Tata Cara Menangkal dan Menanggulangi Sihir

Segala puji hanya kepunyaan Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan umat, Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tiada lagi Nabi sesudahnya.

Akhir-akhir ini banyak sekali tukang-tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai tabib, dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak menyebar di berbagai negeri; orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak menjadi korban pemerasan mereka.

Maka atas dasar nasihat (loyalitas) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada hamba-hambaNya, saya ingin menjelaskan tentang betapa besar bahayanya terhadap Islam dan umat Islam adanya ketergantungan kepada selain Allah dan bahwa hal tersebut bertolak belakang dengan perintah Allah dan RasulNya.

Dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala saya katakan bahwa berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama. Seorang muslim jika sakit hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar untuk diperiksa apa penyakit yang dideritanya. Kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syara’, sebagaimana yang dikenal dalam ilmu kedokteran.

Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakkal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah Ta’ala telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Ada di antaranya yang sudah diketahui oleh manusia dan ada yang belum diketahui. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.

Oleh karena itu tidak dibenarkan bagi orang yang sakit, mendatangi dukun-dukun yang mendakwakan dirinya mengetahui hal-hal ghaib, untuk mengetahui penyakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin-jin untuk meminta pertolongan kepada jin-jin tersebut sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perbuatan-perbuatan kufur dan sesat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam berbagai haditsnya sebagai berikut :

“Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab ‘Shahih Muslim’, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal)) kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”

“Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:‘Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun)) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud).

“Dikeluarkan oleh empat Ahlus Sunan dan dishahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh: ‘Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

“Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain),yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”(HR. Al-Bazzaar,dengan sanad jayyid).

Hadits-hadits yang mulia di atas menunjukkan larangan mendatangi peramal, dukun dan sebangsanya, larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib, larangan mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan, dan ancaman bagi mereka yang melakukannya.

Oleh karena itu, kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka.

Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek-praktek di pasar-pasar, mall-mall atau di tempat-tempat lainnya, dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan. Dan hendaknya tidak tertipu oleh pengakuan segelintir orang tentang kebenaran apa yang mereka lakukan. Karena orang-orang tersebut tidak mengetahui perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut, bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum, dan larangan terhadap perbuatan yang mereka lakukan.

Rasulullah ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya mendatangi para peramal, dukun dan tukang tenung. Melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka katakan. Karena hal itu mengandung kemungkaran dan bahaya besar, juga berakibat negatif yang sangat besar pula. Sebab mereka itu adalah orang-orang yang melakukan dusta dan dosa.

Hadits-hadits Rasulullah tersebut di atas membuktikan tentang kekufuran para dukun dan peramal. Karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, dan mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat, dan menyembah jin-jin. Padahal ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan mereka meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari mereka.

Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan bahwa cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara pengobatan, semisal tulisan-tulisan azimat yang mereka buat, atau menuangkan cairan timah, dan lain-lain cerita bohong yang mereka lakukan.

Semua ini adalah praktek-praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia, maka barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sesungguhnya ia telah menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.

Oleh karena itu tidak dibenarkan seorang muslim pergi kepada para dukun, tukang tenung, tukang sihir dan semisalnya, lalu menanyakan kepada mereka hal-hal yang berhubungan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang cinta, kesetiaan, perselisihan atau perpecahan yang terjadi dan lain sebagainya. Sebab semua itu berhubungan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali oleh Allah Subhanahhu wa Ta’ala.

Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah, dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 102 tentang kisah dua Malaikat:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan ayat (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di Akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”(Al-Baqarah:102)

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu sihir, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudharat bagi diri mereka sendiri, dan tidak pula mendatangkan sesuatu kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan ancaman berat yang menunjukkan betapa besar kerugian yang diderita oleh mereka di dunia ini dan di Akhirat nanti. Mereka sesungguhnya telah memperjualbelikan diri mereka dengan harga yang sangat murah, itulah sebabnya Allah berfirman :

“Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui.”

Kita memohon kepada Allah kesejahteraan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis praktek perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal. Kita memohon pula kepadaNya agar kaum muslimin terpelihara dari kejahatan mereka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap mereka, dan melaksanakan hukum Allah dengan segala sangsi-sangsinya kepada mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan dan segala praktek keji yang mereka lakukan.

Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia!.

Tata Cara Menangkal Dan Menanggulangi Sihir

Allah telah mensyari’atkan kepada hamba-hambaNya supaya mereka menjauhkan diri dari kejahatan sihir sebelum terjadi pada diri mereka. Allah juga menjelaskan tentang bagaimana cara pengobatan sihir bila telah terjadi. Ini merupakan rahmat dan kasih sayang Allah, kebaikan dan kesempurnaan nikmatNya kepada mereka.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang usaha menjaga diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, begitu pula usaha dan cara pengobatannya bila terkena sihir, yakni cara-cara yang dibolehkan menurut hukum syara’:

Pertama: Tindakan preventif, yakni usaha menjauhkan diri dari bahaya sihir sebelum terjadi. Cara yang paling penting dan bermanfaat ialah penjagaan dengan melakukan dzikir yang disyari’atkan, membaca do’a dan ta’awwudz sesuai dengan tuntunan Rasulullah ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya seperti di bawah ini:

A. Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat lima waktu, sesudah membaca wirid yang disyari’atkan setelah salam, atau dibaca ketika akan tidur. Karena ayat Kursi termasuk ayat yang paling besar nilainya di dalam Al-Qur’an. Rasulullah ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu hadits shahihnya :

“Barangsiapa membaca ayat Kursi pada malam hari, Allah senantiasa menjaganya dan syetan tidak mendekatinya sampai Shubuh.”

Ayat Kursi terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 255 yang bunyinya :

“Allah tidak ada Tuhan selain Dia, Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur, kepunyaanNya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

B. Membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas pada setiap selesai shalat lima waktu, dan membaca ketiga surat tersebut sebanyak tiga kali pada pagi hari sesudah shalat Shubuh, dan menjelang malam sesudah shalat Maghrib, sesuai dengan hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i.

C. Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah yaitu ayat 285-286 pada permulaan malam, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka cukuplah baginya.”

Adapun bacaan ayat tersebut adalah sebagai berikut:

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya’. (Mereka berdo’a): ‘Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kewajiban) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.”

D. Banyak berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna.

Hendaklah dibaca pada malam hari dan siang hari ketika berada di suatu tempat, ketika masuk ke dalam suatu bangunan, ketika berada di tengah padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa singgah di suatu tempat dan dia mengucapkan: ‘A’uudzu bi kalimaatillahi attaammaati min syarri maa khalaq’ (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaanNya), maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu.”

E. Membaca do’a di bawah ini masing-masing tiga kali pada pagi hari dan menjelang malam :

“Dengan nama Allah, yang bersama namaNya, tidak ada sesuatu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Bacaan-bacaan dzikir dan ta’awwudz ini merupakan sebab-sebab yang besar untuk memperoleh keselamatan dan untuk menjauhkan diri dari kejahatan sihir atau kejahatan lainnya. Yaitu bagi mereka yang selalu mengamalkannya secara benar disertai keyakinan yang penuh kepada Allah, bertumpu dan pasrah kepadaNya dengan lapang dada dan hati yang khusyu’.

Kedua: Bacaan-bacaan seperti ini juga merupakan senjata ampuh untuk menghilangkan sihir yang sedang menimpa seseorang, dibaca dengan hati yang khusyu’, tunduk dan merendahkan diri, seraya memohon kepada Allah agar dihilangkan bahaya dan malapetaka yang dihadapi. Do’a-do’a berdasarkan riwayat yang kuat dari Rasulullah untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh sihir dan lain sebagainya adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam me-ruqyah (mengobati dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an atau do’a-do’a) sahabat-sahabatnya dengan bacaan :

Artinya: “Ya Allah, Tuhan segenap manusia….! Hilangkanlah sakit dan sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan dariMu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Al-Bukhari).

2. Do’a yang dibaca Jibril , ketika meruqyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala yang menyakitkanmu, dan dari kejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” Bacaan ini hendaknya diulang tiga kali.

3. Pengobatan sihir cara lainnya, terutama bagi laki-laki yang tidak dapat berjimak dengan istrinya karena terkena sihir. Yaitu, ambillah tujuh lembar daun bidara yang masih hijau, ditumbuk atau digerus dengan batu atau alat tumbuk lainnya, sesudah itu dimasukkan ke dalam bejana secukupnya untuk mandi; bacakan ayat Kursi pada bejana tersebut; bacakan pula surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat-ayat sihir dalam surat Al-A’raf ayat 117-119, surat Yunus ayat 79-82 dan surat Thaha ayat 65-69.

Surat Al-A’raf ayat 117-119 yang bunyinya:

“Dan Kami wahyukan kepada Musa: ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka orang-orang yang hina.”

Surat Yunus ayat 79-82:

“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): ‘Datangkanlah kepadaku semua ahli sihir yang pandai’. Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: ‘Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan’. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: ‘Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenaran mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsung pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapanNya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).“

Surat Thaha ayat 65-69 yang bunyinya :

“Mereka bertanya,’Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamilah yang mula-mula melemparkan?’ Musa menjawab,’Silahkan kamu sekalian melemparkan’. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman: ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat, sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja ia datang.”

Setelah selesai membaca ayat-ayat tersebut di atas hendaklah diminum sedikit airnya dan sisanya dipakai untuk mandi.)

Dengan cara ini mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan penyakit yang sedang dideritanya.

4. Cara pengobatan lainnya, sebagai cara yang paling bermanfaat ialah berupaya mengerahkan tenaga dan daya untuk mengetahui di mana tempat sihir terjadi, di atas gunung atau di tempat manapun ia berada, dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan dimusnahkan sehingga lenyaplah sihir tersebut.

Inilah beberapa penjelasan tentang perkara-perkara yang dapat menjaga diri dari sihir dan usaha pengobatan atau cara penyembuhannya, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Adapun pengobatan dengan cara-cara yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir, yaitu dengan mendekatkan diri kepada jin disertai dengan penyembelihan hewan, atau cara-cara mendekatkan diri lainnya, maka semua ini tidak dibenarkan karena termasuk perbuatan syirik paling besar yang wajib dihindari.

Demikian pula pengobatan dengan cara bertanya kepada dukun,’arraaf (tukang ramal) dan menggunakan petunjuk sesuai dengan apa yang mereka katakan. Semua ini tidak dibenarkan dalam Islam, karena dukun-dukun tersebut tidak beriman kepada Allah; mereka adalah pendusta dan pembohong yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib, dan kemudian menipu manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan orang-orang yang mendatangi mereka, menanyakan dan membenarkan apa yang mereka katakan, sebagaimana telah dijelaskan hukum-hukumnya di awal tulisan ini.

Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon, agar seluruh kaum muslimin dilimpahkan kesejahteraan dan keselamatan dari segala kejahatan, dan semoga Allah melindungi mereka, agama mereka, dan menganugerahkan kepada mereka pemahaman dan agamaNya, serta memelihara mereka dari segala sesuatu yang menyalahi syari’atNya.

(Dikutip dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dikirim : oleh al Akh Hari Nasution. Diterbitkan oleh Depar-temen Urusan KeIslaman, Wakaf, Dakwah Dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia)

Dikutip dari Salafy.or.id offline Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Judul: Hukum tentang Sihir dan Perdukunan/Paranormal

Menyingkap Keajaiban Ponari

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa ikhwan (teman) terlibat pembicaraan. Sampai pada sebuah informasi tentang Ponari yang terlontar dari salah satu ikhwan,  setelah beberapa hari dari pembicaraan tersebut saya baru mempunyai kesempatan untuk mencari tahu lebih dalam informasi tentang Ponari, ternyata kenyataan fenomena Ponari ini membuat saya kaget sekaligus menyapa keimanan didalam hati, sayapun yakin seperti itu juga ikhwan – ikhwan yang lain, keimanan siapa yang tidak  tersentuh perbuatan syirik dilakukan didepan mata, keimanan siapa yang tidak tersentuh kesesatan dikampanyekan dihadapan kita, keimanan siapa yang tidak tersentuh melihat kaum muslimin tersesat dikelamnya kebodohan, keimanan siapa tidak tersentuh ditengah keterprosokkan kaum muslimin kepada kesyirikan ada pihak yang malah mencari keuntungan. Lahaula wala Quwata illa Billah, kemudian terbetiklah untuk menulis tulisan sederhana ini dengan harapan semoga bermanfaat.

Pertama : Ponari dan kebenaran ceritanya

Ada satu hal yang ingin saya tekankan disini yaitu untuk tidak terlalu mudah menerima atau mempercayai berita yang seperti ini, apalagi hanya dari mulut kemulut. Wahai saudaraku…., marilah kita berpikir sejenak, apakah orang yang menceritakan kejadian Ponari orang yang terpercaya agamanya sehingga timbul rasa takut untuk berbohong dalam bercerita atau menambah – nambahin dalam cerita tersebut ….??!! atau apakah mereka orang yang paham terhadap Aqidah yang benar atau paham ini perkara tauhid dan ini perkara syirik sehingga bisa menyaring kabar yang masuk ke dirinya….??!! Jawablah wahai saudaraku….

Atau apakah media masa yang memberitakan Ponari media masa yang para wartawannya bertaqwa kepada Allah sehingga menahan penanya untuk menulis sesuatu yang tidak ada pada kenyataannya atau menghiasi ceritanya agar lebih seru dan menarik pembaca…??!! atau media masa yang para wartawannya perduli terhadap agama, memberikan perhatian terhadap aqidah yang benar didalam ilmu dan amal mereka, sehingga dapat menyaring berita yang masuk yang dapat membahayakan aqidah umat… ??!! atau media masa yang fulus menjadi orientasinya, ngga perduli walaupun membahayakan aqidah umat, jawablah wahai saudaraku…..

Kalau pada kenyataannya yang memberitakan apa yang terjadi pada Ponari adalah orang yang tidak perduli atau melalaikan agamanya, tidak tahu perkara tauhid, tidak tahu perkara syirik, meninggalkan sholat, atau melakukan dosa besar jika kondisinya seperti ini penting bagi saya untuk menghadirkan sebuah ayat semoga menjadi renungan untuk kita semua.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu “ ( QS: Al Hujuraat: 6 )

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah : “ Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengecek berita yang bersumber dari orang yang fasiq agar berhati-hati dengannya “ ( Tafsir Ibnu Katsier pada ayat ini )

Lalu bagaimana jika sumber beritanya dari orang kafir….!!

Kalau seandainya benar cerita yang terjadi pada Ponari tersebut maka ini adalah tipu daya syaithan untuk menyesatkan ummat maka tidak boleh menyebarkan sebuah berita yang dapat menjerumuskan ummat kepada kesesatan karena itu adalah bentuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ Dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan ” ( QS Al Maidah:2 )

Kedua : Ponari dan tipu daya Syaithan.

Sepengetahuan saya dari berita yang saya dapat, bahwa Ponari atau keluarganya tidak pernah belajar sesuatu dari ilmu perdukunan dan sihir, ponari dan keluarganya hanyalah masyarakat biasa, maka apa yang terjadi pada ponari adalah bentuk tipu daya syaithan untuk menyesatkan Ponari, kedua orang tuanya dan ummat.

Untuk menyesatkan Ponari, yaitu menyeretnya untuk menjadi seorang dukun dan tukang sihir. Mungkin pada awalnya Ponari tidak pernah terbetik atau bercita – cita untuk menjadi seorang dukun tapi lambat laun syaithan dengan liciknya menyeretnya untuk menjadi seorang dukun, mengaku mengetahui perkara yang ghaib dan melakukan aktifitas yang mencerminkan perbuatan seorang dukun. Naudzubillah, hal ini atau cara penyesatan syaithan seperti ini bukanlah sesuatu yang baru.

Adapun upaya syaithan untuk menyesatkan ummat adalah dengan menjadikan Ponari sebagai perantara dalam rencana busuknya untuk menyesatkan ummat kelembah najisnya kesyirikan dan kekufuran.

Wahai kaum muslimin, bukankah Iblis berkata sebagaimana yang Allah kabarkan didalam kitab-Nya yang mulia :

إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِين قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ المُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“ Iblis menjawab : “ karena Engkau telah menghukumi saya tersesat maka saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (ta’at).” ( QS Al A’araf: 16 – 17 )

Sudah menjadi profesi syaithan untuk menyesatkan manusia, bisa saja syaithan yang melemparkan batu tersebut kepada Ponari, hal ini pun yang dikatakan Syaikh Yahya tentang batu yang di dapat ponari, lalu bisa jadi syaithan membisiki hatinya, dengan berkata : “ ini adalah sebuah keutamaan dan karomah atau mari kita bekerja sama untuk mengobati manusia ”. Wahai kaum muslimin…, marilah kita berpikir sejenak, apakah masuk diakal seorang musuh (syaithan) datang kepada musuhnya (manusia) lalu berkata : “ saya adalah syaithan untuk menyesatkan kamu wahai ponari, atau berkata : “ saya adalah syaithan, saya akan memanfaatkan kamu untuk menyesatkan ummat dengan label pengobatan…..”

Apakah kita tidak memperhatikan bagaimana syaithan mengeluarkan bapak kita Nabi Adam ‘Alaihi Salaam dari Surga, dikarenakan melanggar perintah Allah. Apakah syaithan berkata ke pada Adam ‘Alaihi Sallaam : “ saya akan menyesatkan kamu wahai Adam.” Bahkan syaithan datang kepada Adam dengan berpenampilan sebagai seorang penasehat bahkan berani bersumpah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengkabarkan tentang hal itu :

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“ Dan dia (Syaithan) bersumpah kepada keduanya : “ saya adalah termasuk orang yang memberikan nasehat kepada kalian berdua.” ( QS Al A’araf: 21 )

Kalau Nabi Adam dan Istrinya saja dibohongi oleh Syaithan dengan berlagak sebagai pemberi nasehat, sehingga dengan sebab itu Nabi Adam dan Hawa memakan buah yang Allah melarang keduanya untuk mendekatinya, lalu apa yang menghalangi Syaithan untuk menyesatkan  kita dengan berkata: “ Mari kita mengobati manusia ” atau berkata “ ini adalah karomah “ atau “ ini adalah mu’jizat ” dengan tujuan menjerumuskan manusia kejurang najis dan kelamnya kesyirikan dan kekufuran. Berfikirlah wahai orang-orang yang berakal….??!!

Bukankah syaithan sendiri yang berkata akan menyesatkan kita, sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan didalam Al –Qur’an

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“ Iblis berkata : Ya Rabbku oleh sebab Engkau memutuskan bahwa aku tersesat pasti aku menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua “ ( Qs. Al Hijr : 39 )

Kalau kita sudah sadar bahwa syaithan akan menyesatkan kita, maka akan saya hadirkan sebuah ayat untuk kita renungkan bersama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ

“ Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah – langkah syaithan, barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar( QS. An Nur : 21 )

Kemungkaran apa yang paling besar, wahai sudaraku…, kalau bukan kemungkaran syirik bukankah Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“  Sesungguhnya perbuatan syirik (menyekutukan Allah) adalah kedzaliman yang sangat besar( Qs. Luqman : 13 ) dalam ayat lain Allah juga berfirman :

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 )

Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Didalam ayat ini terdapat penjelasan besarnya bahaya syirik, dikarenakan seseorang apabila mati dalam kaeadaan berbuat syirik maka tidak akan diampuni baginya bahkan dia kekal didalam neraka, berbeda dengan dosa lainnya yaitu dibawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya kemudian masuk surga, dan jika Allah berkehedak maka Allah akan mengampuniannya (tidak mengadzabnya). Adapun dosa syirik maka sungguh Allah Ta’ala telah berfirman :

ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )

(Syarh Kitab Tauhid Syaikh Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz : 37)

Kemungkaran apa yang lebih besar  dari bergantungnya hati kepada selain Allah dengan menyakini kesembuhan dari sebuah batu, padahal Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallaam :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Kemungkaran apa yang lebih besar dari menyakini selain Allah mengetahui perkara yang ghoib, padahal Allah Taala berfirman :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللهُ

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib  kecuali Alloh” (Qs. An-Naml : 65 )

Ketiga : Ponari antara Karomah, Mu’jizat dan tipu daya syaithan

Sangatlah jelas sekali apa yang terjadi pada Ponari bukalah karomah apalagi mu’jizat. Karomah adalah kejadian luar biasa yang diluar kemampuan orang pada umumnya yang Allah berikan kepada orang shaleh, hambanya yang memahami tauhid dan mengamalkannya secara dzohir dan bathin, hambanya yang menjauhi perbuatan syirik, bid’ah dan khurofat, melaksanakan sholat lima waktu dan menjauhi maksiat. Adapun Mu’jizat khusus untuk nabi. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah : “ Al-Imam Haramain menukilkan adanya ijma (kesepakatan) bahwa sihir tampak dari orang fasik adapun karomah tidaklah tampak dari orang fasik (melakukan dosa besar)

Berkata juga Al Hafidz Ibnu Hajar : “ Sudah seharusnya dilihat keadaan  orang yang ada pada dirinya keajaiban, apabila orangnya berpegang teguh dengan syariat  (agama), menjauhi dosa yang membinasakan maka apa yang terlihat darinya  berupa keajaiban adalah karomah, jika tidak seperti itu maka itu adalah sihir. Dikarenakan timbul dari salah satu macamnya dengan pertolongan syaithan. ( Fathul Bari’ Cet. Maktabah As-Shofa, Juz 10 hal : 260 )

Berkata Ibnul Jauzi Rahimahullah : Telah kami jelaskan pada pembahasan yang telah lalu bahwa iblis menebarkan tipu dayanya kepada manusia sesuai kadar keilmuan, maka setiap kali berkurang ilmu yang ada pada diri seseorang tersebut bertambah kuat pula kemampuan iblis dalam memperdaya orang tersebut. Dan semakin dalam kadar keilmuan seseorang maka semakin melemah kemampuan iblis untuk memperdaya orang tersebut, sebuah contoh ada seseorang dari kalangan ahli ibadah melihat sebuah cahaya di langit maka jika hal itu terjadi di bulan ramadhan, niscaya dia akan mengatakan aku telah melihat lailatul Qadar, dan kalau ternyata hal tersebut terjadi di bulan selain Ramadhan dia akan menyatakan telah dibukakan pintu – pintu langit untukku, kemudian dia menyangka hal itu sebagai karomah baginya, yang pada hakikatnya kejadian tersebut terjadi secara kebetulan atau sebuah fitnah atau sebuah tipu daya  dari iblis dan orang yang berakal sangat tidak akan menerima hal-hal yang seperti ini walaupun  disangka hal ini adalah sebuah karomah.” ( Talbis Iblis Ibnul Jauzi, bab Ke 11 Hal : 404 )

Keempat : Ponari dan kesyirikan yang ada atau dikhawatirkan muncul di fenomenanya

Sebelum menjelaskan fenomena kesyirikan yang ada atau dikhawatirkan umat terseret kepada nya, maka penting bagi saya untuk menjelaskan pengertian syirik dan macamnya untuk memudahkan memahami pembahasan selanjutnya.

Pengertian Syirik : Menyamakan selain Allah dengan Allah didalam hal – hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. (Tanbihaat Al Mutahatimaat Al Ma’rifat ‘ala Kulli Muslimin wa Muslimat, Ibrahim Bin Syaikh Sholih Al – Qar’awi Darus Shamiy, hal : 37 )

Syirik dibagi dua :

Pertama : Syirik Akbar (besar) yaitu yang mengeluarkan pelakunya dari islam dan mengekalkan pelakunya didalam neraka jika mati belum bertaubat darinya.

Kedua : Syirik Asghor (kecil) yaitu yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari islam tetapi mengurangi tauhid dan sarana yang dapat menjerumuskan kesyirik Akbar. (Aqidah Tauhid, Syaikh Sholeh Al Fauzan : 77, dengan diringkas )

Yang pertama : “ Si Anak Ajaib Ponari “

Ada beberapa gambaran dalam masalah ini :

Jika seseorang menyakini bahwa Ponari dapat menyembuhkan penyakit dengan sendirinya, atau berkeyakinan Ponarilah yang dapat menyembuhkan penyakit pasiennya atau berkeyakinan ponari mempunyai kekuatan ghaib untuk menyembuhkan para pasiennya maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang berobat ke Ponari. Kenapa hal ini merupakan termasuk syirik…?? karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Jika seseorang menyakini Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab, Ponari bukanlah sebab kesembuhan berbagai penyakit pasiennya

  • ·Bukankah Ponari tidak mengetahui Tibun Nabawi (pengobatan Nabi), seperti bekam, minum habbatu Sauda dan lain-lain
  • ·Bukankah Ponari bukan seorang dokter
  • ·Bukankah Ponari tidak memiliki sedikitpun dari ilmu kedokteran
  • ·Bukankah Ponari tidak memiliki ilmu pengobatan tradisional, seperti jamu-jamuan, atau refeleksi
  • ·Sudah begitu dengan tidak mengetahui dan mempunyai kemampuan apa-apa dari pengobatan Nabawi, kedokteran dan tradisional lalu mengaku bisa mengobati berbagai penyakit, dari penyakit dalam sampai penyakit luar bahkan penyakit stress dan gila ….!!!
  • ·Ditambah cara pengobatan Ponari terkadang ketika melakukan pengobatan dibarengi sambil bermain dengan teman sebayanya kemudian tangannya digerakkan oleh orang lain untuk menyelupkan batu kedalam air.

Karena alasan inilah tidak ada keterkaitan sama sekali Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakit pasiennya, maka yang berkeyakinan Ponari sebagai sebab kesembuhan para pasiennya merupakan bentuk mengambil sebab apa yang Allah tidak jadikan sebagai sebab. Dan ini merupakan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman :

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“ Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu Nya dalam menetapkan hukumnya( Qs. Al Kahfi : 26 )

Hukum Allah dibagi dua :

Hukum Syariyah : Yaitu berupa perintah dan larangan Allah

dan hukum kauniyah : Yaitu apa yang Allah taqdirkan, termasuk diantaranya sebab dan akibat. Maka jika menetapkan sebab yang tidak Allah tetapkan sebagai sebab maka ini termasuk syirik.

Syaikh Yahya pernah ditanya : Ya Syaikh berkaitan dengan, soal kemarin (tentang Ponari dan batunya), apa hukum jika seseorang menyakinii Ponari sebagai sebab kesembuhan penyakinya, apakah termasuk syirik karena menjadikan sebab apa yang bukan sebab, karena Ponari bukan seorang dokter dan tidak mempunyai ilmu tentang kesehatan. Syaikh Menjawab : menjadikan apa yang bukan sebab sebagi sebab merupakan kesyirikan dan sarana mengatarkan kepada syirik (dinukil secara makna).Semoga penjelasan ini menjadi menjadi catatan bagi perkataan Ngawur dari Gus Sholeh dan Hasyim Muzadi tentang hukum mendatangi Ponari. (Silahkan Lihat bantahan saya kepada mereka berdua)

Yang Kedua : ” Batu Ajaib “

Ada beberapa gambaran dalam masalah ini :

Jika seseorang menyakini bahwa  batu Ponari dapat menyembuhkan penyakit dengan    sendirinya, atau berkeyakinan batu itulah yang dapat menyembuhkan penyakit pasiennya atau berkeyakinan batu tersebut mempunyai kekuatan ghaib untuk menyembuhkan para pasiennya maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang berobat ke Ponari. Kenapa syirik karena menyandarkan ssesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah, karena yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab kesembuhan penyakit pasiennya dan dia menyakini Allah yang menyembuhkannya maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab. Tidak terbukti secara syar’i bahwa batu tersebut sebab kesembuhan begitu juga tidak terbukti secara penelitian, sudah begitu mengklaim Ponari dan batunya dapat menyembuhkan semua penyakit ( Silahkan lihat lebih lanjut penjelasan menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab merupakan kesyirikan, di Kitab Qaulul Mufid Syaikh Ibnu Utsaimin hal 107)

Yang Ketiga : Menyakini barakah batu tersebut

Jika seseorang menyakini bahwa  batu Ponari dapat yang memberikan barakah dengan    sendirinya, maka  hal ini merupakan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari islam walaupun dia tidak datang mencari barokah ke batu Ponari. Kenapa syirik karena menyadarkan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Allah semata, karena yang dapat memberikan barokah hanyalah Allah semata. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ

“ Kami limpahkan keberkahan atasnya dan ishaq “

( QS. Ash-Shaaffat : 113 )

Jika seseorang menyakini batu Ponari adalah sebab barokah dan dia menyakini yang memberikan barakah hanyalah Allah semata. maka yang seperti ini adalah syirik Asghar (kecil) yang merupakan dosa yang sangat besar. Karena menjadikan apa yang bukan sebab sebagai sebab.

Berbeda jika ada dalil syar’i yang menyatakan sesuatu tersebut bebarakah, seperi bulan Ramadhan bulan barakah cara mendapatkan barakah di bulan tersebut dengan memperbanyak ibadah karena  doa-doa dikabulkan, pahala amalan ibadah dilipat gandakan dan lain – lain, atau air zam-zam air yang berbarakah caranya dengan meminumnya dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhan penyakit kita misalnya, dengan menyakini yang memberikan barakah dan kesembuhan hanya Allah semata.

Yang Keempat : Ketergantungan hati kepada Ponari dan batunya

Ketergantungan yang luar biasa kepada Ponari dan batunya di antaranya dapat dilihat dari perbuatan para pasiaen Ponari yang ketika ditutup praktek pengobatan Ponari, melakukan tindakan membabi buta seperti mengambil air mandi bekas Ponari atau air comberan, meminum air yang tertampung diatap rumah Ponari dan lain-lain untuk mengobati penyakitnya, dari ketergantungan hati yang luar biasa kepada Ponari dan batunyalah  yang mengakibatkan para pasien tersebut melakukan hal seperti itu, Dimana yach para pasien itu dengan ayat ini..??!!

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Artinya : ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Bukankah Allah yang memberi manfaat, baik itu kesembuhan dan yang lainnya bukankah Allah yang menolak mudhorot…..!!!

Lalu dimana mereka dengan ayat  dan hadist ini

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “ Ya Allah Engkau adalah Rabb manusia, hilangkanlah penyakitku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun” ( HR. Muslim dari ‘Aisyah Radiyalallahu ‘Anha )

Bukankah Allah memerintahkan kepada kita untuk bertawakal kepada Allah semata, yaitu bergantungnya hati kita kepada Allah dalam meraih apa – apa yang bermanfaat, seperti mencari sebab kesembuhan dan menolak apa – apa yang membahayakan bagi dunia dan akhirat kita. Allah Subhana Wata’ala berfirman :

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ

“ Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. ( Qs. Al – Maaidah : 23 )

Pada ayat ini Allah memerintahkan untuk bertawakal kepada Nya, ini menunjukkan tawakal itu dicintai Allah maka kalau begitu tawakal adalah ibadah. Sebagaimana pengertian Ibadah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taiminyah Rahimahullah, Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup seluruh perkara apa – apa yang dicintai Allah dan diridhainya dari perkataan, perbuatan dzahir dan bathin. ( Ubudiyah Syaikhul Islam, bersama syarh Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihy : 6 )

Maka jika tawakal di palingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan syirik, bisa terjatuh kepada syirik akbar pada suatu keadaan dan syirik asghor pada suatu keadaan lain. Sebagaimana yang akan disebutkan disini :

Tawakal yang merupakan syirik akbar (besar) : Yaitu bergantungnya hati kita kepada selain Allah dalam perkara – perkara yang selain Allah tidak di beri kemampuan.

Tawakal yang merupakan syirik asghar (kecil) : Yaitu bergantungnya hati kita kepada selain Allah dalam perkara – perkara yang selain Allah di beri kemampuan.  ( Silahkan Lihat Al Jamamiul Fariid, li as’ilatil wal ajwibah ala kitab tauhid, Syaikh Abdullah Jarullah : 200 )

Kelima : Ponari dan Julukan ” Si Dukun Cilik dari Jombang “

Julukan dukun bukanlah julukan yang baik apalagi julukan kehormatan yang patut dibanggakan. Karena dukun, paranormal, ahli nujum, tukang ramal dan yang semisalnya adalah nama bagi orang yang mengklaim dirinya mengetahui sesuatu dari ilmu ghaib tetapi cara mereka berbeda. ( Silahkan Lihat Al Jamamiul Fariid, li as’ilatil wal ajwibah ala kitab tauhid, Syaikh Abdullah Jarullah : 200 )

Profesi dukun adalah profesi kekafiran Naudzubillah, dikarenakan dua hal :

1. Mengaku mengetahui perkara yang ghoib

2. Beribadah atau bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada syaitan

(Silahkan lihat Qoulus Syadid Syarh Kitab Tauhid, Syaikh As-Sa’di : 97, lihat juga Al-Jaamiul Fariid li asilati wal ajwibah ‘ala kitab tauhid, Syaikh Abdulloh Bin Jarulloh)

Berkata Syaikh Ibnu Baaz Rahimahulloh : (Setelah menyebutkan beberapa hadist) “Sebagaimana di dalam hadits ini sebagai dalil atas kafirnya dukun dan tukang shir dikarenakan keduanya mengaku mengetahui perkara yang ghaib, yang demikian itu perbuatan kekafiran dikarenakan keduanya tidak bisa mendapatkan yang mereka inginkan kecuali dengan melayani jin dan beribadah kepadanya dari selain Alloh, yang demikian itu merupakan perbuatan kekufuran dan syirik kepada Alloh Subhanah, dan jika membenarkan mereka mengetahui perkara yang ghaib maka hukumnya seperti mereka (Kafir) “ (Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz : 7- 8 )

Jika julukan si dukun cilik sesuai dengan keadaan si Ponari dengan mengaku mengetahui perkara yang ghoib dan melakukan berbagai aktivitas perdukunan. Maka penting bagi saya untuk membawakan sebuah hadist untuk menjadikan peringatan kita semua, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassallam “ (HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh Syaikh Al-Abany)

sebagaimana dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh sebagian istri Nabi Sholallahu alaihi wassallam , Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda :

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam” (HR Muslim)

Keenam : Ponari dan kesembuahan para pasiennya

Sudah pernah saya singgung diawal tulisan ini, bahwa jangan mudah menerima dan mempercayai sebuah berita dengan model seperti ini apalagi dibawa oleh orang yang tidak jelas agamanya. Sudah begitu kenapa orang yang tidak sembuh setelah datang kepengobatan Ponari kurang disorot kalau tidak mau dikatakan diangkat kepublik.

Adapun jika benar ada yang sembuh setelah datang kepraktek pengobatan Ponari ada dua kemungkinan :

  1. Kesembuhan yang pada hakekatnya tidaklah sembuh

Misalnya datang seorang yang lumpuh tiba – tiba setelah minum air yang telah dicelup batu Ponari langsung bisa jalan atau tidak lama setelah pengobatan tersebut langsung bisa jalan. Bisa saja jin masuk kedalam kakinya kemudian meneggakkannya sehingga tiba-tiba bisa jalan. Suatu saat jika jin nya pergi dia akan lumpuh lagi. Hal ini pernah saya tanyakan oleh salah seorang Syaikh disini (Syaikh Ma’mar), diapun menjawab bisa  kemudian membawakan dalil tentang masuknya jin ketubuh seseorang.

  1. Bisa jadi benar – benar sembuh, dan yang menyembuhkan adalah Allah semata dan bukan karena sebab Ponari dan batunya, ada sebab lain atau Allah menyembuhkannya tanpa sebab. Dan ini bentuk istridraj yaitu menangguhkan hukuman baginya sampai batas waktu yang Allah tentukan sehingga semakin menumpuk dosanya. Naudzubilah

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ

“Kami akan menarik mereka beransur-ansur (kearah kebinasaan) dari arah yang mereka tidak ketahui “ ( Qs. Al Qalam : 44 )

Ketujuh : Ponari dan sebuah nasehat

Wahai Bapak dan Ibu Ponari, yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Sebelumnya saya minta maaf, tidaklah saya tulis nasehat ini, insya Allah kecuali untuk kebaikan bapak dan ibu serta Ponari bahkan untuk yang lainnya. Begitu juga dalam rangka mengamalkan sebuah hadist, dari Abu Ruqayah Tamim Bin Aus Ad Dary Radiyalallahu ‘Anhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda ” Agama itu adalah nasehat “ ( HR. Muslim )

Sebagaimana yang mungkin bapak dan ibu telah ketahui, sebagai orang tua maka mempunyai tanggung jawab  kepada anak – anaknya, dan sebagai pemimpin mempunyai tanggung jawab terhadap yang dipimpin, hal ini sebagaimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berasabda : ” Setiap dari kalian akan diminta pertanggung jawaban, dan setiap kalian adalah seorang pemimpin dari yang dipimpin….” (HR. Bukhari dan Muslim )

Maka kita akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang telah kita lakukan, begitu juga kedua orang tua akan dimintai pertanggung jawaban tentang anaknya, apakah seorang bapak dan ibu sudah menunaikan hak anaknya, berupa nafkah, pendidikan agama, mengarahkan kepada apa – apa yang bermanfaat untuk akhirat dan dunianya dan memperingatkan dari hal-hal yang membahayakan anaknya, bukankah Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

” Hai orang-orang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ” ( Qs. Atharim : 6 )

Maka  saya katakan, semoga Allah memberi hidayah kepada bapak dan ibu serta Ponari, bapak dan Ibu harus memberi peringatan kepada Ponari yang saat ini syaithan berusaha menyeret Ponari kepada sesuatu yang membahayakan bagi kehidupan akhirat dan dunianya, yaitu syaithan berusaha menyeret Ponari menjadi seorang dukun, disamping itu Ponaripun dimanfaatkan oleh syaithan untuk menyesatkan umat dengan topeng pengobatan. Apakah bapak dan ibu tega melihat Ponari menjadi seorang dukun, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, berkata : Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : ” Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassallam “ ( HR. Al-Hakim dan dishohihkan olehnya dan disepakati Imam Dzahabi dan Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu )

Diriwayatkan dari sebagian istri Nabi Sholallahu alaihi wassallam , Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam bersabda : “ Barangsiapa mendatangi tukang ramal (dukun dan sejenisnya) menanyakan sesuatu maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam ” ( HR Muslim )

Kalau yang mendatangi saja bisa kafir lalu bagaimana hukum yang didatangi.

Wahai bapak dan ibu Ponari yang semoga Allah memberi hidayah kepada bapak dan ibu, saya jadi teringat sebuah hadist yang saya ingin hadirkan disini untuk menjadi renungan kita bersama. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam Bersabda : ” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi ” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh) maka jika Ponari menjadi seorang dukun maka bapak dan ibu mempunyai andil dalam hal itu. Bukankah kedua orang tua yang paling perduli kepada anak-anaknya, bukankah bapak dan ibunyalah yang paling sayang sama anak-anaknya, apakah bapak menyangka perusahaan yang memproduksi Ponari Sweat perduli dengan agama Ponari…??!! maka dengan tegas saya katakan… mereka tidak perduli, apakah bapak dan ibu menyangka para wartawan dan media massa yang memberitakan Ponari dan batunya perduli dengan nasib Ponari diakherat kelak, kalau Ponari mejadi seorang dukun dan mati dalam keadaan seperti itu…??!!, saya tidak ragu untuk mengatakan mereka tidak perduli. Demi Allah, wahai Bapak dan Ibu Ponari yang saya inginkan adalah kebaikan untuk kalian, maka dengarkanlah nasehat saya ini. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh dosa yang pernah kita lakukan, diantaranya pelalaian pendidikan agama terhadap anak sendiri, Bapak dan Ibu serta Ponari harus meningggalkan pengobatan yang dilakukan Ponari karena itu semua merupakan tipu daya syaithan yang mengatarkan kepada dosa kesyirikan, sebuah dosa yang tidak diampuni oleh Allah kalau sebelum matinya seseorang belum bertaubat dari dosa syirik. Serta mulailah membenahi diri kita, begitu juga ajarkan kepada Ponari Aqidah yang benar, tanamkan kepada Ponari bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib  kecuali Allah, tanamkan pada Ponari bahwa syaithan adalah musuh kita, tanamkan kepada Ponari bahwa kesembuhan hanyalah dari Allah semata, serta mulailah menjaga sholat lima waktu, ajak Ponari sholat berjamaah dimasjid, jangan lupa bentengi diri kita, bapak dan ibu serta Ponari  dengan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seperti doa sebelum tidur, dzikir pagi dan sore dan jangan lupa sering baca Al –Qur’an dan baca surat Al Baqarah di rumah, karena yang demikian itu semua dapat membentengi kita dari gangguan syaithan. Bertawakalah kepada Allah dan banyaklah berdoa semoga Allah mengeluarkan kita dari segala masalah yang kita hadapi.

Kemudian utarakanlah kepada pihak yang berwenang (pemerintah) tentang keputusan bapak dan ibu untuk meninggalkan dan menutup praktek pengobatan Ponari, Insya Allah pemerintah akan setuju dan membantu keputusan bapak dan ibu, serta utarakanlah untuk pindah dari tempat yang bapak dan ibu Ponari tinggali sekarang, untuk menutup segala jalan agar orang tidak bisa lagi mendatangi Ponari dan dalam rangka mencari lingkungan yang baik, bisa pindah ke Jakarta Depok, disana ada lingkungan Ahlus Sunnah, lingkungan yang baik akan membuat pengaruh yang baik untuk kehidupan Ponari, disamping itu bisa menuntut ilmu agama disana, belajar aqidah yang lainnya, atau ditempat yang lainnya yang disitu ada lingkungan Ahlu Sunnah. Insya Allah pemerintah akan senang membantu bapak dan ibu.

Ke delapan : Pasien Ponari dan sebuah nasehat

Wahai para pasien Ponari semoga Allah memberikan kesembuhan kepada engkau, mungkin saya tidak tahu sedetail apa rasa sakitmu, sebesar apa perjuangan untuk mengobati penyakitmu dan biaya yang telah di keluarkan untuk mengobati penyakitmu, tapi insya Allah nasehat yang saya tulis ini untuk kebaiakan akhirat dan dunia kalian.

Wahai Engkau yang berusaha untuk mengobati penyakitmu, wahai engkau yang telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun sakit, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat Allah sangatlah luas, bukankah Allah Ta’ala berfirman :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“ Dan Rahmat Ku meliputi segala sesuatu ” (Qs. Al – A’raaf : 156 )

Bukankah Allah Al-Lathif (yang Maha Lembut), sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ العَزِيزُ

“ Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambanya Dia memberi rezeki kepada siapa yang di kekehendaki – Nya “ ( Qs. Asy Syuura : 19 )

Teruslah berusaha untuk berobat mengambil sebab untuk kesembuhan penyakitmu, dengan pengobatan yang dibolehi oleh syariat yang mulia ini, dan perbanyaklah doa, kerena kesembuhan hanyalah dari Allah. Allah sematalah yang mengangkat kesusahan dan penyakitmu

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“ Dan apabila hamba-hamba ku bertanya kepada mu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku ( Qs. Al baqarah : 186 )

أَمَّنْ يُجِيبُ المُضطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“ Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada Nya dan yang menghilangkan kesusahan “ ( Qs. Al-Naml : 62 )

Bukankah Allah mengkabarkan perkataan Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“ Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku” ( Qs. AS-Syu’ara : 80 )

Wahai para pasien Ponari semoga Allah menyembuhkan kalian, tinggalkanlah berobat ke praktek pengobatan Ponari dan yang semisalnya karena berobat kesana mengantarkan kepada keharaman yang sangat besar yaitu kesyirikan dan mengatarkan kepada kerusakan Aqidah seseorang. Berobatlah dengan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah dan banyak berdoalah, semoga Allah menyembuhkan kaum muslimin dari penyakit yang dideritanya.

Kesembilan pihak yang berwenang (pemerintah) dan sebuah nasehat

Wahai Pihak yang berwenang (pemerintah) semoga Allah memberikan dan menolong kita untuk keluar dari segala masalah yang kita hadapi sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Nya. Amin…, Wahai pihak yang berwenang, sebagai warga yang baik saya berusaha untuk ikut andil dalam menyelesaikan sebagian permasalahan bangsa ini. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat ini, yang Insya Allah untuk kebaikan kita semua. Wajib bagi pihak berwenang untuk menutup praktek pengobatan Ponari dan semisalnya karena praktek pengobatan Ponari adalah praktek pengobatan yang menjerumuskan seseorang kedalam kerusakan aqidah dan kesyirikan. Dan mengamankan batu tersebut, kemudian memusnahkannya.

Begitu juga menutup seluruh praktek perdukunan yang ada di Indonesia karena hal itu semua merusak aqidah umat dan sebab yang datangnya adzab Allah, karena perdukunan sebesar-besar maksiat kepada Allah. Dalam hal ini berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah : Oleh karena itu kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya. dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar dan tempat-tempat lainnya. Dan secara tegas menolak segala apa yang mereka lakukan” (Hukmu Sihri wal Kaahanah wa ma yata’alaq biha, Syaikh Ibnu Baaz )

Kesepuluh : Ponari dan sebuah solusi

Wahai pihak yang berwenang (pemerintah) dan para dokter, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua dan semoga Allah memudahkan untuk menyelesaikan permasalahan  bangsa ini sesuai dengan apa yang di ridhoi Nya.

Kami mengajak kerja sama kepada pihak berwenang dan para dokter untuk melakukan beberapa hal dalam rangka menyelesaikan fenomena Praktek pengobatan Ponari :

Pertama : Umumkan kepada publik bahwasannya Bapak dan Ibu Ponari serta Ponari memutuskan untuk menghentikan dan menutup praktek pengobatan Ponari selama – lamanya dan menyatakan taubat dari praktek pengobatan tersebut setelah mengetahui bahwasannya praktek pengobatan tersebut mengantarkan kepada kesyirikan. Hal ini penting supaya publik tahu bahwa praktek pengobatan Ponari adalah sesuatu yang diharamkan karena mengantarkan kepada kesyirikan begitu juga supaya publik tahu bahwa praktek pengobatan Ponari telah ditutup sehingga tidak ada yang datang lagi.

Kedua : Para dokter dan pihak berwenang memberi pengobatan gratis bagi pasien yang sudah telanjur datang, sebagai bentuk saling membantu dalam kebaikan dan menutup munculnya tindakan anarkis dari sebagian pasien tersebut

Ketiga : membagi – bagikan buku tentang permasalahan Aqidah, seperti buku ” Hukum Sihir dan Perdukunan ” Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah. Hal ini sangatlah penting sebagai upaya pembenahan aqidah mereka.

Nasehat Untuk Kaum Muslimin

Wahai kaum Muslimin…, yang semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Dari penjelasan diatas tersirat sebuah pelajaran yang sangat penting, yakni akan bahayanya bodoh terhadap ilmu agama terutama aqidah, karena sebab kebodohan dalam permasalahan agama membuat seseorang terjerumus kepada kesesatan bahkan kekafiran Naudzubillah. Wahai kaum muslimin wajib bagi kita untuk mempelajari agama ini terutama permasalahan tauhid supaya kita bisa mengamalkannya secara dzhohir dan bathin dan mempelajari macam-macam dan bentuk-bentuk perbuatan syirik supaya kita dapat menjauhinya. Berkata Syaikh Yahya Bin Ali Al Hajuri Hafidzahullah : ” Jangan pernah meremehkan masalah tauhid, baik itu nasehat, dakwah dan dari merealisasikannya.” (Ta’liq Pelajaran Syaikh Yahya, pada kitab Al Jamius Shahih, Syaikh Muqbil )

Penulis : Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al – Jakarty

Alamat Situs : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/02/26/menyapa-fenomena-ponari/#comment-813

Sebab-sebab Jin Dan Syaithan Mengganggu Manusia

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله berkata dalam kitab “Al-Inqadz”

Sebab-sebab Yang Dengannya Syaithan Dari Bangsa Jin Mempengaruhi Kaum Muslimin

Sebab-sebab yang melaluinya jin dan syaithan mengganggu kaum muslimin sangatlah banyak, dan cukup bagi kita menyebutkan sebagiannya saja, diantaranya:
 

 

Sebab Pertama: Jin bisa melihat kita dan secara umum kita tidak bisa melihat mereka.

Allah تعالى berfirman tentang Iblis dan anak turunnya,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Yang dipandang oleh para pakar tafsir adalah bahwa kata ganti pada firman-Nya “Sesungguhnya dia” itu kembali kepada Iblis, dan kata “para pengikutnya” maksudnya adalah keturunan dan anak-anaknya. Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya sebagaimana daam “Majmu’ Al-Fatawa” (15/7) tentang firman Allah تعالى,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Apakah hal itu umum, tidak ada seorangpun yang melihat mereka, ataukah ada sebagian yang melihat mereka dan sebagian tidak?

Maka Syaikhul Islam رحمه الله menjawab dengan berkata: “Yang ada dalam Al-Qur’an adalah bahwa mereka (jin) melihat manusia dimana manusia tidak melihat mereka, dan ini benar, mengharuskan bahwa mereka melihat manusia pada saat manusia tidak melihat mereka. Dan bukan maksudnya bahwa tiada seorangpun dari manusia yang melihat mereka, bahkan terkadang orang-orang shalih dan yang tidak shalih bisa melihat mereka, hanya saja mereka tidak melihat mereka pada setiap saat.”.

Maka dengan sebab bisanya mereka melihat kita dan kita tidak melihat mereka, mereka lancang untuk mengganggu kita dan mudah bagi mereka. Dan orang yang terjaga dari gaangguan mereka adalaah orang yang dijaga oleh Allah.

Sebab Kedua: Banyak syubhat (kerancuan) dan syahwat (hawa nafsu).

Jika makin banyak syubhat dan syahwat pada diri kaum muslimin maka makan banyak pula mereka mengkuti waswas syaithan, dan menerima tipu daya syaithan pada mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

“Sesungguhnya banyaknya waswas itu sesuai dengan banyaknya syubhat dan syahwat, dan penggantungan kalbu kepada yang dicintai yang kalbu bermaksud untuk mengejarnya, serta kepada yang dibenci yang kalbu bermaksud untuk menolaknya”.

Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk berbekal dengan pemahaman terhadap agama ini, sehingga akalnya mendapatkan cahaya, jiwanya tersucikan, dadanya telapangkan kepada kebenaran, dan kalbunya tertenangkan. Kalau tidak maka apakah engkau menyangka akan selamat dari banyaknya syubhat dan syahwat yang merupakan tempat gembalaan yang subur bagi syaithan.

Sebab Ketiga: Lalainya kalbu dari berdzikir kepada Allah تعالى.

Allah تعالى berfirman,

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ** وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan barangsiapa berpaling dari ajaran Rabb Yang Maha Pemurah, Kami adakan syaithan (yang menyesatkan), maka syaithan itu menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaithan-syaithan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zukhruf: 36-37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata sebagaimana dalam “Majmu’ Al-Fatawa” (4/34):

“Dan syaithan itu memberikan bisikan dan menghindar. Jika seorang hamba mengingat Rabbnya maka syaithan itu mundur, dan jika ia lalai dari mengingat-Nya maka syaithan menggodanya. Oleh karenanya meninggalkan mengingat Allah تعالى menjadi sebab dan permulaan akan munculnya keyakinan yang bathil dan keinginnan yang rusak dalam kalbu. Dan termasuk mengingat Allah تعالى adalah membaca Al-Qur’an dan memahaminya.”

Dan beliau juga berkata dalam sumber yang sama (10/399):

“Sesungguhnya yang mencegah syaithan untuk masuk ke dalam kalbu anak Adam عليه السلام adalah karena padanya ada dzikir kepada Allah تعالى yang Allah تعالى mengutus para rasul-Nya dengan dzikir tersebut. Jika kalbu itu kosong dari dzikir kepada Allah maka syaithan akan menguasainya.”

Sebab Keempat: Gangguan manusia terhadap jin dan menyakiti mereka, entah secara sengaja atau tanpa sengaja.

Termasuk yang menyebabkan kelancangan jin mengganggu kaum muslimin adalah adanya gangguan kaum muslimin terhadap mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265) dimana beliau berbicara tentang sebab masuknya jin ke dalam diri manusia:

“Dan terkadang manusia itu menyakiti mereka jika dia kencing dan mengenai mereka, atau menyiramkan air panas pada mereka atau manusia membunuh sebagian jin atau selain itu semua yang merupakan bentuk-bentuk gangguan. Ini merupakan jenis kerasukan yang paling keras dan betapa banyak orang yang kerasukan ini mereka bunuh.”

Dan betapa banyak kaum jin itu yeng memulai menzhalimi kaum muslimin dalam hal ini. Karena mereka menyamar dalam bentuk yang bisa dilihat oleh manusia seperti menjadi ular, ular besar, anjing, kucing dan sebagainya sehingga seorang muslim takut darinya, dan menyangkanya ia adalah makhluk yang ia kenal lalu ia bersegera untuk memukulnya atau membunuhnya sesuai dengan apa yang ia lihat, bukan karena ia ingin menyakiti jin. Dan syari’at islam telah mengijinkan untuk membunuh makhluk yang mengganggu dari sekian makhluk yang disebutkan dan makhluk yang memiliki hukum yang sama dengannya tanpa harus memberi peringatan terlebih dahulu, kecuali ular yang berada dalam rumah maka harus dingatkan dahulu tiga kali atau tiga hari.

Dan juga sebagian jin itu tinggal di tempat sampah dan belakang rumah dan manusia tidak melihatnya, lalu mereka melemparkan segala sesuatu yang lalu mengenai jin sehingga jin melakukan balas dendam.

Intinya: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk sengaja mengganggu dan menyakiti jin. Dan hendaknya ia meminta tolong kepada Allah untuk mengatasi mereka jika mereka mengganggunya.

Sebab Kelima: Terjadi dari jalan jatuh cintanya jin laki-laki atau wanita terhadap manusia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “An-Nubuwat” (399):

“Jin itu terkadang jatuh cinta pada manusia sebagaimana manusia jatuh cinta pada manusia, dan sebagaimana seorang pria mencintai wanita, dan wanita mencintai pria. Maka ia merasa cemburu padanya dan ia mendukung cemburunya itu dengan segala sesuatu. Dan jika yang dia cintai bersama yang lain maka terkadang dia menghukumnya dengan membunuhnya dan selainnya. Dan semua ini nyata terjadi.”

Dan beliau juga berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265): “Demikian juga wanita kaum jin. Di antara mereka ada yang menginginkan dari manusia yang ia bantu sesuatu yang diinginkan wanita kaum manusia dari para lelaki. Dan ini banyak terjadi pada lelaki dan wanitanya kaum jin. Banyak lelaki kaum in mendapatkan dari wanita kaum manusia perkara yang didapatkan manusia, dan terkadang perkara itu dilakukan pada kaum lelakinya.”

Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk selalu berusaha menekuni dzikir syar’i, terkhusu yang terkait dengan dzikir masuk kamar mandi dan dzikir ketika berhubungan badan. Karena bertelanjang tanpa diawali dengan dzikir kepada Allah merupakan sebab jatuh cintanya jin kepada manusia.

Sebab Keenam: Terjadi sebagai bentuk mempermainkan manusia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265) dimana beliau berbicara tentang kelakuan jin mempermainkan manusia: “Dan terkadang pengaruh gangguan jin itu terjadi sebagai bentuk memperamainkan manusia sebagaimana orang-orang bodohnya manusia mempermainkan (orang asing) yang sedang menempuh perjalanan.” Semoga Allah mencukupi par hamba-Nya dari kejelekan orang-orang bodoh tersebut dengan mengembalikan mereka pada jalan-Nya, berdoanya mereka kepada-Nya dan ibadah mereka kepada-Nya.

Sebab Ketujuh: Sebagian jin mengganggu manusia untuk memberi pelajaran pada mereka akibat mereka melakukan maksiat dan kebid’ahan.

Terjadi bahwa sebagian jin yang menyamar jadi manusia yang muslim mengabarkan bahwa sebabnya dia merasuki seorang muslim adalah karena muslim ini pelaku maksiat dan kebid’ahan. Dan makna dari hal ini adalah bahwa kaum jin itu terdorong rasa cemburu mereka terhadap islam maka mereka melakukan gangguan terhadap pelaku maksiat dan bid’ah dari kaum muslimin.

Dan sebenarnya hal ini tidaklah dibenarkan dari dua sisi:

Dari sisi bahwa masuknya jin ke tubuh seorang muslim itu haram.

Dari sisi bahwa para jin itu memperlakukan para pelaku maksiat dan kebid’ahan bukan dengan perlakuan

Maka tidak boleh bagi mereka memukul pelaku maksiat dan kebid’ahan tidak pula mengganggu mereka dengan jenis apapun, bahkan tidaklah jin berhak untuk menasehati kaum muslimin, karena nasehat mereka kepada kaum muslimin bisa membuat mereka ketakutan.

Secara garis besar: kebanyakannya terjadinya perlakuan ini terhadap kaum muslimin adalah berasal dari kaum jin yang bodoh meskipun mereka itu muslim.

Sebab Kedelapan: Terjadi sebagai bentuk ujian dan cobaan.

Allah memiliki hikmah dalam perkara yang Dia takdirkan dan tentukan atas seorang hamba yang shalih berupa pengaruh jin padanya, sebagaimana pengaruh syaithan kepada nabi Allah Ayyub عليه السلام.

Diterjemahkan oleh

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/11/11/sebab-sebab-jin-dan-syaithan-mengganggu-manusia/#comment-389

Setan, Makhluk Allah yang Ghaib

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dari unsur yang berbeda dengan manusia. Manusia yang awal (Nabi Adam ‘alaihissalam) diciptakan dari tanah liat yang dibentuk, adapun anak turunannya diciptakan dari setetes air yang hina (mani). Adapun jin diciptakan dari api. Setan adalah dari bangsa jin yang jahat/ kafir, karena di antara jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir sebagaimana manusia. Setan seperti halnya bangsa jin lainnya, merupakan makhluk Allah yang ghaib, artinya tidak tampak oleh mata kasar manusia. Mereka dapat melihat manusia namun tidak sebaliknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Dia (iblis) dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) dari arah yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Mujahid rahimahullahu dan Qatadah rahimahullahu berkata:
“(Bala tentara Iblis) adalah jin dan para setan.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 7/120, Ma’alimut Tanzil 2/129)

Setelah menyebutkan ayat: مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ, Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata:
“Sebagian ulama berkata: ‘Dalam ayat ini terdapat dalil/ bukti bahwa jin itu tidak dapat dilihat’. Namun ada pula yang berpendapat mereka bisa dilihat. Karena jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak memperlihatkan mereka, Allah akan menyingkap (tabir yang menghalangi untuk melihat mereka) jasad-jasad mereka sehingga terlihat oleh mata. An-Nahas berpendapat dengan ayat ini bahwa jin tidak bisa terlihat mata manusia kecuali di masa kenabian sebagai bukti atas kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mereka dengan bentuk penciptaan yang tidak bisa terlihat. Mereka hanya bisa dilihat bila mereka berubah ke bentuk lain (bukan bentuk aslinya).” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 7/120)

Al-Imam Asy-Syafi`i rahimahullahu bahkan menyatakan dalam Manaqib-nya:
“Siapa yang mengaku melihat jin, maka kami batalkan persaksiannya (tidak menerima persaksiannya, –pent.) terkecuali bila ia seorang nabi.”

Al-Hafizh rahimahullahu mengomentari:
“Ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i ini ditujukan kepada orang yang mengaku-aku melihat jin dalam bentuknya yang asli. Adapun kalau ada yang mengaku melihat jin setelah berubah ke berbagai bentuk hewan misalnya, maka tidaklah dianggap cacat persaksiannya. Sungguh banyak dan tersebar (mutawatir) berita-berita yang mengabarkan perubahan jin tersebut ke berbagai bentuk.” (Fathul Bari, 6/414)

Mungkin terlintas pertanyaan di benak kita, bagaimana mereka bisa berpindah ke bentuk lain atau berubah dari bentuk aslinya? Dalam hal ini ada atsar dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah rahimahullahu dan dishahihkan sanadnya oleh Al-Hafizh rahimahullahu dalam Fathul Bari (6/414): “Sesungguhnya Ghilan2 disebut di sisi ‘Umar, maka ia berkata: “Sungguh seseorang tidak mampu untuk berubah dari bentuknya yang telah Allah ciptakan. Akan tetapi mereka (para setan) memiliki tukang sihir seperti tukang sihir kalian. Maka bila kalian melihat setan itu, kumandangkanlah adzan.”

Adapun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mustahil pernah melihat mereka dalam bentuk aslinya, sebagaimana beliau pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya sebanyak dua kali. (Ruhul Ma’ani, 5/140)

Ulama ada yang mengatakan bahwa melihat setan dalam bentuk aslinya sebagaimana diciptakan merupakan kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun kalangan manusia selain beliau tidak dapat melihat setan dalam wujud aslinya, dengan dalil firman Allah: إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ. (Fathul Bari, 1/718)

Namun ada pula yang berpendapat, bisa saja selain Nabi melihat setan bila Allah berkehendak untuk menampakkannya dalam wujud aslinya seperti kepada hamba-hamba-Nya yang diberi karamah3, karena ayat مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ bisa dipahami dengan dua makna:

Pertama: Dari sisi bahwa kalian tidak dapat melihat jasad-jasad mereka. Sehingga maknanya, iblis dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) sementara kalian tidak dapat melihat mereka.

Kedua: Dari sisi bahwa kalian tidak mengetahui makar dan fitnah mereka. Sehingga maknanya, iblis dan bala tentaranya melihat kalian (selalu mengamati kalian) sementara kalian tidak mengetahui/ menyadari makar dan fitnah mereka. (Ruhul Ma’ani 5/141, An-Nukat wal ‘Uyun/Tafsir Al-Mawardi 2/216).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata:
“Jin itu ada, dan terkadang sebagian manusia dapat melihat mereka. Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ maka pemahamannya dibawa pada keumuman (yakni umumnya manusia memang tidak dapat melihat jin/ setan, –pent.), karena bila melihat mereka (jin/ setan) itu suatu hal yang mustahil, niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengatakan apa yang beliau katakan bahwa beliau melihat setan tersebut dan bahwa beliau berkeinginan untuk mengikat setan itu agar dapat disaksikan para shahabat beliau seluruhnya dan bisa dipermainkan anak-anak kecil di Madinah.

Sementara Al-Qadhi berkata:
‘Dikatakan bahwa melihat jin dalam bentuk aslinya itu tidaklah mungkin berdasarkan zahir ayat, kecuali para Nabi –semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada mereka semuanya– dan juga orang yang diberi kemampuan di luar kebiasaan. Manusia hanya bisa melihat jin dalam bentuk yang bukan aslinya (bentuk penyamaran) sebagaimana keterangan yang disebutkan dalam atsar.’

Namun aku (Al-Imam An-Nawawi) katakan:
Ini hanyalah sekedar dakwaan semata, dikarenakan bila dalil yang menjadi sandarannya tidak shahih maka dakwaan ini tertolak.

Al-Imam Abu Abdillah Al-Mazari berkata:
‘Jin itu adalah jasad-jasad yang halus. Maka dimungkinkan ia berwujud dengan satu bentuk yang bisa diikat4, kemudian ia tertahan untuk kembali ke bentuk aslinya hingga ia bisa dipermainkan, dan sesungguhnya hal-hal keluarbiasaan memungkinkan yang selain itu’.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 5/32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:
“Yang ada dalam Al-Qur`an, para jin itu melihat manusia sementara manusia tidak melihat mereka. Inilah yang benar, di mana mereka dapat melihat manusia dalam keadaan manusia ketika itu tidak melihat mereka. Namun ini tidaklah menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan manusia yang dapat melihat mereka, bahkan sebaliknya terkadang mereka terlihat oleh orang-orang shalih bahkan juga oleh orang yang tidak shalih, akan tetapi manusia tidak dapat melihat mereka dalam seluruh keadaan.” (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyyah, 8/8)

Batilnya Pengakuan/ Perbuatan “Pemburu Hantu”
Menurut kabar yang kami terima, sekarang ini sedang marak acara yang berbau mistik di televisi, baik dalam bentuk film/ sinetron maupun semacam show/ pamer kemampuan ghaib. Tentunya para pemburu hantu –dukun atau disebut paranormal untuk menutupi kedoknya–, mendapat peran penting dalam acara-acara tersebut. Melalui acara mereka, setan atau hantu –menurut istilah mereka– dipublikasikan. Digambarkan bahwa paranormal adalah orang-orang sakti yang dapat memburu, menangkap dan membuat setan bertekuk lutut. Bila ada tempat yang berhantu maka didatangkanlah paranormal ke tempat tersebut.

Banyak hal yang nampak jelas kabatilannya dari praktek para pemburu hantu. Di antaranya, ada seseorang yang melukis jin yang diburu, dalam keadaan matanya tertutup. Terkadang mereka ditanya oleh penonton di rumah tentang penyakit mereka, dan mereka bisa mengetahui si penanya yang menanyakan sakitnya. Juga kemampuan mereka untuk memasukkan jin ke dalam tubuh manusia, dan kemampuan mereka membuat orang bisa melihat jin. Semua tidak lain terjadi dengan bantuan jin juga, walaupun mereka tentunya menggunakan bacaan-bacaan nampaknya Islami tapi kenyataannya bukan.

Namun untuk mencapai kemampuan yang seperti itu, tentu melalui proses dan tahapan yang mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat, baik dalam syaratnya, atau tata caranya, atau bacaan-bacaan yang tidak dimengerti maknanya yang sangat mungkin mengandung hal yang menyelisihi hukum Islam. Oleh karena itu, para ulama melarang bacaan-bacaan yang seperti itu. Dan cukuplah untuk mengetahui kebatilan semua itu, bahwa para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, generasi terbaik umat ini setelah shahabat, yang merupakan wali-wali Allah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengklaim hal-hal tersebut. Wallahu a’lam.

Ahlul haq (orang yang berjalan di atas kebenaran), mengambil faedah dan beberapa pelajaran dari kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tersebut. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu menyebutkan beberapa faedahnya, di antaranya:

1. Terkadang setan mengetahui perkara yang bermanfaat bagi seorang mukmin.
2. Orang kafir, sebagaimana setan (yang juga kafir), terkadang sebagian ucapannya jujur kepada seorang mukmin. Namun kejujurannya itu tidak menjadikannya beriman.
3. Setan memiliki sifat suka berdusta, dan dia adalah seorang pendusta yang sebagian besar ucapannya tidak dapat dipercaya.
4. Setan terkadang bisa menyerupai bentuk tertentu sehingga memungkinkan untuk melihatnya. Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Dia (iblis) dan bala tentaranya melihat kalian dari arah yang kalian tidak dapat melihat mereka,” hal ini khusus bila setan itu berada dalam rupa aslinya sebagaimana ia diciptakan. Dengan demikian mereka dapat menampakkan diri kepada manusia dengan syarat yang telah disebutkan.
5. Jin memakan makanan manusia, dan mereka bisa mengambil makanan yang tidak disebutkan nama Allah pada makanan tersebut. Mereka pun dapat berbicara dengan bahasa manusia.
6. Setan mencuri dan menipu.
7. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan perkara ghaib oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga beliau mengetahui bahwa yang mencuri makanan zakat yang dijaga oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu selama tiga malam berturut-turut adalah setan. (Fathul Bari, 4/616-617)

Setan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Ingin Mengikatnya di Tiang Masjid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengabarkan:

إنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ مِنْهُ5، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوْا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: {رَبِّ اغْفِرْلِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ} قال رَوْحٌ: فَرَدَّهُ خَاسِئًا

“Sesungguhnya Ifrit6 dari bangsa jin semalam mendatangiku dengan tiba-tiba (atau melompat di hadapanku) –atau Nabi mengucapkan kalimat yang semisal ini– untuk memutus shalatku. Maka Allah menjadikan aku dapat menguasainya. Semula aku ingin mengikatnya pada salah satu tiang masjid, sehingga di pagi hari kalian semua bisa melihatnya. Namun aku teringat ucapan saudaraku Sulaiman, ia pernah berdoa: “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan (kekuasaan) yang tidak pantas didapatkan oleh seorang pun setelahku7.” Rauh (perawi hadits ini) berkata: “Nabi pun mengusirnya dengan hina.”8

Abu Ad-Darda` radhiallahu ‘anhu pernah pula mengabarkan:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk mengerjakan shalat. Kami mendengar beliau berkata: “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Kemudian berkata tiga kali: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Beliau membentangkan tangannya seakan-akan menangkap sesuatu. Ketika beliau selesai shalat, kami bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tadi mendengarmu mengucapkan sesuatu di dalam shalat yang sebelumnya kami belum pernah mendengar engkau mengucapkannya dan kami melihatmu membentangkan tanganmu.” Beliau menjawab keheranan para sahabatnya dengan menyatakan:

إِنَّ عَدُوَّ اللهِ إِبْلِيْسَ، جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي. فَقُلْتُ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْكَ، ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ قُلْتُ: أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللهِ التَّامَّةِ، فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ، ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ أَرَدْتُ أَخْذَهُ، وَاللهِ! لَوْلاَ دَعْوَةُ أَخِيْنَا سُلَيْمَانَ لأَصْبَحَ مُوْثَقًا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ

“Sesungguhnya musuh Allah, Iblis, datang dengan bola api yang hendak dia letakkan pada wajahku. Aku katakan: “Aku berlindung kepada Allah darimu”, tiga kali. Kemudian aku berkata: “Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna yang pantas untuk engkau dapatkan”, tiga kali. Lalu aku ingin menangkapnya. Demi Allah, seandainya bukan karena doa saudara kami Sulaiman niscaya ia menjumpai pagi hari dalam keadaan terikat hingga dapat dipermainkan oleh anak-anak Madinah.”9

Dari dua hadits di atas, dapat kita pahami bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan maksud beliau untuk menangkap setan yang menganggu dan ingin mencelakakan beliau ketika shalat, dengan alasan beliau teringat dengan doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Kita ketahui, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menundukkan para jin dan setan kepada Sulaiman sehingga mereka semua tunduk patuh kepada perintah Sulaiman, sebagaimana dalam ayat:

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ. وَالشَّيَاطِيْنَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ. وَآخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِي اْلأَصْفَادِ

“Kemudian Kami tundukkan untuknya (Sulaiman) angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja dia kehendaki. Dan Kami tundukkan pula untuknya setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Demikian pula setan lain yang terikat dalam belenggu.” (Shaad: 36-38)

Menggabungkan dua hadits di atas dengan kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang dapat menangkap setan ketika setan mencuri makanan zakat yang dijaga Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau ingin membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin dianggap rumit. Maka jawaban atas kerumitan ini dipaparkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu sebagai berikut:

“Dimungkinkan setan yang ingin diikat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah tokoh/ pimpinan para setan, sehingga bila berhasil menguasainya berarti dapat menguasai setan yang lainnya. Bila seperti ini, dapat menyamai apa yang diperoleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berupa penundukan para setan untuk memenuhi keinginannya dan mengambil perjanjian dari mereka. Sementara yang dimaksud dengan setan dalam kisah Abu Hurairah bisa jadi setan yang merupakan qarin10 Abu Hurairah, atau setan lainnya, yang bukan tokoh/ pimpinannya. Atau bisa jadi setan yang ingin diikat oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampak di hadapan beliau dengan sifat aslinya sesuai dengan penciptaannya, seperti halnya setan-setan yang berkhidmat/ mengabdi pada Sulaiman ‘alaihissalam berada dalam bentuk aslinya. Adapun setan yang dilihat Abu Hurairah berada dalam wujud manusia, sehingga memungkinkan bagi Abu Hurairah untuk menangkapnya, dan tidak ada unsur penyerupaan dengan kerajaan Sulaiman. (Fathul Bari, 9/ 71-72)

Sebagai penutup, kami himbau kaum muslimin secara umum agar tidak tertipu dengan acara para dukun alias paranormal berikut ocehan mereka. Dan jangan memberikan decak kagum pada mereka karena menganggap mereka memiliki kesaktian dengan keluarbiasaan yang dipamerkan. Yakinlah, mereka itu di atas kebatilan. Mereka berdusta, dan mereka adalah kawan-kawan setan sang pendusta besar! Bacakan ayat Kursi di hadapan mereka (diruqyah) agar kekuatan palsu mereka mental dan lumpuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Bisa jadi ucapan ini mudraj (selipan) dari ucapan sebagian perawinya. Perkataan ini dibawakan untuk meminta uzur kenapa Abu Hurairah melepaskan pencuri itu pada kali yang ketiga, yaitu karena ia –sebagaimana shahabat yang lain- begitu bersemangat mendapatkan pengajaran/ pengetahuan yang bermanfaat. (Fathul Bari, 4/615-616)
2 Ghilan atau Ghul adalah setan yang biasa menyesatkan musafir yang sedang berjalan di gurun. Mereka menampakkan diri dalam berbagai bentuk yang mengejutkan dan menakutkan sehingga membuat takut musafir tersebut. (Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 1/569)
3 Karamah adalah kejadian di luar kebiasaan, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jalankan lewat tangan salah seorang wali-Nya dalam rangka membantunya pada perkara agama atau dunia, namun tidak disertai dengan nubuwwah (kenabian) bagi wali tersebut. Karena bila disertai dengan nubuwwah berarti mu’jizat bukan karamah. Seperti kisah Ashabul Kahfi yang tertidur di gua selama ratusan tahun sementara tubuh mereka tetap terjaga, tidak rusak binasa. Seperti pula kisah Maryam, ibu Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, yang mendapatkan rizki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa buah-buahan sementara ia beribadah dalam mihrabnya sehingga membuat heran Nabi Zakaria ‘alaihissalam dengan pernyataannya: أَنَّى لَكِ هذَا (Dari mana engkau mendapatkan buah-buahan ini (wahai Maryam).) (Ali ‘Imran: 37) (Syarhul ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Muhammad Khalil Harras, hal. 253)
4 Lihat hadits tentang kisah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengikat setan di tiang masjid
5 Dalam riwayat lain ada tambahan: فَذَعَتُّهُ (aku pun mencekiknya).
6 Ifrit adalah kalangan jin yang sombong, membangkang, durhaka, lalim lagi jahat (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 5/32).
7 Al-Khaththabi berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan pengikut Nabi Sulaiman dapat melihat jin-jin dalam bentuk dan penampilan mereka ketika jin-jin ini beraktivitas. Adapun tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ,

maka, kata beliau, yang dimaukan adalah mayoritas atau dominannya keadaan anak Adam (manusia), mereka tidak dapat melihat jin.
8 HR. Al-Bukhari no. 461, 1210, 3284, 3423, 4808 dan Muslim no. 1209 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga.
9 HR. Muslim no. 1211
10 Setan yang selalu menyertai dan mendampingi anak Adam dan setiap anak Adam ada qarin yang menyertainya.

Sumber : http://www.asysyariah.com. Kategori : Hadits, Judul asli : Batilnya “Pemburu Hantu” Penulis :  Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari,

(Dengan pengurangan pembukaan hadits kisah setan pencuri zakat yang juga telah dipblikasikan dirubrik ini sebelumnya)

%d blogger menyukai ini: