَسُحْقًا فَعَنْكُنَّ كُنْتُ أُنَاضِلُ
“Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tertawa dan bertanya: “Tahukah kalian apa yang membuatku tertawa?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Aku menertawakan percakapan seorang hamba dengan Rabbnya. Ia berkata, “Wahai Rabb, bukankah Engkau telah menghindarkanku dari kezhaliman?” Allah menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak mengizinkan diriku (untuk dihisab) kecuali jika saksinya berasal dari diriku sendiri.” Allah berfirman, “Kalau begitu pada hari ini cukuplah jiwamu yang menjadi saksi atas dirimu,” (Al Israa`: 16) dan juga para malaikat yang mulia yang mencacat amalanmu menjadi para saksi.” Maka dibungkamlah mulutnya dan dikatakan kepada anggota badannya, “Bicaralah.” Maka anggota badannya pun mengungkap semua amal perbuatan yang dilakukannya.” Beliau meneruskan, “Kemudian diapun dibiarkan berbicara maka dia berkata, “Menjauh dan celakalah kalian, untuk melindungi kalianlah aku berjuang?” (HR. Muslim no. 1054)
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya oleh seorang lelaki, “Bagaimana anda mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang an-najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hamba-Nya pada hari kiamat)?” Maka dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya Allah mendekat kepada seorang mukmin lalu Dia melindungi dan menutupinya. Lalu Allah berfirman, “Apakah kamu mengenal dosamu yang ini? Apakah kamu mengenal dosamu yang ini?” Maka mukmin tersebut berkata: “Ya, wahai Rabbku”. Hingga ketika Dia telah membuat dia mengakui semua dosanya dan dia memandang bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman, “Aku telah menutupi semua dosamu itu di dunia dan Aku mengampuninya untukmu pada hari ini.” Maka orang itu diberikan kitab catatan kebaikannya. Adapun orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi berkata, “Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Rabb mereka. Maka laknat Allah atas orang-orang yang zhalim”.(QS. Hud: 18) (HR. Al-Bukhari no. 2441)

Penjelasan ringkas:
Selain qishash, pada hari kiamat Allah Ta’ala juga menetapkan adanya hisab atas setiap hamba-hambaNya, yang mukmin maupun yang kafir. Adapun bentuk hisabnya, maka sesuai dengan hikmah dan keadilan Allah. Di antara mereka ada yang dihisab dengan hisab yang mudah, yang kaifiatnya sebagaimana dijabarkan dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma di atas. Di antara mereka ada yang dihisab dan diadili dengan saksi dari anggota tubuh mereka sendiri. Dan di antara mereka ada yang dosanya diperdengarkan dengan keras di hadapan seluruh makhluk untuk mempermalukan mereka.
Allahumma hasibnaa hisaban yasira (Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah)

 


Munculnya Ad-Dukhan Pada Akhir Zaman

Munculnya asap pada akhir zaman merupakan salah satu tanda kiamat besar yang ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab dan As-Sunnah.

Dalil-dalil tentang hal ini dari Al-Qur`an adalah:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ. يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.” (Ad-Dukhan: 10-11)

Maknanya, tunggulah orang-orang kafir itu –wahai Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wa sallam)– pada hari di mana langit mendatangkan asap yang nyata lagi jelas, yang menutupi serta meliputi manusia. Ketika itu, dikatakan kepada mereka: “Inilah adzab yang pedih”, sebagai celaan dan cercaan keras terhadap mereka. Atau sebagian mereka mengucapkan kalimat ini kepada yang lain.1

Tentang apa yang dimaksud dengan ad-dukhan ini, apakah sudah terjadi atau merupakan tanda yang masih ditunggu terjadinya, ada dua pendapat ulama:

1. Ad-dukhan ini adalah apa yang menimpa kaum Quraisy berupa kesempitan hidup dan kelaparan yang terjadi ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan bagi mereka karena tidak mau memenuhi dakwah beliau. Mereka melihat sesuatu seperti asap di langit. Pendapat inilah yang dipegang Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan diikuti sekelompok salaf.

Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada lima perkara yang telah berlalu: Al-lizam2, Romawi, al-bathsyah, bulan, dan asap.”

Ketika seorang lelaki dari Kindah berbicara tentang ad-dukhan: “Sesungguhnya ad-dukhan akan datang (menjelang) hari kiamat, mengambil pendengaran dan penglihatan orang-orang munafiq,” marahlah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: “Barangsiapa yang berilmu, berbicaralah. Dan barangsiapa yang tidak berilmu, ucapkanlah: ‘Allah lebih tahu.’ Karena mengucapkan ‘Aku tidak tahu’ ketika memang tidak tahu merupakan bagian ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi-Nya:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan’.” (Shad: 86)

Sesungguhnya Quraisy senantiasa mengulur-ulur waktu untuk masuk Islam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan bagi mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

اللَّهُمَّ أَعِنِّـي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ

“Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh (tahun) sebagaimana tujuh (tahun paceklik) Yusuf.”

Maka mereka dihukum satu tahun hingga binasa, memakan bangkai dan tulang, dan seseorang bisa melihat sesuatu seperti asap di antara langit dan bumi.”3

Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, kemudian beliau mengatakan: “Karena Allah –yang Maha Mulia pujian-Nya– mengancam musyrikin Quraisy dengan asap, dan bahwa firman-Nya kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

berada pada konteks pembicaraan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang kafir Quraisy, dan cercaan-Nya terhadap kesyirikan mereka terhadap-Nya, dengan firman-Nya:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءَابَائِكُمُ اْلأَوَّلِينَ. بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ

“Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan.” (Ad-Dukhan: 8-9)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala meneruskannya dengan firman-Nya kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

yang merupakan perintah kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersabar, hingga datang adzab-Nya kepada mereka. Hal ini juga merupakan ancaman bagi kaum musyrikin. Hal itu merupakan ancaman bagi mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan kepada mereka. Ini lebih dekat (kepada kebenaran) daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala tunda lalu Dia timpakan kepada selain mereka.4

2. Asap ini merupakan salah satu tanda yang masih ditunggu dan belum terjadi. Hal ini akan terjadi mendekati datangnya hari kiamat.

Pendapat inilah yang dipegang Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sebagian shahabat dan tabi’in. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah5, dia berkata: “Suatu hari, aku bersama Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di waktu pagi. Dia berkata: ‘Aku tidak tidur tadi malam hingga subuh.’ Aku bertanya: ‘Mengapa?’ Dia berkata: ‘Mereka mengatakan, bintang Dzu Dzanbin telah terbit. Aku khawatir ad-dukhan telah muncul, maka aku tidak tidur hingga subuh’.”

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Ini adalah sanad yang shahih sampai kepada Ibnu Abbas habrul ummah, penerjemah Al-Qur`an. Dan begitu pula pendapat orang yang menyepakatinya dari kalangan shahabat dan tabi’in seluruhnya, bersamaan dengan adanya hadits-hadits yang shahih maupun hasan dan selainnya yang mengandung kecukupan dan dalil yang jelas bahwa ad-dukhan adalah salah satu tanda yang belum terjadi, dan sekaligus juga itulah zhahir Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

Maksudnya, yang nyata dan jelas, bisa dilihat semua orang. Adapun yang ditafsirkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu itu adalah bayangan yang dilihat mata mereka karena lapar dan kesengsaraan yang sangat.

Begitu pula firman-Nya:

يَغْشَى النَّاسَ

“Yang meliputi manusia.” (Ad-Dukhan: 11)

Maksudnya, menutupi dan mencakup mereka. Kalaulah hal itu suatu bayangan yang hanya dilihat penduduk musyrikin Makkah, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan berfirman “yang meliputi manusia.”

Dan disebutkan dalam Ash-Shahihain bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Shayyad: “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Dia berkata: “Ad-Dukh.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tetaplah di tempatmu. Engkau tidak akan melampaui batasmu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan terhadapnya:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhan: 10)

Dalam hadits ini ada dalil ad-dukhan adalah sesuatu yang belum terjadi dan masih ditunggu, karena Ibnu Shayyad adalah seorang Yahudi Madinah. Padahal kisah ini tidaklah terjadi kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah. Selain itu, hadits-hadits shahih menyebutkan bahwa ad-dukhan merupakan tanda-tanda kiamat yang besar, sebagaimana akan dijelaskan.

Adapun penafsiran Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, itu merupakan ucapan beliau saja. Dan sesuatu yang marfu’ (diriwayatkan sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) didahulukan atas setiap yang mauquf (diriwayatkan sampai kepada shahabat).

Sebagian ulama mengompromikan riwayat-riwayat ini dengan menyatakan bahwa itu adalah dua asap. Salah satunya sudah terjadi, sedangkan yang kedua –yang muncul menjelang hari kiamat– belum. Yang sudah muncul adalah yang dilihat oleh bangsa Quraisy layaknya asap, namun bukan asap hakiki, yang terjadi ketika munculnya tanda-tanda hari kiamat.

Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Mujahid rahimahullahu berkata: ‘Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dahulu berkata: Itu adalah dua asap. Salah satunya telah terjadi. Adapun yang belum terjadi, asapnya akan memenuhi antara langit dan bumi. Asap itu akan menyebabkan seorang yang beriman akan terkena semacam selesma (flu), sedangkan orang kafir akan tembus pendengarannya’.”

(Diambil dari Asyrathus Sa’ah, hal. 383-388)

1 Tafsir Al-Qurthubi (16/130), Tafsir Ibnu Katsir (7/235-236).
2 Yaitu yang disebutkan dalam surat Al-Furqan ayat 77:

فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

“Padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti (menimpa kalian).”
Yakni akan terjadi adzab yang pasti, yang membinasakan mereka sebagai buah dari pendustaan mereka. Yang dimaksud di sini adalah pembunuhan dan penawanan terhadap kaum kafir Quraisy ketika perang Badr. Lihat Tafsir Ibnu Katsir (6/143 dan 305), Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi (17/143).
3 Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tafsir, Surat Ar-Rum (8/511, bersama Al-Fath) dan Bab Yaghsyan Nas Hadza Yaumun ‘Azhim (8/571, bersama Al-Fath), Shahih Muslim, Kitab Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Nar, Bab Ad-dukhan (17/140-141, bersama Syarh An-Nawawi).
4 Tafsir Ath-Thabari (25/114).
5 Dia adalah Abdullah bin Ubaidullah bin Abi Mulaikah Zuhair bin Abdillah bin Jad’an At-Taimi Al-Makki, salah seorang hakim dan muadzin pada pemerintahan Ibnuz Zubair. Dia meriwayatkan dari Abdullah yang empat. Dia seorang yang tsiqah dan banyak haditsnya, meninggal tahun 117 H. Lihat Tahdzibut Tahdzib (5/306-307).

http://www.asysyariah.com

Peristiwa Ketika Manusia Tenggelam Oleh Keringatnya di Hari Kiamat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Seperti yang disebutkan oleh penulis kitab Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dalam perkataannya :

وَيُلْجِمُهُمْ الْعَرَقُ

Dan Manusia tenggelam oleh keringatnya sampai mulutnya.

Akan tetapi ini adalah keringat yang paling tinggi karena sebagiannya ada yang hanya sampai kedua mata kakinya dan sampai kedua lututnya. Dan ada yang sampai pinggangnya, dan sebagiannya juga ada yang sampai mulutnya. Dan manusia itu bermacam-macam kadar keringatnya. Manusia berkeringat disebabkan karena sangat panasnya (suasananya), karena tempat pada waktu itu sangat berdesakkan lagi payah dan karena didekatkannya matahari, sehingga manusia ditenggelamkan (keringat) karena suasana pada hari itu, akan tetapi tenggelamnya sesuai dengan amalan-amalan mereka.1

Kalau engkau katakan: ”Bagaimana bisa terjadi hal yang demikian padahal mereka dalam satu tempat?”

Maka jawabannya: ”Sesungguhnya kita selalu berpedoman dengan kaidah yang wajib kita kembali kepadanya, yaitu:

ان الا مور الغيبة يجب علينا ان نؤمن بها ونصدق دون ان نقول: كيف؟! ولم؟! لانها شيء وراء عقولنا، ولا يمكن ان ندركها او نحيط بها

Sesungguhnya dalam perkara-perkara ghaib wajib bagi kita untuk beriman dengannya, dan mempercayainya tanpa bertanya bagaimana dan mengapa. Karena ini adalah perkara yang dibalik akal-akal kita yang tidak mungkin bagi kita untuk menjangkaunya atau meliputinya.

Bagaimana menurutmu kalau ada dua orang yang dikubur dalam satu lubang, yang pertama mukmin dan yang kedua kafir. Maka yang mukmin akan mendapat kenikmatan yang berhak dia dapatkan, dan yang kafir akan mendapat adzab yang berhak dia dapatkan. Dan keduanya dalam satu lubang kubur, maka demikian pula yang kita katakan tentang permasalahan keringat pada hari kiamat.”

Kalau engkau berkata: “Apakah engkau akan katakan, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengelompokkan orang-orang yang tenggelam dengan keringatnya sampai di mulutnya dalam suatu tempat, dan yang tenggelam sampai dua mata kakinya dalam satu tempat, dan yang tenggelam sampai lututnya dalam satu tempat, dan ada yang sampai di pinggangnya dalam satu tempat?”

Maka jawabannya: ”Tidaklah harus demikian keadaannya. Allah Ta’ala Maha Tahu, bahkan kita katakan boleh-boleh saja kalau orang-orang yang tenggelam sampai mata kakinya akan berkumpul dengan orang-orang yang tenggelam sampai di mulutnya, dan Allah Ta’ala Maha mampu terhadap segala sesuatu. Maka kejadiannya seperti cahaya milik orang mukmin yang ada di hadapannya dan di kanannya. Dan orang-orang kafir berada dalam kegelapan. Maka perkara hari kiamat itu wajib bagi kita untuk mengimaninya dan beriman dengan apa-apa yang akan terjadi di dalamnya. Adapun bagaimana dan kenapa maka ini bukan urusan kita.”

[Dinukil dari kitab Syarh Al ‘Aqiidah Al Waasithiyyah bab Al Iimaan bil Yaumil Aakhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian di Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Isnaad Tangerang, hal. 52-54]

__________
Footnote:

1 Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Muslim (2864) dari hadits Al Miqdad bin Al Aswad radhiallahu’anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Matahari akan didekatkan pada hari kiamat dengan makhluk hingga jaraknya dengan mereka sejauh satu mil, maka manusia akan berkeringat sesuai dengan kadar amalan mereka, di antara mereka ada yang ditenggelamkan hingga dua mata kakinya, di antara mereka ada sampai kedua lututnya, di antara mereka ada yang ditenggelamkan sampai pinggangnya, di antara mereka ada yang sampai ditenggelamkan hingga mulutnya.” Berkata Al Miqdad : Beliau sambil berisyarat ke mulutnya.

Sumber : http://sunniy.wordpress.com/2011/05/25/peristiwa-ketika-manusia-tenggelam-oleh-keringatnya-di-hari-kiamat/

 

Peristiwa Didekatkannya Matahari di Atas Kepala pada Hari Kiamat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Diisyaratkan penulis kitab Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dengan perkataannya :

وَتَدْنُو مِنْهُمْ الشَّمْسُ

Matahari akan didekatkan kepada mereka.

Yakni didekatkan kepada mereka sejauh satu mil. Dan jarak satu mil tersebut sama saja, apakah satu mil jarak perjalanan (1 mil = +1,6 km) atau satu mil (seperti batang/stick untuk memakai celak mata), yang demikian itu sangat dekat. Kalau di dunia saja sudah sedemikian panasnya, sementara jaraknya dengan kita sedemikian jauhnya, lalu bagaimanakah kalau matahari tersebut didekatkan satu mil ke kepala kita?1

Terkadang ada yang berkata: “Sudah ma’ruf sekarang, kalau matahari didekatkan sedekat rambut niscaya akan membakar bumi, bagaimana mungkin ketika hari itu didekatkan sedekat itu, dan dalam keadaan makhluk tidak terbakar?’’

Maka jawabannya: “Bahwasanya manusia akan dikumpulkan di hari kiamat dan kekuatannya tidaklah seperti kekuatannya sekarang. Bahkan lebih kuat dan lebih mampu untuk menanggung beban demikian. Kalau sekarang manusia berdiri lima puluh hari di bawah matahari tanpa naungan dan tanpa makan dan minum, maka manusia tidak akan mampu, bahkan mereka akan mati ! Akan tetapi nanti pada hari kiamat mereka akan tinggal selama lima puluh ribu tahun, tidak makan dan juga tidak minum, tidak ada naungan, kecuali naungan Allah subhanahu wata’ala. Bersamaan dengan itu mereka akan menyaksikan kengerian yang amat sangat dan mereka akan menanggung sendiri.”

Maka ambillah pelajaran dengan ahli neraka, bagaimana mereka menanggung kengerian yang amat dahsyat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An Nisaa’: 56)

Dan ambillah pelajaran pula dari penduduk surga, ketika manusia di sana bisa melihat kerajaannya yang jauhnya seribu tahun hingga ujungnya, sebagaimana melihat bagian dekatnya. Diriwayatkan demikian dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.2

Kalau ada orang berkata: “Apakah ada orang yang selamat dari matahari?”

Maka jawabannya adalah: “Ya. Di sana ada manusia yang Allah subhanahu wata’ala menaungi mereka dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالْمَسَاجِدِ, وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ, وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ, وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ, وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan, yang Allah subhanahu wata’ala akan menaunginya di suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, seorang lakilaki yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah subhanahu wata’ala, berkumpul karena Allah subhanahu wata’ala, dan berpisah karena Allah subhanahu wata’ala. Dan seorang laki laki yang dipanggil oleh wanita yang cantik lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah subhanahu wata’ala’. Dan seseorang yang bersedekah sambil menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Dan seseorang yang berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala sambil menyendiri hingga menangis kedua matanya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)3

Dan di sana juga ada golongan lainnya yang Allah subhanahu wata’ala menaunginya dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Perkataan Beliau shallallahu’alaihi wasallam, ”Tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” yaitu kecuali naungan yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan, bukan yang seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwasanya naungan tersebut adalah Dzat Allah subhanahu wata’ala itu sendiri, maka ini adalah keyakinan yang batil karena kalau demikian berarti matahari ketika itu berada di atas Allah subhanahu wata’ala.

Maka ketika di dunia mungkin kita masih bisa membuat naungan untuk kita, akan tetapi pada hari kiamat tidak ada naungan lagi kecuali naungan yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk melindungi orang-orang yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki dari kalangan hamba-hamba-Nya.

[Dinukil dari kitab Syarh Al ‘Aqiidah Al Waasithiyyah bab Al Iimaan bil Yaumil Aakhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian di Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Isnaad Tangerang, hal. 48-52]

__________
Footnote:

1 Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Muslim (2864) dari hadits Al Miqdad bin Al Aswad radhiallahu’anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Matahari akan didekatkan pada hari kiamat dengan makhluk hingga jaraknya dengan mereka sejauh satu mil, maka manusia akan berkeringat sesuai dengan kadar amalan mereka, di antara mereka ada yang ditenggelamkan hingga dua mata kakinya, di antara mereka ada sampai kedua lututnya, di antara mereka ada yang ditenggelamkan sampai pinggangnya, di antara mereka ada yang sampai ditenggelamkan hingga mulutnya.” Berkata Al Miqdad : Beliau sambil berisyarat ke mulutnya.

2 Diriwayatkan Ahmad (2/46), At Tirmidzi (2553), Al Hakim (2/509) dan didha’ifkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Adh Dha’ifah (1985).

3 Riwayat Al Bukhari (220) dan Muslim (1031) dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu.

sumber : http://sunniy.wordpress.com/2011/05/25/peristiwa-didekatkannya-matahari-di-atas-kepala-pada-hari-kiamat/

Sifat Hisab Pada Orang Mukmin

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

وَيَخْلُو بِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ, فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ

Dan Allah Azza wajalla akan bersendiri dengan hamba-Nya yang mukmin dan menanyakan kepadanya dosa-dosanya

Maka ini adalah sifat dari hisab. Allah Azza wajalla bersendirian dengan hamba-Nya yang mukmin tanpa ada seorangpun yang tahu. Allah Azza wajalla mengungkap dosa-dosa hamba dengan berkata, “Apakah engkau melakukan demikian? dan melakukan demikian?” Sampai hamba menyatakan dan mengakuinya. Kemudian Allah Azza wajalla berkata, “Sungguh Aku telah menutupi atasmu di dunia dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.” [1].

Bersama dengan itu Allah Azza wajalla (ketika menghisab -pent) meletakkan hijab atas hamba tersebut yaitu ketika tidak ada seorangpun yang melihatnya, tidak ada seorangpun yang mendengarnya. Dan ini adalah karunia dari Allah Azza wajalla kepada seorang mukmin. Maka sesungguhnya jika ada seorang yang menanyakan perbuatan jahatmu di hadapan manusia dan jika mereka mendengar perbuatan jahatmu maka niscaya ini merupakan pembongkaran aib-aib. Akan tetapi jika hanya engkau sendiri, maka ini adalah menutup aib bagi dirimu.

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

كَمَا وُصِفَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

Sebagaimana yang demikian itu disifatkan dalam al Quran dan as Sunnah

Yakni seperti hisab yang disifatkan dalam al Quran dan as Sunnah. Karena hal ini adalah termasuk perkara ghaib yang tergantung kepada khabar yang murni, maka wajib kembali kepada apa yang disifatkan oleh al Quran dan as Sunnah.

[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh ‘Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 114-115]

__________
[1] Shahih muslim (2968)

Tambahan dari admin Blog Sunniy Salafy

Hadits selengkapnya berbunyi sebagai berikut: Dari Shafwan bin Muhriz Radhiallahu’anhu, ia berkata: “Ketika Ibnu Umar sedang thawaf, tiba-tiba datanglah seorang lelaki, lalu berkata, “Wahai Abu Abdurrahman, atau ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah engkau mendengar sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tentang percakapan?” Maka Ibnu Umar menjawab, “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang mu’min dekat dari Rabbnya -Dan Hisyam berkata: orang mu’min dekat yakni dari Rabbnya-, sehingga Dia meletakkan lambung-Nya atasnya, lalu ia mengakui dosa-dosanya. (Allah berfirman) “Mengakui”. Ia berkata, “Rabbi, aku mengakuinya”, dua kali. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Aku menutupi dosa-dosa itu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya.” Kemudian dilipat lembaran (catatan) kebaikan-kebaikannya. Adapun orang-orang lain (orang-orang kafir), mereka itu dipanggil di atas para saksi yaitu:

هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim.” (Hud: 18). (Riwayat Bukhari).

Sumber : http://sunniy.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: