BEDA ANTARA MALAIKAT DAN JIN

Malaikat dengan JinDiantara kaum muslimin ada yang tidak mengetahui tentang perbedaan antara malaikat yang mulia dengan jin dan syaitan. Bahkan penyimpangan sebagian umat sampai kepada taraf menyamakan antara malaikat dengan jin. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam kitab “At Tafsir Al Kabir” yang disandarkan kepadanya (7/381), “Kaum musyrikin Arab dan ahli kitab meyakini adanya malaikat meskipun mayoritas mereka menganggap bahwa malaikat dan syaitan itu merupakan satu jenis. Maka siapa diantara mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah Subhaanahu wata’aala, jatuhlah kedudukannya dan menjadi syaitan. “Kaum musyrikin Arab dan ahli kitab mengingkari bahwa iblis adalah nenek moyang jin dan mengingkari pula bahwa jin itu menikah, melahirkan, makan dan minum. Bahkan sebagian orang Arab menyangka bahwa malaikat adalah keturunan jin sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian ahli tafsir.

Penyebutan perbedaan keduanya bisa membantu kita untuk mengenal malaikat dengan pengenalan yang benar. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Aisyah Radhiallahu ‘anha dalam Shahih Muslim (2996) dia berkata, “bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam :

2.

خُلِقَتِ المَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari api yang bercampur dengan hitamnya api.”

Ini merupakan perbedaan yang mencolok dalam hal asal penciptaan, terlebih lagi ada perbedaan lain dalam sifat dan perbuatannya.

3. Nama-nama malaikat berbeda dengan nama-nama jin baik secara global maupun terperinci. Adapun nama-nama malaikat mengandung makna utusan. Maka malaikat bermakna para utusan Allah dan nama At Tasyaitan artinya yang melampaui batas. Nama-nama ini secara global sudah menunjukkan perbedaan apalagi secara terperinci. Sedangkan Al Iblis berasal dari kata Al Iblas, artinya yang berputus asa dari rahmat Allah Subhaanahu wata’aala.

Perhatikanlah nama Jibril, Mikail, Israfil dan yang lainnya. Engkau mendapati bahwa nama-nama malaikat itu adalah nama- nama yang indah dan bagus sedangkan nama-nama jin dan syaitan itu jelek.

4. Para malaikat diciptakan oleh Allah Subhaanahu wata’aala dengan tabiat selalu taat kepada Allah Subhaanahu wata’aala, dan tidak ada pilihan bagi malaikat apakah dia mau taat atau tidak. Berbeda dengan jin, dimana Allah Subhaanahu wata’aala, menjadikan mereka mempunyai pilihan dan kehendak sebagaimana manusia. Siapa yang ingin beriman, maka dia memilihnya dan siapa yang ingin kekufuran, maka dia memilihnya. Tatkala jin diberi pilihan tersebut, banyak dari kalangan mereka yang memilih kekufuran daripada keimanan.

5. Para malaikat tidak memiliki syahwat. Oleh karena itu, mereka tidak makan, tidak minum dan tidak menikah. Adapun para jin, mereka makan, minum, menikah dan yang lainnya.

6. Para malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Allah Subhaanahu wata’aala, sedikit pun walaupun hanya sekejap mata. Adapun mayoritas jin adalah kafir bahkan kekufuran pada mereka lebih banyak jika dibandingkan dengan kekufuran pada manusia. Apa yang tersebar bahwa Harut dan Marut adalah nama 2 malaikat, tidaklah benar bahkan keduanya adalah jin. Barangsiapa yang berpendapat bahwa keduanya adalah malaikat, mereka bersandar pada kisah-kisah Israiliyyat yang tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dan tidak bisa ditegakkan sebagai hujjah serta tidak ada satu pun hadits shahih tentang hal ini.

7. Malaikat jauh lebih kuat daripada jin.

Bahkan sebagian malaikat, ada yang tidak bisa dibandingkan kekuatannya dengan seluruh jin seperti Malakul Maut. Malakul Maut hanya seorang diri, namun dia mampu mencabut ruh-ruh dari penduduk barat dan timur dalam waktu sekejap. Sungguh Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, telah melihat Jibril dan dia memiliki 600 sayap. Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari (4856) dari hadits Ibnu Mas’ud radiallohu ‘anhu.

Ada juga 8 malaikat yang memikul ‘Arsy. Sungguh Allah Subhaanahu wata’aala, telah menjadikan para malaikat sebagai bala tentaranya yang paling kuat dan Allah Subhaanahu wata’aala, memperlihatkan seluruh jagat raya kepada mereka dan kekuatan mereka pun berbeda-beda.

Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman:

جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir : 1)

8. Para malaikat lebih utama dari para jin baik dalam hal penciptaan, bentuk, perbuatan maupun keadaan.

9. Malaikat memiliki jumlah yang sangat banyak dan jumlahnya melebihi jumlah jin, manusia dan hewan karena mereka senantiasa mengurusi para makhluk tersebut dan mengurusi yang lainnya. Diantara mereka ada yang ruku’, ada yang sujud, adapula yang bertasbih dan beristighfar serta yang lainnya.

10. Allah Subhaanahu wata’aala, menciptakan malaikat untuk melayani bani Adam dan merekapun (para malaikat) senantiasa melakukan tugas tersebut. Adapun mayoritas jin berusaha menyesatkan manusia dan menyimpangkan mereka dari jalan Allah Subhaanahu wata’aala,. Yang berada di baris terdepannya adalah nenek moyang mereka yaitu Iblis sebagaimana yang telah diketahui secara pasti dalam agama ini.

11. Para malikat bertugas mengurusi jin dan membantu mereka sesuai dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala.

12. Malaikat mampu melihat jin di setiap waktu. Adapun jin tidak bisa melihat malaikat kecuali jika malaikat itu berubah bentuk dengan bentuk yang mampu dilihat oleh jin. Karena jika jin melihat malaikat, maka tidak tersisa sedikitpun dari ilmu ghaib yang wajib diimani oleh mereka.

13. Allah Subhaanahu wata’aala  menciptakan malaikat sebelum menciptakan jin. Dalil yang menunjukkan tentang hal ini adalah bahwa diantara para malaikat ada yang bertugas memikul ‘Arsy sedangkan kita sudah mengetahui bahwa Arsy itu diciptakan sebelum Allah Subhaanahu wata’aala  menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya.

14. Malaikat merupakan alam ghaib bagi jin. Oleh karena itu, Allah  Subhaanahu wata’aala, mewajibkan kepada jin untuk beriman kepada para malaikat.

15. Malaikat mampu menguasai jin dengan izin Allah Subhaanahu wata’aala. Oleh karena itu, malaikat mampu melihat jin dan mencabut ruh-ruh mereka serta mampu menghalangi kaum jin ketika hendak menyakiti manusia sesuai dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala. Adapun jin tidak mampu menguasai para malaikat dan hal ini sudah diketahui secara pasti.

16. Para malaikat secara umum disifati dengan sifat-sifat yang terpuji.

Allah Subhaanahu wata’aala  berfirman tentang mereka:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan.”

(QS. An Nahl : 50)

وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya : 28)

Allah  Subhaanahu wata’aala juga berfirman :

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

(QS At Tahrim:6 ).

Allah Subhaanahu wata’aala  juga berfirman :

بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

“Bahkan mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.”

(QS. Al Anbiya:26-27)

Adapun mayoritas jin memiliki sifat-sifat yang jelek, seperti memberikan waswas, menghiasi perbuatan jelek sebagai satu kebaikan, memalingkan, membuat makar dan tipu daya, melampaui batas serta berbuat zhalim dan sebagainya.

17. Malaikat tidak berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Kaum jahiliyah telah terjatuh ke dalam kesalahan yang besar ketika mereka mengatakan : “Para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.”

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.” ( QS. Az Zukhruf :19)

Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman mengabarkan tentang mereka:

“Apakah Tuhan memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana kamu menetapkan?” (QS. Ash Shaffaat : 153-154 )

Mereka (para malaikat) tidak disifati laki-laki karena hal ini mengharuskan bahwa diantara mereka ada yang perempuan, akan tetapi mereka dikatakan sebagai hamba-hamba Ar Rahman dan tentara-tentara Allah Subhaanahu wata’aala sebagaimana Al-Qur’an menamakan mereka dengan hamba-hamba Ar Rahman. Adapun jin, ada yang laki-laki dan ada juga yang perempuan. Hal ini sudah diketahui secara pasti dalam agama.

Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman tentang iblis nenek moyang jin:

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” ( QS. Al -Kahfi : 50 )

18. Para malaikat senantiasa menolong di atas kebaikan kepada para nabi dan rasul serta para pengikutnya. Oleh karena itu, malaikat merupakan sumber kebaikan terhadap manusia dengan cara memberikan ilham kepada manusia. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan di dalam “Majmu Fatawa” 4/34 ) : “Maka sumber ilmu yang benar dan kehendak yang baik itu berasal dari ilham para malaikat dan sumber keyakinan yang batil serta kehendak yang buruk dari bisikan syaitan.”

Malaikat tidak pernah menolong para tukang sihir dan ahli nujum dan tidak pula membantu orang-orang yang sesat, rusak dan menentang syari’at. Berbeda dengan syaitan dari kalangan jin. Mereka memberi kekuatan dan pertolongan pada setiap kejelekan, kerusakan dan kejahatan. Bahkan mereka adalah sumber segala kefasikan, kekufuran dan kefajiran.

19. Para malaikat tinggal di langit. Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman :

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ

“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.”

( QS. Asy Syura : 5 )

Yang menjadi inti adalah lafazh “dari atas mereka.”

Allah  Subhaanahu wata’aala ,  juga berfirman :

فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ

“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.”

(QS. Fushshilat :38 )

Allah Subhaanahu wata’aala, juga berfirman :

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ

“Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” (QS. Maryam : 64)

Maka mereka turun dari langit ke bumi. Adapun para syaitan dimana iblis berada di baris terdepan, mereka tinggal di bumi. Mayoritas mereka tinggal di tempat-tempat yang kotor seperti tempat-tempat najis, tempat sampah, tempat buang air kecil dan besar serta tempat-tempat lainnya yang kotor. Maka demikian jauh perbedaan antara yang tinggal dilangit dan yang tinggal di bumi. Bagaimana mungkin dibandingkan dengan yang biasa tinggal di tempat-tempat yang kotor?

20. Para malaikat bisa terbang ke langit yang tinggi karena asal penciptaan malaikat mampu terbang ke atas langit yang tinggi dan kemana saja sesuai dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala . Berbeda dengan jin dimana asal penciptaan mereka tidak mampu terbang namun hanya berjalan melata di permukaan bumi dan bisa terbang jika mereka berubah bentuk. Adapun kemampuan terbang jin itu sangat lemah jika dibandingkan dengan kemampuan terbang para malaikat.

21. Para malaikat mampu menembus penghalang-penghalang bahkan bisa sampai menembus ke bumi yang ketujuh, sebagaimana yang telah diketahui bahwa para malaikat senantiasa mengurusi dunia dan segala isinya. Allah  Subhaanahu wata’aala, berfirman menyebutkan tentang sifat malaikat:

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

” Dan yang mengatur urusan.” (QS. An Naziat : 5)

Permusuhan antara jin dan para malaikat itu akan senantiasa ada. Para malaikat memusuhi iblis dan siapa saja yang bersamanya bahkan mereka melaknat iblis dan para pengikutnya. Allah Subhaanahu wata’aala, befirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat la’nat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya.”

(QS. Al Baqarah :161 )

Dan dalil-dalil lain baik dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Dari perbedaan-perbedaan tersebut diatas jelaslah bahwa malaikat tidak bisa disamakan dengan jin dan syaitan baik dalam hal penciptaan, bentuk, nama, sifat, dan perbuatan dari awal sampai akhirnya. Barangsiapa yang menyamakan antara keduanya, sungguh dia telah sesat dari jalan yang lurus.

Sumber : Kitab Terjemah : “HUKUM BERINTERKASI DENGAN JIN” , Hal 25-36 Pustaka At Tsabat

Iklan

J i b r i l

Jibril

Salah satu Malaikat Allah yang sangat mempunyai perananan penting  dalam penyampaian wahyu Allah Ta’alaa kepada nabi-Nya. Menyampaikan risalah demi risalah agar tersampaikan hidayah dan petunjuk kepada umat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Yang dengannya (Jibril) sampailah Kalamullah (alqur`an) kepada orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan peringatan tentang Allah dan agama Allah. Walaupun dilain pihak justru mencercanya dan menjadikannya musuh dari kalangan Yahudi dan Syi’ah yang tidak ridho atas kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka suatu hal yang wajib bagi seorang muslim untuk mengenal siapa Jibril dan bagaimana dia mengemban risalah, untuk kita lebih meyakini dengan ilmu yang sebenar-benarnya.

Allah subhanahu wata’alaa berfirman :

فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلَاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ

“maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik” (at Tahrim:4)

Dan Firman Allah Ta’alaa :

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” (al-Baqarah:98)

 

Yahudi Memusihi Malaikat Jibril

Sebenarnya yahudi telah mengetahui bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah sebenar-benar nabi yang semua ciri-ciri dan tanda-tandanya terdapat dalam kitab-kitab mereka. Mereka ketahui itu semua dengan fisik Rasulullah dan pengetesan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya kecuali para rahib yang bisa membaca kitab. Karena sifat penolakan mereka yang begitu keras, maka mereka menyalahkan dan memusuhi sang penyampai wahyu yaitu Jibril alaihissalaam.

Berikut kisahnya;

Diriwayatkan pada kitab Shahih Muslim (4480) Dari Anas, berkata:

‘Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di negeri saat musim gugur lalu ia menemui beliau lalu berkata,

“ Aku akan bertanya kepada Anda tentang tiga perkara yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi.

–       Apakah awal tanda-tanda kiamat?

–       Apakah makanan penduduk surga?

–       Apa yang menyebabkan seorang anak mirip dengan ayah atau ibunya?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

“Barusan Jibril mengabarkan kepadaku.”

Ia (Abdullah bin Salam) berkata, “Jibril?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “ya”

Ia berkata “Itu malaikat musuh Yahudi.”

Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam membaca ayat,

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka ketahuilah Jibril itu telah menurunkan Al-Qur’an ke dalam hatimu (Muhammad dengan seizing Allah.” (Al-Baqarah:97)

 

Dalam riwayat Imam Ahmad (1/274) berkata :

            Dari Ibnu ‘Abbas, orang-orang Yahudi menghadap Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata :

“Wahai Abul Qosim, kami akan menanyakan kepadamu lima perkara. Jika kamu menjawabnya maka kami mengetahui bahwa kamu seorang nabi dan (kami akan) meengikutimu.”

Lalu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil perjanjian atas mereka sebagaimana Isra’il (Ya’qub) mengambil perjanjian kepada anak-anaknya ketika mereka berkata,

“Allah Ta’alaa yang menjaga atas apa yang kami katakana.”

 

Rasulullaah shallallahu’alaihi wasallam berkata,

“Sebutkanlah!”

Mereka berkata,

“Beritakan kepadaku tentang tanda seorang nabi!”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab,

“Dua matanya tertidur dan hatinya tidak tidur.”

Mereka berkata,

“beritakan kepadaku bagaimana seorang janin menjadi wanita dan bagaimana menjadi lelaki?”

Rasulullallah shallallahu’alaihi wasallam berkata,

“Kalau dua air mani laki-laki dan perempuan bertemu. Jika air mani perempuan di atas air mani lelaki maka jadilah perempuan.”

Mereka berkata,

“Beritakan kepada kami, apa yang diharamkan Israil atas dirinya.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab,

“Ia pernah punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air susu demikian dan demikian.” (‘Abdullah bin Ahmad berkata: ayahku berkata, Sebagian ulama berkata, yakni susu unta, Lalu ia mengharamkan daging unta.)

Mereka Berkata, “Kamu benar”

 

Mereka berkata,

“Beritahukan kepada kami apakah guruh itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Ia adalah malaikat Allah yang ditugaskan pada awan ditangannya atau di tangannya ada pecut dari api untuk mengarak awan yang ia giring sesuai kehendak Allah”

Mereka berkata,

“Lalu apakah suara yang terdengar itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

“Suaranya.”

Mereka berkata, “Kamu benar”

Mereka berkata,

“Kamu benar. Tinggal satu pertanyaan yang menentukan kami akan membaiat kamu atau tidak. Jika kamu mengabarkannya, sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun kecuali mempunyai malaikat yang mendatanginya dengan membawa berita. Maka kabarkan kepada kami siapakah temanmu itu?”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab:

“J i b r i l”

Mereka berkata,

“Jibril itulah yang dating membawa peperangan, pembunuhan, dan siksaan, (ia) musuh kami. Kalau kamu katakana Mikail yang turun dengan membawa rahmat, tumbuh-tumbuhan, dan hujan tentu kami setuju.”

Lalu Allah ta’alaa menurunkan firman-Nya, “Barangsiapa menjadi musuh jibril….sampai akhir ayat”

            Ibnu Jarir berkata dalam tafsir-nya (2/377), “Ulama tafsir sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban terhadap Yahudi ketika mereka menganggap Jibril ‘alaihissalaam sebagai musuh dan Mikail sebagai pembela mereka.

Bersambung…..

Referensi :

Kitab al jaami’u as shohiihi min akhbaaril malaa`ikati

Abdurrahman bin haitsam al Yafi’i

Terjemahan Indonesia

Profil Para Malaikat

Pustaka ar Royyan

(Dengan Penambahan)

 

 

 

 

Definisi Malaikat

DSC04465

Arti malaikat adalah utusan dan berasal dari akar kata مَلَكَ (mal aka) dengan timbangan kata maf’ala, lalu dibubuhi harakat hamzahnya atas sukun sebelumnya lalu dibuang. Kata ini maknanya adalah ar-risalah  (syariat), baik huruf laamnya mendahului hamzah sebagaimana bentuk al-Malaak maupun huru hamzahnya mendahului huruf laam. Demikian nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya ar-Radd ‘alal Manthiqiyyin/500.

                Ibnu mandhur dalam Lisanul ‘Arab 10/481-482, berkata :

لَاَكَ وَالًملْاَكَ والَمَلَأِكَة

Artinya ar-risalah.

المَلْأَكَ

Artinya : Seorang malaikat, karena ia menyampaikan risalah dari Allah Ta’alaa, huruf hamzahnya dibuang lalu diberikan harakat pada sukun sebelumnya.”

                Al-Fairuz Abadi berkata dalam kamus Muhith-nya halaman 1229 :

   المَلْأَكَ والَمَلَأِكَةُ

                Artinya : ar-risalah, alakni ila fulan artinya ia menyampaikan dariku. Asal katanya dari al akani, dibuang huruf hamzahnya dan diberikan harakat pada huruf sebelumnya.”

                Ibnu Jarir dalam tafsirnya 1/447, berkata, “Makna malaikat adalah ar-risalah. “Abdu bani al-Has Haas berkata :

Allah Ta’alaa menyampaikan umurmu kepada risalah, wahai pemuda dengan satu ayat yang dating kepada kami dengan member hidayah.

                Artinya dengan itu aku menyampaikan risalahku, lalu dinamakanlah malaikat dengan ar-risalah karena ia utusan Allah ta’alaa antara Ia dengan nabi dan hamba-Nya.

                Secara istilah, arti malaikat adalah tubuh yang lembut yang diberikan kemampuan menyerupai beragam bentuk makhluk yang berbeda, yang tempat tinggalnya di langit. Lihat Fathul bari, 6/368.

Sumber :

Kitab al jaami’u as shohiihi min akhbaaril malaa`ikati

Abdurrahman bin haitsam al Yafi’i

Terjemahan Indonesia

Profil Para Malaikat

Pustaka ar Royyan

Istighfar Para Malaikat Untuk Orang Beriman

Sungguh beruntung orang beriman. Diamnya pun kadang mendatangkan istighfar. Saat ia tidur, ada yang beristighfar untuknya. Para Malaikat, makhluk yang senantiasa taat, beristighfar untuk orang-orang beriman.

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

 

Para Malaikat yang memikul ‘Arsy dan di sekitarnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan beriman kepadaNya, serta memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman seraya berkata: Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu. Ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu. Peliharalah mereka dari adzab neraka (Q.S Ghafir/mukmin:7)

Para Malaikat itupun juga mendoakan kenikmatan surga bagi orang beriman serta orangtua, istri, dan keturunannya

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (8) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9)

Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka (orang-orang beriman) ke dalam surga ‘Adn yang Engkau janjikan bersama dengan ayah-ayah, istri, dan keturunan mereka yang sholih. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Peliharalah mereka dari keburukan-keburukan. Barangsiapa yang Engkau pelihara dari keburukan pada hari itu (hari kiamat) maka sesungguhnya ia telah mendapat rahmat dariMu, yang demikian itu adalah keberuntungan yang agung (Q.S Ghafir/Mukmin: 8-9)

 

Orang-orang yang akan mendapatkan doa Malaikat tersebut adalah :

(1)  Orang yang beriman

(2)  Bertaubat kepada Allah

(3)  Mengikuti jalan Allah : mengikuti Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

 

Istighfar Para Malaikat untuk Orang-orang yang Belum Beranjak dari Tempat Sholatnya

 

Para Malaikat juga senantiasa beristighfar dan memohonkan rahmat kepada Allah untuk orang-orang yang belum beranjak dari tempat sholatnya.

وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

dan para Malaikat bersholawat (mendoakan) seseorang yang masih berada di tempat sholatnya. Malaikat itu berdoa: “Ya Allah rahmatilah ia, Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah terimalah taubatnya”. Selama seseorang itu tidak mengganggu orang lain dan selama belum berhadats (H.R alBukhari dan Muslim)

 

Diamnya seseorang di tempat duduk seusai sholat berjamaah di masjid berbuah istighfar dari para Malaikat. Ya, sekedar diamnya saja. Apalagi jika ia mengisi waktu itu dengan dzikir-dzikir yang disunnahkan Nabi. Tapi, hal itu terjadi selama orang tersebut tidak mengganggu orang lain dan selama belum berhadats (belum batal wudhu’nya).

Ibnu Baththol berkata: Barangsiapa yang ingin dosanya diampuni tanpa capek hendaknya mempergunakan kesempatan berada di tempat duduk sholatnya selesai sholat untuk mendapatkan banyak doa dan istighfar dari para Malaikat. Dalam kondisi seperti sangat besar peluang doa mereka dikabulkan (Tuhfatul Ahwadzi (2/245))

 

Istighfar Para Malaikat untuk Orang yang Menjenguk Orang Sakit

 

مَا مِنْ رَجُلٍ يَعُودُ مَرِيضًا مُمْسِيًا إِلَّا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ وَمَنْ أَتَاهُ مُصْبِحًا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

Tidaklah seseorang menjenguk orang sakit pada sore (malam) hari kecuali 70 ribu Malaikat keluar beristighfar untuknya sampai pagi hari dan ia berada di taman surga. Barangsiapa yang menjenguknya di waktu pagi 70 ribu Malaikat akan keluar beristighfar untuknya sampai sore (malam) hari dan ia berada di taman surga (H.R Abu Dawud, atTirmidzi)

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan menjenguk saudara muslim yang sakit. Jika ia menjenguk di awal pagi, istighfar dari para Malaikat itu lebih lama ia dapatkan dibandingkan di akhir siang. Demikian juga perbandingan menjenguk di waktu awal malam dengan di akhirnya.

Oleh Ustadz Kharisman

(dinukil dari Buku “Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat karya Abu Utsman Kharisman hal 61-64)

Sumber : http://www.salafy.or.id/2012/05/25/istighfar-para-malaikat-untuk-orang-beriman/

Penghalang Malaikat Rahmat Masuk ke Rumah

Islam adalah agama yang mencintai kebersihan sehingga mengingatkan bahayanya memiliki anjing, bahkan melarang memelihara anjing kecuali untuk kepentingan penjagaan keamanan atau pertanian. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing [1] dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing” [Hadits sahih ditakhrij oleh Thabrani dan Imam Dhiyauddin dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat pula Shahihul Jami’ No. 1962]

Rasulullah bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Ibnu Majah dan lihat Shahihul Jami’ No. 1961]

Ibnu Hajar (3) berkata : “Ungkapan malaikat tidak akan memasuki….” menunjukkan malaikat secara umum (malaikat rahmat, malaikat hafazah, dan malaikat lainnya)”. Tetapi, pendapat lain mengatakan : “Kecuali malaikat hafazah, mereka tetap memasuki rumah setiap orang karena tugas mereka adalah mendampingi manusia sehingga tidak pernah berpisah sedetikpun dengan manusia. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Wadhdhah, Imam Al-Khaththabi, dan yang lainnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan ungkapan rumah pada hadits di atas adalah tempat tinggal seseorang, baik berupa rumah, gubuk, tenda, dan sejenisnya. Sedangkan ungkapan anjing pada hadits tersebut mencakup semua jenis anjing. Imam Qurthubi berkata : “Telah terjadi ikhtilaf di antara para ulama tentang sebab-sebabnya malaikat rahmat tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Sebagian ulama mengatakan karena anjing itu najis, yang lain mengatakan bahwa ada anjing yang diserupai oleh setan, sedangkan yang lainnya mengatakan karena di tubuh anjing itu menempel najis.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang. Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. “Kapan anjing ini masuk ?” tanya beliau. Aku (Aisyah) menyahut : “Entahlah”. Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. “Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril. Jibril menjawab: “Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” [Hadits Riwayat Muslim].

Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing”. [Hadits Riwayat Muslim]

Imam Nawawi mengomentari hadits tersebut : “Hadits di atas memberikan petunjuk bahwa membawa anjing dan lonceng pada perjalanan merupakan perbuatan yang dibenci dan malaikat tidak akan menemani perjalanan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan malaikat adalah malaikat rahmat (yang suka memintakan ampun) bukan malaikat hafazhah yang mencatat amal manusia. [Lihat Syarah Shahih Muslim 14/94]

Sementara itu, mengenai hukum yang berkaitan dengan hasil jual beli anjing (harga anjing), terdapat beberapa nash yang mengharamkan, diantaranya adalah sebagai berikut. Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hasil yang diperoleh dari jual beli anjing, darah, dan usaha pelacuran [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari juga ditakhrijkan dalam Ahaditsul Buyu’ oleh Imam ay-Thayalisi, Imam Ahmad, juga oleh Baihaqi. Dan lihat Shahihul Jami’ no. 6949].

Jabir Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing dan kucing (4) Selain itu, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang jual beli anjing, hasil kezaliman, dan upah dari hasil praktik perdukunan [Hadits shahih ditakhrijkan oleh Bukhari, Muslim, Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6951].

Imam al-Baghawi berkata (5) : “Menurut mayoritas ulama, jual beli anjing itu hukumnya haram sebagaimana upah dari hasil perdukunan (pertenungan), dan pelacuran. Kaitannya dengan hal itu, Abi Hurairah berkata : “Semuanya itu tergolong dalam penghasilan haram”.

Footnote :
1. Yang sangat kami sayangkan adalah adanya beberapa orang yang mengaku modern dan maju memiliki anjing dan menganggapnya sebagai teman serta digauli melebihi pergaulannya terhadap manusia. Hal itu dilakukan dalam rangka meniru kebiasaan masyarakat barat.
2. Di dalam kitab Faidhul-Qadir 2/394, Imam al-Manawi mengatakan : “Yang dimaksud dengan malaikat pada hadits tersebut adalah malaikat rahmat dan keberkahan atau malaikat yang bertugas keliling mengunjungi para hamba Allah untuk mendengarkan dzikir dan sejenisnya, bukan malaikat penulis amal perbuatan manusia karena malaikat itu tidak akan pernah meninggalkan manusia sekejap pun sebagai mana halnya malaikat maut. Mengapa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing ?. Karena anjing itu mengandung najis, sedangkan malaikat terpelihara dari tempat-tempat yang kotor. Mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia serta tetap berada pada tingkat kebersihan dan kesucian yang paling luhur. Perbandingan antara malaikat yang suci dan anjing yang najis laksana terang dan gelap. Barangsiapa yang mendekati anjing, malaikat akan menjauh darinya.
3. Fathul Bari bab 48 At-Tashawir hadits No. 5949
4. Hadits shahih ditakhrijkan oleh Ahmad, hakim, dan Imam hadits yang empat. Hadits ini juga ada dalam Shahihul Jami’ no. 6950
5. Lihat Syarhus Sunnah 8/23

 

Penulis: Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad

(Dikutip dari Buyuut Laa tad khuluha al malaikat, edisi Indonesia Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat, penulis Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad.)

salafy.or.id

 

Ridwan Malaikat Penjaga Surga

Ada empat hadits yang menyebutkan bahwa nama malaikat penjaga surga adalah Ridwan. Akan tetapi semua hadits tersebut adalah hadits yang sangat lemah dan tidak bisa saling menguatkan. Berikut uraiannya:
1. Hadits Ubai bin Ka’ab
Diriwayatkan oleh Al-Qadhai dalam Musnad Asy-Syihab (1036) dari jalan Mukhallad bin Abdil Wahid dari Ali bin Zaid bin Jud’an dan Atha` bin Abi Maimunah dari Zirr bin Hubaisy dari Ubai secara marfu’,  “Tidak ada seorang muslim pun yang membaca Yasin sedang dia berada dalam sakaratul maut, maka tidaklah malaikat maut mencabut nyawanya sampai Ridwan penjaga surga memberinya minuman.”
Di dalam sanadnya ada Ali bin Zaid bin Jud’an yang sudah masyhur sebagai rawi yang lemah. Ditambah lagi dengan adanya Mukhallad bin Abdil Wahid, yang Ibnu Hibban berkata tentangnya -dalam Al-Majruhin (1096), “Mungkarul hadits jiddan (orang yang sangat mungkar haditsnya).”

2. Hadits Abdullah bin Abbas.
Diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh dalam kitab Ats-Tsawab dan Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman tentang kisah berhiasnya surga setiap memasuki ramadhan, dan di dalamnya tersebut: “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga.”
Hadits ini datang dari jalan Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas secara marfu’. Haditsnya lemah karena Adh-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

3. Hadits Abdullah bin Abi Aufa.
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Lalu saya berkata (di dalam surga), “Wahai Ridwan, punya siapa istana ini?”
As-Suyuthi menyatakan dalam Al-Jami’ Al-Kabir -sebagaimana dalam Kunzul Ummal-, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Asakir dari Abdullah bin Abi Aufa, sedang di dalam sanadnya ada Abdurrahman bin Muhammad Al-Maharibi dan Ammar bin Saif, keduanya sering meriwayatkan hadits-hadits yang mungkar.” Lihat Mizan Al-I’tidal (2/585) dan (3/165)

4. Hadits Anas bin Malik.
Diriwayatkan oleh Al-Uqaili dalam Adh-Dhuafa (1/313) dari jalan Hamzah bin Washil Al-Minqari dari Qatadah dari Anas secara marfu’ dengan lafazh, “Rabbul Izzah -Tabaraka wa Ta’ala- memanggil Ridhwan -dan dia adalah penjaga surga-.”
Al-Uqaili berkata setelahnya, “Hamzah bin Washil Al-Minqari, seorang dari Bashrah, majhul dalam periwayatan dan haditsnya tidak terjaga.”

 

 

%d blogger menyukai ini: